RamesanKu

Anaknya Buat Saya Aja, Ya…

Ini kisah seminggu yang lalu, ketika sulungku naik pesawat ke Bengkulu untuk nengok neneknya. Sedari naik pesawat di Jakarta menuju Bengkulu, ada seorang wanita yang terus memperhatikan Satria. Setelah turun dari pesawat, selagi menunggu bagasi, tiba-tiba wanita itu menghampiri satria, memeluknya dan menangis. Papanya tentu saja kaget, ada orang tak dikenal peluk-peluk anaknya. Satrianya lebih kaget lagi, dan otomatis langsung menangis. Didekati dan disapa orang yang belum dikenal aja dia langsung mengkerut, apalagi tiba-tiba dipeluk. Jadilah sedikit kehebohan disana.

Karena satria menangis dan menjerit-jerit, wanita itu lalu melepaskan pelukannya. Mengangguk ke arah suamiku dan meminta maaf. Disampingnya wanita itu, berdiri seorang lelaki yang juga meminta maaf pada suamiku.

“Anaknya buat saya aja ya…” tiba-tiba dia mengutarakan keinginannya.

“Ya kalau anaknya mau sih nggak apa-apa” dijawab suamiku sambil tersenyum.

Mereka pun lalu terlibat obrolan. Wanita itu bercerita bahwa dia dan suaminya sudah menikah 22 tahun dan belum dikaruniai anak. Melihat satria yang lucu, perasaan sedih melandanya. Sedih karena hingga sekarang dia belum juga memiliki anak. Perasaan itulah yang mendorongnya untuk tiba-tiba memeluk satria tadi.

***

Anak, adalah anugerah terindah bagi sepasang suami istri. Salah satu alasan sepasang manusia menikah, adalah untuk memiliki keturunan, hasil cinta kasih mereka. Maka tak heran, jika ada orang telah menikah, beberapa bulan kemudian pasti sudah akan ada yang bertanya “sudah isi belum?”

Jika sudah lama menikah dan belum dikaruniai anak, maka akan ada banyak mulut usil disekitarnya. “Sudah periksa ke dokter?… coba ke sana… ada pengobatan alternatif…. coba pijat…” Semuanya sebenarnya memberikan perhatian, memberikan saran. Namun terkadang komentar-komentar itu malah membuat wanita yang belum memiliki anak tadi bertambah sedih. Dalam hatinya, dia pasti bilang, ‘aku juga sudah berusaha, aku juga ingin punya anak’

Tak usah jauh-jauh membicarakan orang lain. Saya sendiri pun memiliki dua kakak perempuan yang hingga sekarang belum memiliki anak. Mereka telah menikah selama 14 dan 12 tahun. Dan namanya hidup di kampung, mereka harus tahan terhadap omongan orang. Terlebih dari pihak keluarga lelaki. “Jangan-jangan mandul!… adiknya udah jadi ibu, lalu kapan kamu jadi ibu?”… Ah, kenapa selalu wanita yang jadi sorotan jika sepasang suami istri belum dikaruniai anak.

Saya pernah memergoki kakak ipar saya menangis sewaktu menggendong anak saya. Saya memilih menjauh, dan membiarkan kakak saya itu menikmati kebersamaan dengan anak saya.

***

Hanya bisa mendoakan. Semoga orang-orang yang telah lama menikah dan belum dikaruniai anak segera dikaruniai anak. Diberikan kesabaran menghadapi omongan tak enak dari orang-orang disekitarnya.

Iklan

15 thoughts on “Anaknya Buat Saya Aja, Ya…

  1. {“Ya kalau anaknya mau sih nggak apa-apa” dijawab suamiku sambil tersenyum.}
    pasti becanda yah ?

    memang sering kali masalah tidak punya atau belum punya momongan kerap jadi bahan keretakan rumah tangga…

    1. iyalah mas, masa anak mau dikasih-kasih ke orang lain.
      disatu sisi, banyak pasangan yang sangat mendambakan anak. Disisi lain ada yang tega menggugurkan atau bahkan membuang bayi yang baru dilahirkannya

      1. iya kenyataanya seperti itu…
        anak salah satu perekat dalam membangun rumah tangga..
        mereka yang dengan sadar menggugurkan itu perbuatan yang biadab..

  2. terima kasih banyak doanya mbak 🙂 … aku dan suami santai santai saja sih walau belum punya momongan, mungkin krn beda budaya ya, di sini org nggak pernah tanya ini itu, atau omong yg enggak enggak kalau ada yg belum punya anak, krn itu hal yg amat nggak sopan berbeda sama di tanah air 🙂

    1. iya mbak, memang beda budaya. Enak ya kalau masing-masing orang tak turut campur masalah pribadi orang lain.
      Di indo, kadang sepasang suami istri nyantai aja dengan kondisi yang belum memiliki anak. Tapi orang tua/mertua terus ribut minta cucu. Emang bikin anak segampang main sulap tinggal bilang bim salabim. Belum lagi omongan kerabat dan tetangga, mulai yang halus hingga yang bikin sakit telinga. Omongan orang2 inilah yang kadang bikin sepasang suami istri yang tadinya nyantai, kadang jadi goyah juga.

  3. Iya, kalo di sini orang yang udah nikah cenderung ditanyain kapan punya anak. Aku aja yang cuma kosong dua bulanan lebih udah bolak balik ditanyain.

    Memang anak adalah karunia yang luar biasa ya, maka bersyukurlah kita yang sudah diberikan Tuhan karunia itu..

    1. nah, baru kosong 2 bulan aja udah bolak-balik ditanya, gimana pula kalau 2 tahun atau bahkan 20 tahun. Pastinya jadi makin sedih dan gamang.

      Iya mbak, harus bersyukur memiliki Raja. Dan semoga keinginan Raja untuk punya adik segera terlaksana 🙂

  4. subhnallah…. ya allah…mbaca ini jadi pingin cepet cepet pulang …
    pingin peluk kinan, menciuminya…
    ya allah alhamdulilah..tidak henti hentinya bersyukur..semoga saya, mbak, dan kita semua dapat menjaga amanah yang diberikan Allah swt untuk kita, dan semoga banyak pasangan suami istri diluar sana yagn sedang menantikan buah hati, semoga bersabar dan berserah dengan segala keputusan Allah swt…

    1. iya mbak, harus mensyukuri apapun yang diberikan Allah untuk kehidupan kita. Karena itu pasti yang terbaik bagi kita, cuma kadang kita belum nemu dimana letak kebaikan itu.

  5. waah. beneran harus lebih menjaga omongan ya.. saran yang berlebihan pun bisa membuat sedih.. memang cara yang paling tepat ya mendoakan
    tapi emang iya sih, pasangan mana sih ya ga pingin punya anaak..

  6. bener mbak aq pernah ngerasain ketika menikah 2 tahun kosong dulu
    banyak pertanyaan yg terkadang bosen untuk menjawabnya

    dan skrg setelah dikaruniai 1 anak yg berumur 7,5 thn
    walaupun tdk di KB blm hamil lagi..
    *eh kok jd curhat ya?* hihihi…

    salam kenal mbak
    jika berkenan ditunggu kunjungannya di http://diandrarafi.blogdetik.com
    barangkali bisa berbagi pengalaman
    makasih sebelumnya

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s