Seminggu Menjalani Karantina di Jakarta

Hari kedua di Jakarta, tetap aja duduk manis didepan laptop dalam kamar. Ditemani berbotol-botol aqua dan berbagai macam camilan. Kalau pegal, jalan2 sebentar ke teras, atau merebahkan diri di kasur. Inilah godaan terbesar kalau kerja dalam kamar hotel, kasur yang memanggil-manggil untuk ditiduri.

Yah, seminggu ini saya bakal berada di Jakarta (17 – 24 Mei) tepatnya di hotel Patrajasa, kompleks pertamina learning centre di daerah Simprug. Jadi yang diJakarta dan pengen ketemu silakan merapat ke sini (sok terkenal banget gpp lah hehehe), soalnya saya nggak bisa kemana-mana, tapi klo dikunjungi gpp.

Ngapain saya di Jakarta?

Ada kerjaan dikit. Membantu mensukseskan program kemdikbud untuk masalah Uji Kompetensi Guru (UKG). UN kemarin ada masalah dan bikin citra kemdikbud jadi jelak, ditambah kurikulum 2013 juga masih ada beberapa masalah plus jadi pertentangan disana-sini. Nah, jangan sampai UKG ini nantinya juga bermasalah. Makanya saya dan beberapa teman dari Malang didatangkan ke Jakarta ini untuk membantu digitalisasi soal2 UKG.

Kerjaan saya, convert soal2 yang telah disusun dari word ke excel. Memisahkan gambar-gambar yang ada.  Lalu menyesuaikan antara kisi-kisi dan soal, memberikan kode untuk tiap soal. Mengubah format file ke .csv dan memasukkan ke sistem ujian online. Sepertinya gampang, tapi dibutuhkan ketelitian dan kecermatan. dan satu lagi KESABARAN. Apalagi jika paket soal lebih dari satu dan disusun oleh orang yang berbeda. Harus membaca satu-satu untuk menyesuaikan dengan kisi-kisinya.

Lokasi kerjanya di kamar aja. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Abis subuh dah asyik di depan laptop. Untuk akses ke server, pakai jaringan internet.

Klo pakai jaringan internet, kenapa harus ke Jakarta? Apa dari Malang nggak bisa?

Bisa, sangat bisa. Tapi klo dikerjakan diMalang, pasti banyak gangguannya. Dan ngerjainnya hanya di jam kantor. Dari rumah nggak mungkin bisa, lebih enak main sama anak-anak. Itulah makanya kami dikarantina di Jakarta ini. Biar fokus, kerja siang malam, supaya segera selesai. Karena tanggal 27 harus sudah bisa diakses oleh para guru di seluruh Indonesia. Ini aja udah banyak yang protes dari para guru, karena jadwal pelaksanaan UKG mundur dari rencana semula.

Semoga aja kerjaan ini bisa selesai tepat waktu, syukur2 sebelum jumat udah selesai, jadi sempat jalan2 di Jakarta.

 

Petir

Masih melanjutkan membahas buku supernova karangan Dee alias Dewi Lestari, kali ini masuk buku yang ketiga, yang berjudul Petir. bagi yang ketinggalan, bisa langsung klik ke buku pertama dan buku kedua

petir

Petir, membahas perjalanan hidup seorang anak perempuan bernama Elektra, yang dibesarkan hanya oleh ayahnya. Elektra mempunyai seorang kakak perempuan bernama Watti. Elektrik dan watt, mungkin ayah mereka terinspirasi dari dua istilah ini dalam menamai kedua putrinya, karena keseharian sang ayah memang berhubungan dengan listrik. Elektra merasa selalu berada di bawah bayang-bayang sang kakak, hingga membuat dia kadang merasa minder dengan dirinya sendiri. Bahkan dengan namanya sendiri pun, dia sering takut untuk menyebutkannya, takut jika ditertawakan orang. Hingga ia lebih sering memperkenalkan dirinya dengan sebutan Etra.

