Kala si Bungsu Mogok Mandi

Menjelang bulan Juni, seperti tahun-tahun sebelumnya, maka udara di malang menjadi lebih dingin. dd yang biasanya siang malam kalau tidur mesti pakai kipas angin, kini tak mau lagi pakai kipas. Dingin, katanya. Biasanya pagi-pagi dah ribut minta mandi, jadi agak malas jika disuruh mandi, kata si mbak jam 9 atau 10 baru mau diajak mandi

Sabtu minggu, seperti biasanya saya libur. Dan biasanya itu adalah hari bermalas-malasan. Bisa bangun siang, kecuali diganggu ama dd yang duluan terbangun. Masak juga, bisa agak siangan, toh cuma berdua di rumah. Mencuci… dirapel 2 hari sekalian aja, cucian juga cuma dikit. Atau sekalian Senin aja biar si mbak yang nyuci :) . Perlu diketahui, si mbak datang ke rumah cuma hari senin-jumat. Jam kerjanya jam 6.45 – 16.00, diluar hari dan jam itu, saya hanya berdua saja dengan dd.

Berhubung sabtu hari bermalas-malasan, saya juga tenang-tenang saja kala si dd nggak segera minta mandi. Malah bersyukur, karena saya nggak harus ikut menyentuh air yang dingin. Jam 9 an, dd minta minum susu sambil berbaring di kamar. Saya elus-elus punggungnya dengan satu tangan, tangan satunya asyik sembunyi-sembunyi sms an ama papanya. Si dd ini paling nggak suka lihat mamanya pegang hp kalau lagi nemeni dia main. Kalau ketahuan, hpnya pasti langsung di rebut dan dilempar.

Agak lama saya sms an, agak aneh juga kok nggak ketahuan si dd. Saya tengok dia, rupanya sudah tertidur. Mumpung dd tidur, mulailah saya beres-beres rumah, masak dan mandi.

Jam 11 an dd bangun, dikasih makan lalu asyik main-main lagi sampai sore. Dia nggak minta mandi. Saya tawari buat mandi, dia menggeleng. Pas ngantar pipis ke kamar mandi, selalu saya tawarkan untuk mandi sekalian, tetep aja nggak mau.

Sore berlalu dan akhirnya menjelang maghrib. Sekali lagi saya tawarkan untuk mandi. Tetep juga nggak mau. Ya sudahlah, khusus hari itu dd nggak mandi. Untung juga cuaca dingin, jadi nggak banyak keringat keluar walau dd banyak aktivitas. Tapi bau asemnya tetep saja ada. Tiap kali saya goda kalau badannya bau asem karena nggak mandi, si dd malah nyengir.

 

Komunikasi, Itulah Kuncinya

Menjalani kehidupan pacaran jarak jauh (Korea – Malang) selama 2 tahun. Menjalani kehidupan rumah tangga, dimana lebih sering berada ditempat terpisah dibanding tinggal satu rumah selama hampir 4 tahun (Bengkulu – Malang). Tentu saja berat bagi kami berdua. Bukan kami tak ingin tinggal bersama dalam satu atap. Namun kondisi saat ini belum memungkinkan kami tinggal bersama.

Komunikasi, saling terbuka, saling percaya, itu yang membuat hubungan kami tetap berjalan baik hingga sekarang. Bukannya kami tak pernah bertengkar, bukannya kami tak pernah berselisih paham, bukannya kami tak pernah memendam kejengkelan. Semua itu pernah terjadi dalam hubungan kami. Namun, jarak yang jauh membuat kami tak sempat berlama-lama untuk melakukan hal itu. Tak bisa lama-lama marahan. Masa nelponi mahal-mahal hanya untuk marahan?

Yang paling berat, adalah mengatasi rasa sepi, terutama buat suami. Kalau saya, pulang kerja ada anak-anak. Malam anak-anak tidur, tak lama kemudian saya juga pasti ikut tertidur. Sementara suami, pulang kerja tak ada orang di rumah. Karena itulah, sejak maret kemarin, kami sepakat, anak pertama ikut suami ke Bengkulu. Ada bude dan neneknya disana, bisa dititipi kalau ditinggal kerja oleh suami.

