PengalamanKu

Menyimak Obrolan Para PRT

Pagi ini, saat lagi beres-beres rumah, si mbak nanya apa isi tumpukan kardus yang ada disudut kamar. Kujawab itu adalah baju anak-anak yang sudah nggak muat lagi dibadan mereka. Lalu kulanjutkan, barangkali ada tetangganya yang punya anak kecil dan mau baju-baju bekas pakai itu, ya dibawa aja dikasihkan. Si mbak malah bilang, “emang ibu nggak mau hamil lagi”

Saya terkekeh, aduh mbak, anak dua aja belum bisa maksimal ngasuh mereka, kok disuruh nambah lagi. Klo saya nggak kerja, jadi ibu rumah tangga aja, saya sih mau aja punya anak lagi.

Si mbak lalu bercerita kalau tetangga depan rumah saya pengen punya anak 4. Dia tahu dari cerita PRT yang kerja di tetangga itu, kebetulan rumah mereka berdekatan. Dan sekarang tetangga saya itu lagi hamil anak ketiga.

Saat si tetangga cerita ke PRT nya bahwa dia hamil lagi, langsung dijawab ama PRT nya “aduh bu, dua anak aja belum bisa ngasuh kok mau tambah lagi, saya juga yang repot nanti”

Saya kaget dan ketawa waktu si mbak cerita, masak sih PRT depan rumah berani bilang gitu ama majikannya. Saya kenal baik dengan PRT depan rumah itu, bahkan dia juga yang dulu menghubungkan saya dengan si mbak, hingga akhirnya si mbak kerja ditempat saya. Si mbak mengiyakan, lalu dia menambahkan beberapa cerita lagi, gimana PRT tetangga itu berani sering membantah apa yang dikatakan majikannya.

Tadinya saya heran juga kok berani PRT membantah apa yang dikatakan majikannya. Menyimak cerita si mbak, saya juga tak bisa menyalahkan PRT tetangga itu. Karena dia memang punya alasan yang kuat untuk misalnya menjawab dengan nada yang agak ketus. Misal untuk kasus berikut ini. PRT itu pagi-pagi lagi ada di rumahnya, tiba-tiba si majikan telpon, nanyaian dimana dasi anak pertamanya, karena mau dipakai si anak ke sekolah. Si PRT menjawab “aduh urusan dasi aja kok nelpon, mbok ya dicari sendiri”. Saya maklum, pagi-pagi itu masa-masa repot, masa urusan dasi aja, si PRT harus segera ke rumah majikannya itu untuk bantuin cari dasi.

Dari cerita si mbak, makin memperkuat kemauan saya, sedekat-dekatnya hubungan saya dengan si mbak, janganlah menceritakan masalah pribadi pada dia. Ngobrol cukup di masalah kerjaan dan perkembangan anak-anak saja. Kali ini, mungkin dia akan diam saja jaga rahasia kalau misalnya saya curhat. Tapi kali lain siapa tahu? Selain itu juga agar tak terlalu tergantung pada si mbak. Pekerjaan rumah yang mampu dikerjakan sendiri, tak usahlah minta bantuan si mbak. Ke anak-anak saya, walau masih kecil, juga saya ajrkan untuk mengambil sendiri mainan yang mereka inginkan di tempatnya, selesai bermain saya ajak mereka membereskan. Jangan mama atau si mbak terus yang beresin sementara mereka kerjaannya berantakin aja.

Dari situ juga saya kembali instropeksi diri saya sendiri, mengingatkan kembali untuk selalu ‘nguwongke’ si mbak. Menjaga perasaannya agar tak terluka dengan perkataan maupun sikap saya. Semoga si mbak, yang baru bekerja 4 bulan ditempatku, tetap betah bekerja di rumah.

Iklan

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s