Kematian ayahnya, yang disusul kepergian watti ke papua karena mengikuti sang suami, membuat elektra jadi tinggal sendirian di Bandung. Rumah “kuno” bangunan jaman belanda yang memang tetap dipertahankan oleh ayahnya. Kegiatan sehari-harinya adalah tidur siang dan makan. Makanan sehari-harinya adalah telur, karena itu yang bisa dimasaknya, dan itu yang paling murah menurutnya :) (Jadi ingat jaman jadi mahasiswa dulu, makan sehari dua kali, lauknya sebungkus mie dibagi 2. Setengah dimasak pagi hari, setengahnya dimasak sore hari)

Kehidupannya berubah setelah dia mengenal dunia maya. Chat dan ngobrol dengan banyak kenalan baru, yang tak saling tahu. Begadang semalaman di warnet (klo malam kan tarif warnet lebih murah), kalau siang tidur, tabungan makin menipis, namun dia menikmatinya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membeli seperangkat komputer sendiri. Niatnya cari yang paling murah, namun mata tertambat pada barang mahal, ditambah rayuan sang penjual, jadilah komputer 17 juta berpindah ke rumahnya.

Dari satu komputer itu, timbullah niat untuk punya usaha sendiri. Dicarilah partner yang cocok. Dan jadilah warnet dan juga rental PS di rumahnya yang diberi label Elektra Pop.  Elektra kini telah jadi pengusaha.

Ternyata, Elektra juga punya kemampuan lebih. Beberapa kali keanehan terjadi pada tubuhnya, berhubungan dengan listrik. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Ibu Sati. Dibawah bimbingan Ibu Sati, Elektra belajar untuk mengendalikan aliran listrik dalam tubuhnya lalu menyalurkannya pada berbagai macam benda. Setelah dirasa mahir, jadilah elektra seorang penyembuh dengan memanfaatkan aliran listrik.

Kemampuannya menjadi penyembuh inilah yang pada akhirnya nanti akan mempertemukannya dengan tokoh Bodhi (tokoh utama dalam buku AKAR). Tapi belum ketemu dalam buku ini, baru terbuka jalan untuk ketemu. Oleh Dee, sepertinya ditahan dulu supaya mereka nggak ketemu di buku ini :)

Yah, segini dulu review tentang Petir. Nanti dilanjutkan lagi ke buku ke empatnya, PARTIKEL.

[Indosat Super Wi-fi] Koneksi Lancar Diklat Sukses

Awalnya saya nggak ngerti apa itu Indosat Super Wi-fi dan apa manfaatnya bagi saya. Dikantor ada koneksi internet, di rumah saya jarang online, kalaupun perlu online, saya bisa gunakan blackberry saya.  BB saya pakai kartu IM3, dan pada saat mendaftar untuk paket BB, saya pun memperoleh sms yang isinya saya memiliki hak akses untuk menggunakan indosat super wi-fi secara GRATIS. Saya diberikan username dan password. Nah, pada saat itu saya pikir, saya nggak akan pernah pakai user dan password ini. Mau dipakai dimana coba? Di Malang, saya nggak tahu lokasi-lokasi yang ada fasilitas ini, saya juga termasuk orang yang nggak begitu suka keluar rumah kalau tak ada tujuan yang jelas. Jadi pelan-pelan sms yang berisi user dan password ini pun terlupakan, walau masih ada di inbox saya.

Suatu hari diawal April, saya dipanggil pimpinan. Ditawari, atau lebih tepatnya diperintahkan, untuk bertugas ke Bandung. Nasibnya bawahan kan harus ngikut pimpinan, jadilah saya iyakan. Segera ngurus surat tugas dan juga tiket buat ke Bandung. Jadilah tanggal 4-6 April saya ke Bandung, tepatnya di hotel Pesona Bamboe, Lembang.

Disana, saya bertugas sebagai salah satu fasilitator diklat “Pemanfaatan TIK untuk media pembelajaran” dengan peserta guru-guru TIK SMP se propinsi Bandung. Berhubung yang diberi pelatihan adalah guru TIK, saya hanya memberikan sedikit review saja terhadap materi yang sudah disiapkan, selebihnya adalah penugasan pada para peserta. Nah, bentuk penugasannya adalah peserta harus membuat media pembelajaran yang menggabungkan beberapa jenis media, baik berupa teks, gambar, animasi, suara maupun video. Pastinya banyak peserta yang tidak memiliki file-file yang dibutuhkan untuk diintegrasikan ke dalam satu media pembelajaran. Maka alternatif terbaik adalah download. Beberapa peserta membawa modem, namun lebih banyak yang tidak membawa, sementara panitia tak mempersiapkan kebutuhan untuk koneksi internet.