Tentu saja berat bagi saya melepas babang yang belum genap 3 tahun usianya, ikut merantau sejauh itu. Memisahkan dia dari dd, teman bermainnya setiap hari. Namun saya yakinkan diri saya, bahwa babang dalam pengasuhan papanya, dia pasti akan baik-baik saja. Ada satu peristiwa besar yang memperkuat keinginan suami untuk membawa babang kesana.

Suatu hari, babang badannya panas. Namun ia tetap lincah bermain. Kebetulan saat itu suami sedang pulang ke malang. Sebenarnya kami ingin babang segera tidur malam itu karena suhu badannya yang tinggi. Kami memang belum memberikan obat padanya. Kami memang tak mau buru-buru kasih obat kalau anak-anak sakit. Biar mekanisme kekebalan alaminya bekerja. Kalau badannya panas, biasanya saya balur aja ama campuran minyak kayu putih dan bawang merah.

Jam 8 an, saya menidurkan dd, dan biasanya ikut pula tertidur :) . Babang masih asyik bermain dengan suami di ruang tengah. Saya terbangun karena teriakan suami, minta diambilkan air dingin. Masih setengah mengantuk saya ke kamar mandi. Suami teriak menyuruh saya lebih cepat ngambil airnya. Buru-buru saya bawa air dari kamar mandi ke ruang tengah. Alangkah terkejutnya saya melihat babang kejang-kejang dalam pelukan suami.

Segera kami baluri tubuh babang dengan air dingin, bergantian kami panggil nama babang. Saya basuh kakinya dengan air dingin sambil saya urut2, sementara suami membasuh muka dan kedua lengan babang. Saat itu saya panik sekali, air mata mulai jatuh. Saya menyesal, kenapa tadi saya tidur duluan? Kenapa tak nungguin babang disaat suhu tubuhnya naik?

Rasanya lama sekali babang kejang, matanya kadang mendelik, lalu terpejam perlahan-lahan. Saya dan suami kontak berteriak memanggil nama babang jika matanya mulai memejam. Terus terang saya sangat takut, dalam hati saya berucap “YA Allah, jangan ambil babang!”

Pelan-pelan kejangnya mereda dan berhenti, nafasnya mulai teratur, dan dia tertidur kembali. Kami lalau berunding dan memutuskan membawanya ke rumah sakit, takut kalau nanti kejang lagi.

Peristiwa itulah yang menguatkan niat suami untuk membawa babang bersamanya. Dia membayangkan jika saya sendirian di rumah, bersama dua anak batita dan salah satunya kejang. Apakah saya sanggup?

Hampir 3 bulan sudah, kami mengasuh masing-masing satu anak. Sepertinya suami jadi lebih tenang disana. Jika sebelumnya, malam-malam dia pasti telpon, maka sekarang tak lagi setiap malam. Jika saya tanya kenapa tak menelpon, atau kenapa telpon saya tak diangkat, jawabannya adalah “lagi asyik main sama babang…. lagi jalan-jalan ama babang dan nggak bawa hp….  menidurkan babang dan ikut tertidur pula”. Dengan membawa babang pula, godaan terhadap suami menjadi jauh. Jika sebelumnya, ada saja wanita yang mencoba mendekati suami, yang sering diceritakannya dan pastinya menyulut rasa cemburu saya. Maka kini, para wanita itu menjauh, karena suami selalu membawa babang kemana-mana, bahkan sering diajaknya pula ke tempat kerja.

Demikianlah akhirnya, saya harus bersabar menjawab pertanyaan dd tentang dimana papa dan babangnya, yang sering sekali diajukannya. Suami juga tak pernah bosan menjawab tanya babang tentang keberadaan mama dan adiknya. Semoga kami segera dipersatukan, itulah harapan kami setiap saat. Karena walaupun sama-sama membawa satu anak, tetap saja berat bagi kami berempat, menjalani kehidupan rumah tangga dengan jarak berjauhan.

