WisataKu

[Trip] Malang – Bengkulu

21 Maret, akhirnya jadi juga saya dan si kecil naik pesawat menuju Bengkulu. Berangkat dari rumah jam 07.00, menggunakan taksi menuju bandara Abdul Rahman Saleh, Malang. Tak sampai setengah jam, kami sampai dibandara. Chek-in lalu menunggu di ruang tunggu. Pesawat terlambat 30 menit dari jadwal semula. Si kecil begitu naik pesawat langsung minta mimik susu, dan terlelap hingga mendarat di Jakarta.

Pukul 12, kami kembali masuk ke pesawat. Sebentar lagi pastinya bakal terbang. Pas di dalam, sama pramugari ditanya begini “anaknya duduk sendiri atau dipangku?” Pertanyaan tak cerdas menurut saya, jelas-jelas Nayla saya pangku kok tanyanya begitu.

“Di pangku” saya tetap menjawab, walau mungkin sebenarnya tak perlu.

“Infant?” pramugari itu kembali bertanya. Saya jawab dengan anggukan.

“Bisa lihat boarding pass nya” dia masih ngeyel juga.

Saya kasih lah boarding pass kami, setelah itu baru dia meninggalkan kursi kami. Heran juga, kenapa dia sampai meragukan bahwa anak saya ini infant? Saya sudah melalui proses chek-in dengan menunjukkan identitas diri dan juga copy akte kelahiran anak saya, kok di dalam pesawat masih diragukan. Artinya kan si pramugari ini nggak percaya ama mbak-mbak di bagian chek-in.

Ah, sudahlah. Saya berusaha memaklumi. Postur anak saya yang bongsor memang meragukan banyak orang bahwa usianya baru 19 bulan. Jadi, pelajaran buat teman-teman yang punya anak bongsor, bawalah selalu copy akte anak anda kemana-mana, agar jika ada yang meragukan usia anak anda, anda bisa tunjukkan buktinya.

Prosedur peragaan keselamatan selesai, pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu. Hiya… siap-siap terbang.

Eits, tapi kok belum jauh bergerak, pesawat berhenti lagi. Ditunggu-tunggu tak juga bergerak. Ada masalah kah? Jadi ingat pernah juga ngalami kayak gini, pesawat dah bergerak, tapi lalu berhenti lagi. Ditunggu beberapa saat, terus penumpang disuruh keluar karena ada masalah teknis. Apakah kali ini juga seperti itu. Dalam hati berharap jangan, biar cepet sampai bengkulu, ketemu si sulung sama papanya.

Setelah menunggu, yang rasanya lamaaaa sekali, pesawat mulai maju lagi pelan-pelan. Tapi belum lama, kok berhenti lagi. Dari jendela kaca, saya dapat melihat moncong pesawat lain, karena posisinya pas di belokan. Tahulah saya, kenapa tadi berhenti lama. Rupanya pesawat ini lagi ngantri untuk menggunakan landasan pacu.

Menunggu lagi, lalu terlihat ada pesawat landing. Abis itu antrian pesawat di depan mulai bergerak, siap-siap take off. Pesawat yang saya tumpangi pun maju sedikit. Tapi ternyata bukan ngambil posisi take off. Masih menunggu lagi, ada satu pesawat landing, barulah pesawat yang saya tumpangi mengambil posisi dilandasan pacu. Saya bisa melihat ada antrian pesawat juga di belakang pesawat saya. Saya baru sekali ini mengalami ‘kemacetan’ lalu lintas pesawat.

Sekitar jam 2 kami sampai di bengkulu. Terlambat setengah jam dari jadwal. Padahal boarding tepat waktu. Rupanya lama juga tadi antrian pesawat untuk take off, sekitar setengah jam.

Saya tak tahu ada berapa landasan pacu yang dimiliki bandara soekarno hatta, tapi dari kejadian antrian itu, kayaknya kok perlu ditambah lagi.

Iklan

4 thoughts on “[Trip] Malang – Bengkulu

  1. Eh iya, kemana2 bawa copy akte kelahiran anak memang perlu, apalagi kalo anaknya usianya udah mo hampir dua tahun dan kalo dipangku tingginya udah ngelewatin dagu kita dan apalagi kalo badannya bongsor kayak Nayla 😀

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s