Saya berpikir, masa hotel sebesar ini nggak ada fasilitas hotspot? Jadi, saya coba aja aktifkan koneksi wireless laptop, cari-cari sinyal access point dan ketemu SSID “SuperWiFi-SIM”. Langsung deh terkoneksi, tanpa perlu passwod. Lalu saya buka aplikasi browser, dan saya diminta memasukkan user dan password. Sampai disini saya masih belum ngeh klo saya sudah punya user dan password. Bertanyalah saya pada petugas hotel, apa user dan passwordnya. Sama petugas hotel dibilangin kalau mau pakai SuperWiFi-SIM harus pakai kartu dari Indosat. Barulah saya teringat sms dari 363 yang berisi user dan password. Saya masukkan user dan password dan mulailah saya berselancar dengan LANCAR di dunia maya. OK, saya sudah bisa akses internet, lalu bagaimana dengan peserta? Apakah user dan password ini bisa dipakai di lebih dari satu komputer. Saya minta saja salah satu peserta untuk mencoba menggunakan user dan password saya, dan ternyata tidak bisa.

Saya lalu menghubungi panitia dan mengatakan bahwa peserta butuh koneksi internet yang bagus dan tidak semua memiliki modem. Ada koneksi yang bagus denganIndosat Super Wi-Fi , namun tak semua peserta punya user dan password.

Tak lama setelah saya melapor, salah satu panitia masuk ke ruang kelas. Membawa 5 buah kartu perdana IM3 untuk dibagikan pada peserta. Padahal pesertanya ada 52 orang. Ya, jadilah dibentuk kelompok-kelompok. Dan ternyata cukup banyak juga peserta yang pakai kartu indosat di handphonenya. Lalu panitia menjelaskan cara untuk mendapatkan user dan password supaya bisa akses internet dengan Indosat Super Wi-Fi, yaitu :

  1. kirim SMS ke 363 dengan isi sms SUPERWIFI
  2. tunggu beberapa saat, akan ada balasan dari 363 yang berisi user dan password
  3. koneksikan wireless laptop ke SSID   SuperWiFi-SIM
  4. buka browser
  5. masukkan user dan password
  6. selamat menikmati akses internet super cepat secara GRATIS

Masalah koneksi internet peserta beres. Kini saya tinggal nungguin mereka mengerjakan tugas. Sambil berselancar, akses youtube dan download film anak-anak. Senyum-senyum sendiri membayangkan saat saya pulang nanti, anak-anak pasti senang dioleh-olehi banyak film kartun. Sambil sesekali mengontrol pekerjaan peserta.

Alhamdulillah, peserta juga dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dan inilah beberapa capture gambar media pembelajaran yang berhasil dibuat oleh peserta

bdg1   bdg2

Tiga hari di Lembang, saya puas-puasin akses youtube, baik di kelas disela-sela mengajar mapun saat di kamar. Yah, harap maklum saja, dikantor saya di malang, akses ke youtube di blokir. Alhamdulillah, dengan Indosat Super Wifi saya dan peserta sama-sama senang. Panitia juga senang karena target pelatihan terpenuhi.

 

Akar

Inilah buku kedua dari serial Supernova karangan Dee, yang berjudul Akar. Masih sama dengan buku pertama, sampul buku kedua ini juga didominasi warna hitam.

akar dee

Buku ini menceritakan tentang perjalanan Bodhi, dari sebuah kuil di Lawang hingga menjelajah berbagai negara tetangga. Bagaimana Bodhi yang tak memiliki dokumen kependudukan bisa berjalan-jalan dengan bebas melintas berbagai negara?  Inilah realita yang coba diangkat oleh Dee, bahwa hanya dengan mengeluarkan sekian rupiah, orang yang tadinya tak memiliki dokumen apa-apa, bisa mendapatkan paspor sebagai salah satu sarana untuk melintas perbatasan negara. Begitulah yang dilakukan oleh Bodhi, lewat pertolongan seseorang, dengan mengeluarkan sejumlah uang, maka dia dapat memiliki paspor palsu. Paspor palsu yang bisa selalu lolos saat di kantor imigrasi perbatasan dua negara.