[Trip] Bengkulu : Tarian Serawai

Liburan panjang kemarin, kembali saya ke Bengkulu. Menghadiri resepsi pernikahan keponakan saya. Melihat dan mengamati lagi budaya baru.

Malam menjelang resepsi ada hiburan organ tunggal di rumah. Siapapun boleh naik ke panggung untuk menyumbangkan suaranya, menghibur para tamu undangan. Sang pengantin pun tak ketinggalan didaulat untuk naik ke panggung dan menyanyikan beberapa buah lagu

Siangnya acara resepsi di gedung. Sebelum naik ke pelaminan, pengantin di daulat melakukan tarian. Namanya tarian serawai. Kata pembawa acara, ini adalah tarian untuk melepas status bujang. Pengantin lelaki dan perempuan melakukannya secara terpisah. Pengantin lelaki bersama para lelaki, keluarga maupun sahabat. Sementara pengantin perempuan menari bersama para perempuan, saudara dan sahabat.

 

 

Usai tarian serawai, dilanjutkan atraksi pencak silat. Sayang foto-fotonya sangat buram jadi nggak layak diupload disini :) . Berhubung selama acara, kamera di pegang Babang untuk jepret sana sini. Jadilah saya cuma dapat mengambil foto lewat hp.

Lagu yang Membuat Merinding

Padamu negeri kami berjanji

Padamu negeri kami berbakti

Padamu negeri kami mengabdi

Bagimu negeri jiwa raga kami

***

Cuma 4 baris. Singkat sekali lagu ini. Tapi setiap kali menyanyikannya, entah kenapa aku merasakan tubuhku merinding, jantung berdetak lebih cepat, suara bergetar dan mataku jadi berkaca-kaca. Seperti juga pagi ini, kala aku menyanyikannya dalam upacara memperingati hari pendidikan nasional.

Tak hanya lagu ini, setiap kali menyanyikan lagu indonesia raya dan juga syukur, aku selalu merasakan hal yang sama. Entah kekuatan lagunya, atau suasananya.

Salut untuk para pencipta lagu tersebut. Dengan syair yang singkat, namun pesannya dalam, dan bisa menggetarkan jiwa orang yang melantunkannya.

Dd pinter ya | Mama juja

20 bulan sudah usianya kini. Setiap hari ada saja kejutan darinya, setiap hari ada hal baru yang kutemukan pada dirinya. Sudah dua minggu ini kalau siang, dd sudah tak lagi pakai diapers. Pakainya kalau malam saja. Awalnya masih pipis disembarang tempat. Duduk diem, tau-tau bilang pipis. Si mbak sampai beberapa kali harus cuci karpet yang jadi bau pesing. Lalu, setiap satu jam, dd diajak ke kamar mandi, disuruh pipis. Alhamdulillah lancar. Cuma setiap selesai pipis, dia ribut pengen siram pipisnya, dan pastinya dilanjutkan bermain air, baju jadi basah semua.

Pagi ini, ada kejutan baru lagi. Bangun tidur, dia ngajak saya ke kamar mandi. Awalnya saya masih males bangun, saya pikir kalau mau pipis ya pipis aja, kan masih pakai diapers. Saya bilang ke dd untuk jongkok dan pipis aja di dekapt kasur. Tapi dia nggak mau. Tangannya menggapai-gapai.

Lanjut membaca

Kisah Putra Daerah yang sedang Galau

Usianya di awal 30 an. PNS golongan IIIb. Putra daerah. Punya semangat yang tinggi untuk memajukan pendidikan di daerahnya. Seorang guru yang punya banyak sambilan di luar dan mau membagi pekerjaan pada anak didiknya, biar anak-anak punya jiwa wirausaha. Tentunya pekerjaan yang diberikan pada anak didiknya tak jauh dari materi pelajaran yang diberikannya, teknik gambar bangunan.

Awal diangkat menjadi PNS, dia diserahi tanggung jawab untuk merintis sebuah sekolah menengah kejuruan. Dari mulai pencarian lokasi, penjaringan calon siswa, pencarian dana hingga pembangunan gedung. Sekolah yang awalnya menumpang, dengan jumlah siswa tak sampai 20 orang dengan 2 pengajar, akhirnya berkembang pesat. Dia pandai melobi pejabat setempat, hingga membuat proposal ke kemdiknas. Akhirnya banyak dana yang dapat diperoleh, dan sekolah itu bisa punya gedung sendiri, jumlah siswa juga makin banyak, demikian pula jumlah guru.

