#15HariNgeblogFF

Dag Dig Dug

“Sebentar lagi aku sampai” membaca tulisan dilayar hp membuat dadaku berdegup makin kencang. Tanganpun bergetar. Sebentar lagi dia sampai. Sebentar lagi kami akan bertemu. Bergegas aku ganti baju, mematut diri didepan cermin. Eh, kenapa aku jadi salah tingkah begini.

Dag dig dug.

Menghela nafas panjang untuk menenangkan diri sebelum melangkah meninggalkan kamar kostku. Aku berjalan menuju terminal, sambil bersenandung, untuk mengusir rasa gelisah. Mengusir rasa penasaran. Mengusir grogi karena akan bertemu dengannya.

Dag dig dug.

Dua tahun menjalin hubungan tanpa pernah bertemu. Saling berbincang, bercanda, melepas rindu hanya dari balik layar. Layar monitor dan layar hp. Dan kini kami akan bertemu untuk pertama kalinya.

Dag dig dug.

Detak jantung semakin cepat berpacu kala ada bis baru masuk terminal. Aku berpegangan pada tiang penyangga atap seng peneduh tempat penurunan penumpang. Mengamati sampai bis berhenti menurunkan penumpang. Pintu bis terbuka, aku makin erat berpegangan. Menunggu sosoknya turun dari bis. Satu persatu penumpang turun. Tapi dia tak ada. Ah, mungkin bis setelah ini. Tempo detak jantungku kembali menurun.

Dag dig dug.

Sudah dua jam aku berdiri disini. Sudah puluhan bis datang. Tak ada satupun yang membawa dirinya. Dia bilang sebentar lagi sampai. Dua jam itu sebentar? Ouh, dua jam itu sangat lama. Dua jam jantungku harus bekerja lebih keras. Dua jam aku gemetaran. Dua jam aku salah tingkah. Dua jam yang sangat menyiksa.

Dag dig dug.

Kutimang-timang hp dalam genggamanku. Kuputuskan untuk menghubunginya.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif……….” suara lembut merambat masuk rongga telingaku.

Dag dig dug.

Cukup sudah. Kulangkahkan kakiku meninggalkan terminal. Apakah aku telah dibohongi? Teganya dia mempermainkan aku. Jadi dua tahun ini sia-sia aku menunggunya. Dunia maya. Hahahaha….. aku telah menjadi korbanmu. Dua jam degup jantungku lebih kencang berpacu. Dua jam aku seperti orang linglung. Dan dia, yang kini entah ada dimana, sedang tertawa puas. Mentertawakan kebodohanku.

Melangkah gontai kembali ke kost. Tak ada lagi senandung riang. Tinggal dada yang sesak. Air mata yang sekuat tenaga aku tahan supaya tak tumpah.

Memasuki rumah, kupercepat langkahku. Tak tahan ingin segera merebahkan diri dipembaringan, menumpahkan tangis. Dengan menunduk ku lewati ruang tamu, sekilas kulihat ada yang sedang duduk disana. Tapi tak  aku malas berbasa basi menyapa. Pura-pura tak melihat saja.

“Dik!”

Satu kata itu cukup membuat langkahku terhenti. Panggilan itu untukku? Sepertinya aku kenal suara itu. Apakah mungkin…

Kubalikkan badanku. Kulihat dia tersenyum, merentangkan tangannya seolah mengundangku untuk segera menghambur dalam pelukannya.

Dag dig dug.

 

Iklan

4 thoughts on “Dag Dig Dug

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s