Bodhi menjelajah Thailand, Vietnam, Kamboja. Bodhi bertemu dengan beberapa backpacker, bersahabat dengan mereka, dan mulai meniru cara hidup mereka untuk dapat bertahan di tempat-tempat yang dikunjunginya. Adakalanya dia harus bekerja keras untuk dapat memperoleh uang untuk penyambung hidup. Ada saat dia “bergaya” menjadi turis dan menyewa seorang pemandu.

Pernah pula dia “hampir mati” karena mengalami berbagai kejadian yang membahayakan keselamatan jiwanya. Tertangkap pasukan khmer merah di kamboja, dipaksa bertarung dalam ring melawan orang yang tubuhnya lebih kuat, menginjak ranjau bom.

Lewat salah satu kawan, Bodhi belajar seni membuat tato. Bukan pelajaran yang mudah. Bukan ilmu yang dapat dipelajari dengan cepat.Tak mudah mencari sukarelawan untuk dijadikan bahan praktek, yang bersedia untuk dicoba-coba  ditato tubuhnya.

Sekian jauh dia bepergian, sekian lama dia menjelajah, dia masih tak tahu apa yang dicarinya. Apa yang ingin ditemukannya, dia pun tak tahu. Yang diingat hanyalah pesan gurunya, agar dia tak berdiam terlalu lama disatu tempat, agar dia terus bergerak.

Bagaimana hubungan ceritanya dengan buku pertama? Sampai selesai membaca buku kedua ini, saya masih belum menemukan hubungan kisahnya dengan buku pertama. Barangkali memang dibuku-buku selanjutnya, baru akan saya temukan hubungannya.

Selama membaca buku ini, saya berpikir, sebenarnya yang sedang mencari ini Bodhi ataukah Dee? Dari beberapa artikel yang saya baca, saya kok berkesimpulan kalau riset Dee dalam penulisan buku ini juga mempengaruhi kehidupan Dee. Meditasi dan vegetarian adalah salah satu contohnya. Meski kini Dee mengaku tak sepenuhnya vegetarian karena beberapa alasan

Setiap Keluarga Punya Aturan Sendiri

Senang karena kedua anakku sudah bisa bercerita, mengungkapkan apa yang mereka rasakan, apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar. Sering juga mulai kewalahan ketika mereka terus mengejar dengan kata “kenapa…?” atau “…apa?” Seperti siang tadi, saat aku pulang kerumah dijam istirahat siang.

Cuaca mendung, jadi anak-anak aku biarkan saja bermain diluar. Biasanya klo cuaca panas, anak2 aku minta main di dalam saja, atau klo minta diluar aku suruh main dibawah pohon yang teduh. Anak-anak bermain ditemani si mbak, sementara aku makan. Usai makan, gantian saya temani anak-anak dan si mbak makan serta sholat. Baru keluar sumah langsung tangan saya di gapai babang, lalu mengajak duduk diteras.

“ssssttt….” seperti biasanya klo babang pengen cerita dan nggak ingin ada orang selain saya yang mendengar. Maka dia meletakkan jari telunjuknya di depan mulut. Sebagai isyarat bahwa saya harus diam dan menyimak apa yang akan dikatakannya.

“dd Edo nangis, dimarahkan papanya” Kata babang selanjutnya. Sayup memang aku dengar suara tangisan tetangga kami, yang berjarak 2 rumah. Sayup juga suara lelaki dewasa yang bersuara dengan nada keras.

“Kenapa papanya itu suka malah-malah ya, ma?” Mulai deh muncul pertanyaan susahnya.

“Ya, mungkin dd Edo berbuat salah, jadi kena marah papanya”

“Tapi kan kasian dd edo jadi nangis. Kenapa papanya halus malah ya” Lha kok pertanyaannya diulang lagi. Duh tadi kan udah mama jawab nak.