Sekolah yang mulai berkembang bagus, akhirnya memicu orang-orang untuk saling berebut peran. Muncullah orang-orang yang menampakkan diri seolah-olah paling berjasa dalam pendirian sekolah tersebut. Sang guru muda tak mau ikut larut dalam perebutan penampilan peran. Dia memilih mengundurkan diri dan minta dikembalikan ke sekolah asal pertama kali dia ditempatkan. Kepala daerah memintanya untuk tetap disana, tapi dia tetap menolak. Akhirnya dia pun kembali ke sekolah pertama dia ditempatkan.

***

Disekolah yang kini menjadi tempatnya mengabdi, dia akhirnya menempati posisi wakil kepala sekolah yang membidangi manajemen mutu. Selain itu, dia juga dipercaya oleh kepala dinas untuk menjadi ‘staf ahli’ di kantor dinas pendidikan propinsi. Pernah dia ditawari menduduki jabatan Kepala seksi (kasi) di dinas tersebut, namun ditolaknya. Cara penolakannya tergolong unik dan membuat sang kepala dinas tak bisa memaksa lagi

“Orang tua saya ingin naik haji. Saya sedang mengumpulkan biayanya yang berasal dari tunjangan sertifikasi profesi yang saya peroleh tiap bulan. Saya bersedia menduduki jabatan kasi di tempat bapak dengan satu syarat, Bapak membiayai kedua orang tua saya untuk naik haji”

Dan sang kepala dinas pun menjawab “Biasanya, orang membayar saya agar bisa menduduki jabatan tertentu. Ini kok malah saya yang harus membayar kamu”

***

Kini jabatan kepala sekolah di tempatnya sedang kosong, karena kepala sekolah yang lama sudah naik jabatan. Karena dia putra daerah dan dipandang punya kemampuan, dia diminta membuat analisis sumber daya manusia di sekolah tersebut, siapa saja yang menjadi kandidat kuat untuk memduduki jabatan kepala sekolah.

Hasil analisisnya adalah pak X, yang sekarang menduduki jabatan sebagai wakil kepala sekolah bidang …. (lupa bidang apa).  Maka, diapun mengeluarkan rekomendasi bahwa pak X lah yang memenuhi syarat untuk menggantikan kepala sekolah yang lama. Namun, rekomendasinya ini mendapat penolakan dari berbagai pihak, dengan alasan pak X berasal dari luar daerah. Mereka ingin, kepala sekolah yang baru adalah putra daerah.

Pak guru ini pun lantas mengatakan bahwa untuk saat ini, belum ada putra daerah yang layak! Kepala sekolah lama pun orang luar daerah, tapi karena menikah dengan orang asli sana, maka dulu tingkat penolakannya relatif rendah. Tapi pak X, orang luar daerah, istrinya pun orang luar daerah. Pak guru ini pun menyarankan pihak terkait, bahwa jika ingin kepala sekolahnya putra daerah, maka mulai sekarang putra2 daerah harus banyak dibina, diberikan kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya.

Kini pak guru sedang galau. Jika rekomendasinya terhadap pak X di tolak, maka dia harus bersiap memiliki kepala sekolah yang tidak kompeten, yang pada akhirnya pasti akan menambah beban kerjanya. Apalagi jika kepentingan politik telah ikut mengambil peran. Yang diangkat adalah orang yang dekat dengan penguasa, tanpa memperhatikan bagaimana kemampuannya. Sepertinya apa yang sudah dirintis sekian lama oleh kepala sekolah lama demi kemajuan sekolah, akan mengalami kemunduran lagi

Saya lalu menanyakan, kenapa buka dia saja yang mencalonkan diri? Dia menjawab bahwa dengan kemampuan yang dimiliki, dan kelebihannya sebagai putra daerah, maka dia adalah calon terkuat kedua setelah pak X. Tapi dia masih terlalu muda, golongannya baru IIIb, dan ini tak memenuhi syarat untuk menjadi kepala sekolah.

