WisataKu

[Trip] Bengkulu – Pagar Alam

Di bengkulu sebenarnya ada beberapa tempat yang layak untuk dikunjungi. Berhubung waktunya singkat disana, maka beberapa tempat cukup dilewati saja, plus sedikit penjelasan dari suami.

21 Maret, sore hari, saya diajak ke Pantai Panjang. Kata orang sana, diberi nama pantai panjang karena memang ukuran pantainya panjang :). Menyusuri pantai dan bermain-main dengan ombak sebentar. Lalu dilanjutkan mencari tempat orang jual ikan hasil tangkapan laut.

   

Yang paling menarik, tentu saja kepiting. Milih-milih yang bagus dan besar-besar. Setelah ditimbang hampir 2 kilo, harganya? Murah banget menurut saya, cuma 15 ribu rupiah! Bakal puas nih makan kepiting.

Habis beli ikan, kami mampir ke warung-warung yang ada disepanjang pantai. Menikmati jagung bakar dan kelapa muda. Sayang, jagungnya sudah nggak segar lagi, jadi rasanya tak lagi manis. Selama duduk di warung beberapa kali ada pengamen datang. Beberapa kali ada pedagang gorengan datang, masih anak-anak dan agak dekil. Menjajakan macam-macam gorengan, kepiting goreng, rempeyek ikan, telur puyuh goreng, tahu, pisan, tempe dan banyak lagi. Kepitingnya 10 ribu dapat tiga, tapi kecil-kecil. Berhubung tadi dah beli kepiting, maka cukup beli tahu goreng aja.

Sepulang dari pantai, saya mandiin anak-anak. Mbak dan ponakan bikin sup kepiting. Selesai mandi, makan besar deh.

***

22 maret, dirumah aja bantu-bantu mbak masak. Sore hari menengok kerabat yang terpaksa mendekam di LP. Pengen nangis waktu ketemu dia, nggak menyangka kalau dia harus menghabiskan lebih dari setahun hidupnya di dalam LP. Kami datang bukan di jam berkunjung, untuk itu sodara saya harus menyelipkan uang pada petugas penjaga, saya lirik kayaknya 50 ribu.

Malamnya mulai banyak kerabat datang, rumah jadi tambah ramai. Besok rencana mau ke pagar alam, acara lamaran keponakan saya. Suami dah kasih tahu kalau jalannya berliku-liku dan perjalanan bisa 4 jam lebih. Karena saya ini suka mabuk kalau naik kendaraan apalagi jalannya berbelok-belok, maka suami menyarankan saya dan anak-anak nggak usah ikut. Saya sih ok aja, dengan syarat, suami yang harus bilang pada mbak bahwa saya nggak bisa ikut.

***

23 Maret, dari pagi orang-orang sudah sibuk. Masak, antri mandi, antri sarapan. Rencana berangkat ke pagar alam jam 10. Sudah setengah sepuluh dan saya belum mandi, rencana saya mandinya ntar aja setelah mereka berangkat. Eh, si mbak nanya kenapa saya tak segera mandi. Saya jawab kalau saya nggak ikut. Mukanya langsung berubah.

“Kamu jauh-jauh datang dari jawa untuk acara ini kan? lalu kenapa nggak ikut” si mbak protes.

“Mobilnya nggak muat” demikian alasan saya. Karena malamnya saya dan suami dah menghitung jumlah mobil dan juga pesertanya. Hasilnya, kalau semua ikut pasti desak-desakan.

“Ada tambah satu mobil lagi. Kamu harus ikut!” yah nggak bisa berkelit lagi deh.

Akhirnya buru-buru mandi dan packing pakaian. Siapin susu buat anak-anak juga.

Jam 11 siang, berangkat juga kami.

***

Keluar dari kota bengkulu, jalannya benar-benar berliku. Si adek dalam pangkuan sudah memuntahkan isi perutnya. Kasihan anakku ini, padahal belum ada 1 jam kami berjalan. Tak lama, si Abang yang duduk di depan ikut pula memuntahkan isi perutnya. Wuah, anakku dua-duanya mabuk. Tinggal aku aja nih, nunggu waktunya.

Jauh banget sih…. demikian pikirku. Mencoba tetap konsentrasi menatap jalan di depan. Perut sudah mulai terasa tak enak. Akhirnya tak bisa dibendung lagi, isi perut saya pun keluar. Tak cuma sekali.

Tak usah diperpanjang lah bagian ini.

***

Menjelang magrib sampailah kami di pagar alam. Udaranya dingin. Kami menuju tempat menginap di villa kaki gunung Dempo. Antri mandi, lalu siap-siap menuju ke tempat calon pengantin untuk acara lamaran.

Acara lamaran berjalan lancar. Menjelang jam 11 malam kami sampai lagi di villa. beberapa orang berkumpul di luar, mengobrol. Saya memilih menemani anak-anak tidur. zzzzz…………zzzzz………

Iklan

6 thoughts on “[Trip] Bengkulu – Pagar Alam

  1. Jalur darat Sumatera memang berliku-liku banget, mbak. Jalur yang mbak lalui juga sudah beberapa kali saya lalui. Untung saya gak punya bakat gampang mabuk, jadi aman2 aja. Cuma ya itu, sepanjang perjalanan saya milih tidur biar gak pusing. Makanya sekarang udah malas kalo disuruh dinas ke daerah2, kebayang bawa anaknya itu, kasian anaknya…

    Duh, jadi bertiga pada mabok ya mbak…mungkin memang sebenarnya benar kata suaminya gak usah ikutan aja ya. Tapi lumayanlah bisa nambah pengalaman baru. Bisa liat Pagar Alam yang gak ada apa2nya kecuali kebon teh 😀

    Btw, keluarganya asli Sumatera to mbak?

    1. iya, suami asli bengkulu dan keluarga besar suami dibengkulu semua, klo saya asli jawa.

      ternyata nggak cuma kami bertiga yang mabuk, rombongan dimobil lain juga banyak yang mabuk. Sampai-sampai pas berhenti istirahat banyak yang bilang “buat yang lain, jangan cari istri jauh-jauh lah, teler kita dijalan” 🙂
      Langsung aja saya jawab, klo dapat orang jawa gpp, kan bisa naik pesawat, jadi cepet sampai 🙂 🙂

  2. Asslm. Mbak sya orang pagarlam punya rbcana mau mudik, kira2 klo dr bandara bengkulu ke pagaralam berapa jam yah?slm ini sll pulkam lwt plmbng. Tq banget jwbannya

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s