“Mama nggak tahu kenapa papanya marah. Mungkin dd edo nggak boleh main diluar karena panas”

“Ini kan nggak panas, ma. Lho liat, nggak panas kan?” sambil dia mendemokan melepas sandal lalu berjalan dan menginjakkan kakinya dihalaman.

“hmm… mungkin dd edo disuruh makan dulu, kan ini udah siang”

“Lho, kalo makan itu kan ga boleh sambil malah-malah” Duh, salah tangkap nih anak

“Ato mungkin dd edo disuruh bobok dulu”

“Klo mau bobok itu mimik susu kayak dd, kalo aku minum teh” Biasanya kalau mau tidur, dd ngedot dudu sementara babang ngedot teh.

“Itu kan kalo babang ama dd, klo dd edo kan lain”

Jadilah siang tadi, dengan panjang lebar, dengan sesekali berhenti karena harus memilih kata-kata yang mudah ditangkap maknanya oleh babang, dengan sesekali dipotong pertanyaan babang, dengan sesekali disela teriakan dd yang juga pengen diperhatikan, saya jelaskan bahwa tiap keluarga punya aturan yang berbeda. Mama sama papa ngijinin babang ama dd lari-larian ditaman, tapi orang tua dd edo mungkin melarang. Mama papa belum mau memasukkan babang ke sekolah, sementara mbak chacha sejak seminggu ini udah masuk playgroup. Begitulah, saya buat sedikit perbandingan dengan teman2 bermainnya. Semoga saja babang bisa mengerti.

Siang ini juga, saya seolah kembali diingatkan untuk tidak banyak berkomentar atas apapun perbuatan/keputusan yang diambil para tetangga. Tak perlu mempertanyakan, tak perlu membanding-bandingkan, tak perlu membahas lebih jauh hingga jadi gosip se RT. Biarlah keluargaku begini dan keluarga para tetangga begitu. Tapi bukannya lantas jadi saling acuh. Tegur sapa, berbincang, berdiskusi, silaturahmi tetap perlu dijaga. Yang dicegah adalah mencampuri urusan mereka.

Awalnya Iseng, Malah dapat Banyak ilmu

Tulisan ini masih melanjutkan pengalaman waktu ke Jakarta kemarin. Jadi ceritanya gini…. Jam 2 kan kami dan di Gambir, udah nuker struk dengan tiket KA, sementara Gajayana baru akan berangkat jam 18.20. Duduk bengong aja di ruang tunggu kok ya rasanya kurang afdhol. Udah nyampe Jakarta gitu lho, masa nggak jalan-jalan.

Paginya, karena dan pasti bakal naik KA, aku dah BBM sodara sepupu yang kebetulan juga lagi ada urusan di Jakarta. Sepupu dari suami, sehari-hari tinggal di Bengkulu. Mumpung sama-sama lagi di Jakarta, jadi aku ajak dia ketemuan. Dia nginep di gedung perwakilan kota Bengkulu, di daerah Senen. Jadi, kami buat janjian untuk ketemu di Atrium Senen jam 4 an.

Selesai urusan nuker struk dengan tiket, saya titipkan barang-barang di penitipan tas di Gambir. Ongkosnya 2000 rupiah/jam. Abis itu meluncur ke Atrium, naik ojek. Tukang ojeknya minta 15 ribu, padahal kan deket banget. Aku tawar aja 10 ribu, dianya langsung mau.

Karena masih lama ketemuannya ama sepupu, saya langsung naik ke lantai 3, tujuan utama toko buku Gunung Agung. Ternyata disana lagi ada talkshow, dan masih ada beberapa kursi yang kosong. Lumayan ini bisa buat ngisi waktu. Jadilah saya langsung ikut duduk di bangku peserta. Baru duduk, dah ada mbak-mbak yang ndeketi sambil nyodorin kertas, diminta ngisi daftar hadir. Dapat segelas aqua, lumayanlah.