***

Hanya bisa berharap semoga pejabat terkait mau berpikir untuk kemajuan daerahnya, tanpa membedakan darimana asal orang-orang yang turut berperan didalamnya

[Trip] Lombok

Perjalanan sudah agak lama sebenarnya, tapi baru sempat menuliskannya sekarang. Dan kebetulan pagi ini internet agak kenceng (tumben!) eh alhamdulillah…. jadi bisa sambil upload gambar pula. Perjalanan ke Lombok dalam rangka menunaikan tugas dari kantor, saya lakukan tanggal 27 – 29 Maret kemarin.

Tujuan tugas kali ini adalah melakukan pemetaan terhadap kompetensi guru-guru produktif SMK di kabupaten Lombok Barat. Alhamdulillah, tugas dapat dilaksanakan dengan baik. Tujuan utama sih cuma 2 sekolah negeri di sana, tapi ternyata sambutannya luar biasa. Sekolah-sekolah yang lain juga ingin ikut dipetakan kompetensinya. Akhirnya dapat 4 SMK negeri dan 5 SMK swasta.

Sayangnya koneksi internet kurang begitu bagus. Tower yang dimiliki SMK ambruk gara-gara hujan angin beberapa hari sebelumnya. Pakai modem juga lambat sekali. Akhirnya di akali pakai servel lokal aja, setelah itu baru nanti datanya di upload.

Selesai acara pengambilan data, saya diajak oleh panitia ke rumah salah satu guru SMK di sana. Kebetulan gurunya nggak datang ke sekolah hari itu karena sedang menikah. Sambil bergurau saya bilang, nanti pengantinnya di sodori laptop suruh ngisi data dulu hehehe….

Diiringi hujan deras, berangkatlah kami ke rumah bu guru tersebut. Lumayan dapat makan siang gratis :) ternyata adat disana, begitu masuk langsung ambil makan. Setelah dapat makan lalu dipersilakan duduk dan menikmati hidangan. Usai makan, baru deh salam-salaman ama pengantin dan tuan rumah, terus pulang. Eits, sampai lupa nggak kasih amplop hihihi

Berhubung hujan makin deras, maka saya putuskan langsung balik ke hotel saja. Padahal pengen banget ke senggigi. Tapi rupanya belum nasib baik saya untuk bisa menikmati sunset di senggigi. Berdiam aja di kamar, menikmati tayangan televisi.

Keesokan harinya, harus sudah balik lagi ke malang. Tapi untunglah dah sempat mencicipi plencing kangkung dengan sambal ekstra pedas dan juga ayam taliwang.

Bagaimana Menebus Rasa Bersalah pada Anak?

Seminggu lebih aku tinggalkan Nayla di rumah, hanya bersama si mbak dan kedua anaknya. Kebetulan ada tugas keluar kota. Deket sih, cuma di Batu. Tapi berhubung acara sampai malam, dan tak punya kendaraan, jadi nggak bisa ditempuh pp deh. Lagian udah disediakan penginapan, rugi kalau nggak ditempati heheheh…. Acara pertama, diklat untuk persiapan e-leraning di bulan juni nanti selama 3 hari. Sambung acara kedua, ToT penguatan kemampuan kepala sekolah selama 5 hari.

Kalau aku keluar kota, si mbak yang biasanya datang pagi dan sore pulang, aku suruh nginap di rumah. Konsekuensinya, kedua anak si mbak juga diajak ikut. Nayla jadi punya teman main, sesama cewek :)

Tentunya ada rasa bersalah karena meninggalkan nayla sendirian di rumah selama itu. Apalagi waktu dengar cerita si mbak, malam pertama saya pergi, nayla sampai jam 10 malam baru mau tidur. Nanyain terus di mana mama. Tiap dengar suara kendaraan yang lewat di depan rumah, segera lari ke jendela untuk mengintip. Berharap kendaraan itu membawa mamanya pulang. Inilah akibatnya karena siangnya, saat saya berangkat, dia masih tidur. Jadi tidak saya pamiti. Karena tidak dipamiti, maka bangun tidur, dia mencari-cari.

