SatriaKu

Memetik Hasil Dari Pelajaran Berbagi

Berhubung memiliki 2 anak yang jarak usianya hanya satu tahun, jika membeli sesuatu pasti saya beli dua buah. Satu untuk si abang dan satu untuk adeknya. Biasanya saya bilang “ini untuk abang, ini untuk dd” sambil menyerahkan barang/makanan mereka. Rupanya kebiasaan mengucapkan kalimat itu, membawa dampak yang positif.

Biasanya saya ajak abang untuk ikut belanja. Maunya sih ajak keduanya, tapi repot bawanya, maklumlah pengguna angkutan umum. Kadang saat belanja sekalian saya belikan biscuit untuk camilan mereka, tentu saja belinya dua. Dan pada si abang saya bilang “satu buat babang, satu buat dd ya” dan si abang akan menganggukkan kepalanya.

Sesampai di rumah, belum sampai membuka pintu, biasanya abang akan teriak-teriak memanggil dd nya. Si dd pun akan balas berteriak kegirangan melihat mama dan abangnya. Selanjutnya di mulailah acara bongkar-bongkar barang belanjaan. Begitu menemukan biscuit yang saya belikan tadi, sia abang segera mengambil keduanya. Lalu disodorkan satu ke arah dd nya, sambil bilang “ni dek”. Rupanya dia masih ingat bahwa saya membelikan satu satu untuk mereka.

Kemarin sore saya ajak si abang ke took di kompleks rumah. Membeli obat untuk papanya. Dd kebetulan lagi tidur. Obat sudah di dapat, uang masih tersisa 500 rupiah. Saya minta choki-choki aja buat si abang biar seneng. Saat menerima satu choki-choki, dia lama menatap saya. Saya masih nggak ngeh kenapa dia menatap saya lama. Saya ajak dia berjalan pulang, tapi dia masih diam saja tak mau bergerak. Lalu terucap dari mulut mungilnya “cuci cuci adek mana ma?”

Glek. Rupanya dia menatap saya tadi menunggu bungkusan kedua, jatah buat adeknya. Lalu saya bilang kalau uangnya nggak cukup buat beli 2, lagian dd kan sudah tidur. Satu aja nanti sampai rumah dibagi dua sama dd. Barulah dia mau diajak pulang.

Alhamdulillah, si abang telah memiliki kebiasaan baik MAU BERBAGI dengan adiknya. Semoga kebiasaan baik ini akan tetap melekat pada dirinya hingga dewasa kelak.

Peristiwa sore itu semakin menyadarkan saya, bahwa anak-anak adalah penyerap dan peniru ulung. Sehingga saya sebagai orang tuanya harus selalu berhati-hati dengan ucapan maupun perbuatan saya di hadapan mereka.

Iklan

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s