Talkshownya berjudul “Pengembangan potensi diri melalui pikiran bawah sadar dengan metoda brainwave” Pembicaranya Ferry Fibriandani. Dia menjelaskan bahwa pikiran bawah sadar kita akan menyimpan banyak sekali informasi, dan suatu saat pasti akan digunakan entah secara sadar atau secara refleks karena sudah menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, dia menyarankan untuk selalu memberikan stimulus positif pada pikiran bawah sadar ini. Karena jika pikiran positif, hasilnya pasti baik. Sebaliknya jika pikiran negatif, maka hasilnya pun kemungkinan besar negatif.

Contohnya, saat jalan2 ke mall ketemu pria bule ganteng bergandengan tangan dengan wanita lokal yang wajahnya biasa saja. Biasanya langsung pikirannya jelek, “Ih masih kalah cantik sama aku, kok ya si bule mau ya?….. Gila! lakinya cakep gitu, giliran lihat yang disebelahnya kok jadi eneg” dan mungkin ungkapan2 negatif lainnya. Nah, ubahlah yang demikian itu menjadi suatu penilaian yang positif. Misalnya “si mbak itu pasti pinter bahasa Inggris…. si mbak itu pasti punya inner beauty sehingga menarik hati si bule”

Jadi intinya, mengubah cara pandang kita. Jangan mengedepankan pandangan negatif duluan, tapi carilah sisi-sisi positifnya.

Pada anak-anak, kalau nemui anak melihat TV terlalu dekat, biasanya orang dewasa akan bilang “Jangan dekat-dekat, nanti matanya bisa sakit” Kalimat ini bisa diubah menjadi “Menjauh dari TV yuk dik, sini duduk dipangkuan mama” Jadi minimalisir penggunaan kata ‘jangan… tidak boleh’ Ubahlah menjadi ajakan, bukan lagi larangan.

Saat anak2 asyik dengan mainannya, berbicara sendiri seolah sedang menjadi dalang dari kisah yang dibawakannya, menirukan pembicaraan di tv yang pernah dia lihat, dan tidak menengok saat kita panggil. Jangan langsung meninggikan suara untuk mengulangi memanggil. Justru saat inilah saat yang tepat untuk memberikan stimulus positif pada diri anak. Dekati dia, duduk disampingnya lalu ucapkan “mama sayang sama adek… adek pinter ya… adek kalau selesai main, mainannya dibereskan sendiri ya…” Walau anak tidak menoleh, dan tetap asyik dengan mainannya, jangan berhenti untuk memberikan stimulus positif.

Usai pemaparan, dilanjutkan dengan tanya jawab. Saya termasuk yang mengajukan pertanyaan. Alhamdulillah, yang nanya dapat hadiah. Pas dibuka, isinya buku. Nambah deh koleksi buku saya.

ghost

Menjelang jam 4 sepupu saya datang, pas acara sudah mau selesai. Biasanya kalau abis ikut acara2 kayak gini, setelah ditutup acaranya, saya langsung bubar aja, pergi ninggalin tempat. Tapi sepupu saya malah narik tangan saya “kita foto2 dulu” katanya. Yach, jadi ketularan narsis nih

IMG01550-20130420-1603

Yang masih saya ingat juga dari pemaparan pas talk show kemarin adalah “terapi jepret karet”. Gelang karet dipakai di lengan kita. Setiap kali kita berkata jelek, atau membentak anak-anak, atau punya pikiran jelek terhadap apa saja yang kita temui di jalan, jepret aja pergelangan tangan menggunakan gelang karet tadi. Lakukan konsisten selama sebulan aja. Insyaallah semakin bertambah hari, frekuensi jepretan karet akan semakin jarang.

Kereta Api, Dulu dan Kini

Dulu, jaman abis lulus kuliah dan magang di Jakarta, 2001, aku paling senang kalau ke Jakarta naik kereta api. Kereta api ekonomi Progo, kadang-kadang juga Senja Utama Jogja. Yang paling aku suka kalau naik kereta api adalah jajanannya :) . Walau kadang mengartikan bunyi kereta api sebagai “ojo jajan… ojo jajan…” tapi tetap aja jajanan itu adalah yang paling menarik. Yang paling nggak aku suka adalah banyaknya pengamen. Lagi asyik, melamun, baca, bahkan kadang2 tertidur, eh ada yang colak colek. Ternyata pengamen.