Gimana menebusnya? Pengin beliin es krim kesukaannya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, nggak jadi. Waktu yang hilang tak bisa diganti, apalagi cuma dengan es krim. Tanpa harus keluar kota pun, sewaktu-waktu kami bisa beli es krim. Es krim di coret dari daftar. Akhirnya diputuskan sabtu minggu kemarin, adalah waktu buat kami berdua. Kebetulan juga si mbak kalau sabtu minggu libur. Jadi saya putuskan, saya akan temani nayla main sepuasnya.

Hari sabtu, sukses di rumah aja. menemani lihat DVD kesukaannya, nemani jalan-jalan dan lari-larian di taman deket rumah. Nunggu dan ngawasin dia main gunting potong-potong rumput, mendorong sepeda yang dinaikinya, lompat-lompatan di kasur. Hari minggu, sepertinya dia bosan di rumah. Habis mandi, ngajak naik angkot.

Saya pun putar otak lagi, naik angkot kemana. Akhirnya di putuskan ke mall saja, kebetulan lagi ada pembukaan festival topeng malang di sana. Ternyata kami datang kepagian, mall masih tutup, tapi untung supermarketnya sudah buka. Muter2 dulu di supermarket, nayla minta dibeliin mainan ikan-ikan kecil yang bisa berbunyi jika di pencet. Selain itu pastinya ada makanan juga, dia minta dibelikan donut.

Keluar dari supermarket, kami jalan muter-muter lagi. Kebetulan saya juga mau beli sandal. Sandal di dapat, kami jalan lagi. Lewat gerai kerudung, nayla mogok jalan. Matanya menatap manekin kecil yang diberi kerudung.

“dd mau kerudung?” saya pun bertanya untuk meminta penegasannya. Anak2 saya ini tipe orang yang nggak mau dibelikan barang-barang. Jadi kalau niat belikan sesuatu, anak2 harus diajak, ditanya dulu mau atau nggak. Kalau mau, mereka sendiri yang harus milih. Kalau orang tuanya yang milih, mereka bakal cemberut.

Nayla mengangguk. lalu saya tanya si mbak yang jaga gerai, ada warna apa aja. Dan si dd milih warna biru, pas banget dengan baju yang dia pakai. Kerudungnya nggak boleh dibungkus, maunya langsung dipakai.

Abis itu, maunya langsung pulang. Eh, pas lewat gerai boneka, dia ngajak masuk. Dan seperti tadi, saya tanya apakah dia mau boneka. Karena dulu, pernah saya ajak ke gerai boneka, dia malah nangis, takut katanya.

Tapi siang itu, dia mengangguk. Masuklah kami kesana. Dia senang sekali menunjuk-nunjuk sambil menyebut nama2boneka itu, kinci, domba, panda…….. Karena dia suka sekali lihat shaun the sheep, saya tawarkan untuk membeli boneka domba saja. Tapi dia menggeleng. Saya tunggu aja, sampai dia yang minta.

Setelah agak lama melihat-lihat, akhirnya keluar juga permintaannya. “dd mau panda”. OK lah, saya biarkan dia sendiri yang milih pandanya. Dia pilih yang besar dan langsung di peluk. Waktu mau dikasih plastik ama mbak yang jaga gerai, nggak dibolehin :) .

Keluar dari mall, muncul satu lagi permintaannya. Dia nggak mau diajak naik angkot! maunya pulang naik taksi. Sudah saya bujuk, naik angkot aja, terus turun dari angkot naik becak. Tapi dia nggak mau. Yah, jadilah akhirnya naik taksi.

***

Di rumah, saat dia tidur, kembali saya ucapkan permintaan maaf karena meninggalkannya kemarin. Semoga kerudung dan boneka panda itu bisa menjadi sedikit penghibur baginya. Karena saya sadar, waktu kebersamaan kami tak bisa diganti dengan aneka macam hadiah. Bahkan uang sekalipun.