Nah, kemarin 18-20 saya dapat tugas ke Jakarta, masih berkaitan dengan urusan kurikulum 2013. Padahal April udah mau habis, tapi dokumen buat kurikulum masih belum beres juga. Jadi pesimis bakal bisa benar-benar diterapkan tahun ini. Tapi sudahlah, ini urusan pengambil kebijakan, saya sih pelaksana saja. Tulisan ini juga bukan untuk membahas kurikulum.

Pulangnya, kok pengen banget naik kereta api. Kebetulan rombongan dari Malang yang jumlahnya ada 7 juga sepakat pengen naik kereta. Jadilah kami beli tiket kereta api.

Jumat malam, saya telpon ke 021-121. Ini layanan untuk pemesanan tiket. Nyambung ke operator dulu, setelah itu tekan tombol 1, maka terhubung deh ke petugas customer service. Pas bilang mau pesan tiket buat besok, langsung di tanya “Sudah disiapkan identitas semua calon penumpang”. Jadilah masih sambil telpon saya kasih kode ama teman2 buat keluarin KTP masing-masing. Semua siap baru deh saya bacakan nama dan no ktp kami satu persatu. Si mas CS nya mengkonfirmasi dengan mengeja nama kami, satu huruf demi satu huruf. Ribet banget dan jadi lama telponnya.

Empat orang sudah saya bacakan nama dan no ktp nya. Lalu di proses, saya dikasih kode pemesanan dan kode pembayaran, digunakan klo nanti transfer via ATM. Lalu dilanjut saya bacakan tiga calon penumpang lainnya. Di konfirmasi satu-satu, lalu di proses hingga saya memperoleh kode pemesanan dan kode pembayaran. Kenapa nggak 7 aja sekalian langsung? Rupanya di sistemnya PT KAI, sekali pesan hanya bisa untuk maksimal 4 orang. Untuk satu kali pemesanan, kena biaya administrasi 7500.

Setelah itu, saya melakukan pembayaran lewat ATM. Untungnya di depan hotel tempat kami nginap ada ATM, jadi nggak perlu repot kemana-mana. Soalnya batas waktu pembayarannya jam 01.00 dini hari.

Sabtu siang, kami menuju stasiun gambir. Nukar struk ATM dengan tiket KA. Pas mau masuk ruang tunggu, kami harus nunjukkan tiket dan juga ktp.

Kondisi dalam ruang tunggu, bersih. Toilet juga bersih dan gratis. Ada ruang untuk ibu menyusui. Beda banget dengan jaman dulu. Toilet kotor dan mesti bayar 100o rupiah. Ruang tunggu rame, karena pengantar juga bisa masuk ke ruang tunggu, cukup bayar peron aja. kalau sekarang pengantar udah nggak boleh masuk lagi.

Tepat jam 18.20 kereta Gajayana berangkat menuju Malang. Tak lama naik kereta, mata udah ngantuk dan akhirnya tertidur.

Bangun udah jam 03.15 dini hari. Nanya ama petugas udah sampe mana. Katanya dah sampai Nganjuk. Setelah itu nggak tidur lagi. Satu persatu stasiun dilewati, Kertosono, Kediri, Tulung Agung, Blitar, Wlingi, Kepanjen, Malang Kota Baru. Di kertosono kereta nggak berhenti. Kata petugas, karena kena sanksi, pernah ada asongan yang berkeliaran di stasiun. Di Kediri kereta berhenti, ada beberapa pedagang asongan menawarkan ketan, dari luar kereta. Yang kepingin beli, harus mendekat ke arah pintu. Dari Kediri hingga malang, tak ada pedagang asongan. Padahal udah kebayang pengen sarapan pecel di stasiun Blitar.

Jadi sekarang, di dalam stasiun itu benar-benar “steril” dari pedagang asongan. Bahkan jasa pembawa barang pun tak ada. Mereka tampak berjajar di pintu keluar stasiun, menunggu calon pelanggan. Jadi yang bawaannya banyak ya harus angkat-angkat sendiri bawaannya keluar stasiun.