WisataKu

[Trip] Pagar Alam – Manna – Bengkulu

Terbangun di pagi hari, 24 Maret. Masih di villa di kaki gunung Dempo. Mumpung anak-anak masih tidur, sempatkan jalan-jalan keluar sebentar. Melihat hamparan kebun teh, berharap dapat melihat rombongan ibu-ibu dengan bakul dipunggung dan tangan cekatan memetik pucuk-pucuk daun teh. Tapi saya tak menemukan itu. Yang saya temukan adalah serombongan bapak dengan beberapa mesin dan karung. Lalu terdengar suara bising. Oh, rupanya memetik daun teh tak lagi pakai tangan. Dengan menggunakan mesin maka akan lebih cepat. Saya baru tahu sekarang.

 

Sekitar pukul 9 kami tinggalkan villa. Mampir warung makan. Telat banget jam segitu baru sarapan. Habis sarapan disambung rapat keluarga sebentar, sambil menunggu para ‘sopir’ mencari pasokan bahan bakar. Usai sarapan, rombongan naik lagi. Pengen foto-foto di kebun teh.

Foto-foto tak kesampaian. Muter-muter aja dan akhirnya nemu sebuah toko yang jual souvenir. Rame-rame borong macem-macem teh, ada juga yang beli kaos. Dari sini, rombongan dipecah menjadi dua. Satu menuju Manna (Bengkulu selatan), satu lagi balik ke kota Bengkulu. Saya termasuk dalam rombongan yang menuju Manna, karena mau nengok mertua.

Mampir dulu ke pasar, belanja oleh-oleh. Jam 3 an kami meluncur meninggalkan Pagar Alam. Jam 3 tapi matahari masih terang banget, kayak jam 1 an kalau di malang. Alhamdulillah perjalanan lancar, walau jalan berliku, tak ada satupun yang mabuk. Di perjalanan ini, saya nggak kasih susu pada anak-anak. Belajar dari perjalanan kemarin, kalau habis minum susu tak berapa lama mereka muntah. Jadi kali ini jika anak-anak minta minum, saya kasih aja teh. Di masukkan dalam botol susu mereka. Dan manjur, anak-anak ceria, saya juga nggak muntah walau kepala agak pusing.

Menjelang magrib sampai juga di kecamatan seginim. Menuju rumah kakak ipar, langsung disembelihin ayam. Ibu mertua di jemput ke rumah kakak. Sayangnya pas disana mati lampu. Jadi mandi dalam keremangan. Untung masakan sudah matang, lampu menyala. Jadilah makan bersama dalam suasana terang benderang.

Menjelang jam 8, kami pindah. Meluncur menuju rumah mertua. Mertua tinggal berdua saja dengan salah satu cucunya. Ngobrol-ngobrol lagi hingga menjelang jam 9. Siap-siap lagi buat menempuh perjalanan menuju kota Bengkulu.

Capek betul. Tapi pertimbangan suami, kalau kami pulang malam ini, saya dan anak-anak nggak bakal mabuk karena pasti tidur sepanjang perjalanan. Kalau baliknya besok pagi, takutnya kami bertiga bakal mabuk. Jadilah jam 9 kami jalan lagi. Nggak enak juga sebenarnya membiarkan suami nyetir sendirian tanpa teman ngobrol. Tapi berhubung mata saya sudah berat, dan suami tak mempermasalahkan ditinggal tidur, maka saya pun segera menyusul kedua anak yang sudah terlelap duluan.

Zzzzz…….. terbangun sudah nyampai depan rumah. Jam 1 lewat. Nurunin anak-anak, lalu tidur lagi. Pengennya bangun siang. Tapi rupanya jam 5 mata sudah terjaga. Kebiasaan di malang bengunnya pagi-pagi. Padahal dibengkulu itu, jam 5 masih gelap. Pengen tidur lagi tapi tak bisa. Cuma bisa menatap iri anak-anak dan suami yang masih terlelap.

Ternyata anak-anak kuat juga diajak menempuh perjalanan darat yang demikian panjang dan lama, dengan rute yang berliku-liku. Anak-anak petualang, jadi dari kecil harus dibiasakan 🙂

Ada beberapa hal yang dapat saya petik dari perjalanan panjang ini :

  1. Mengingatkan diri untuk selalu bersyukur. Terbiasa menempuh jalan lurus dan mulus, di Sumatra ketemu jalan berliku dan banyak yang rusak. Disuguhi pemandangan alam yang hijau, perkebunan dan hutan.
  2. Ketemu dengan banyak orang baru, belajar budaya baru.
  3. Perencanaan dalam sebuah perjalanan itu sangat penting, pengetahuan terhadap jalan dan jangan malu untuk bertanya. Di Pagar alam, beberapa kali rombongan tersesat dan muter-muter, dan para sopir enggan untuk berhenti bertanya.

***

Ke bengkulu tak lengkap rasanya jika belum makan durian. Durian besar-besar, rasanya manis dan murah harganya, yang pastinya tidak akan saya dapatkan di Malang. Jadi mumpung masih ada waktu 2 hari disana, puas-puasin makan duren

Iklan

18 thoughts on “[Trip] Pagar Alam – Manna – Bengkulu

  1. wah. . .
    bengkulu jauuh banget mbaa. . . 😉
    hanya bisa membayangkan perjalanan tersebut, walaupun lelah tapi senang kan mba?
    nikmatnya bisa jalan2 ke kebun teh. . pastii seger. 😉

    1. klo yang ini tadi sempat mampir di spam 🙂
      tapi sekarang dah di tendang ke posisi yang benar hehehe

      bengkulu deket kok, naik pesawat dari malang cuma sekitar 3 jam 🙂

  2. perjalanan panjang yang melelahkan tapi mengasyikan Mbak ya ??
    menempuh perjalanan jauh badan harus fit kalau gak bisa masuk angin hehe….
    dan,,,sayang Mbak hamparan perkebunan tehnya tak terabadikan lewat jepretan kamera..

    1. yup, lelah, tapi seneng juga. Lebih senang lagi kalan anak-anak ceria menanyakan hal-hal baru yang dilihatnya sepanjang perjalanan. Sayangnya anak-anak (dan juga saya 🙂 ) lebih banyak tidur sepanjang jalan hehehe.
      ada kok beberapa fotonya. tapi koneksi di kantor lambat banget, ntar klo koneksi lagi bagus ditambahkan 🙂

    1. hihihi iya pemandangannya menyenangkan, suasananya menyenangkan, sopirnya juga menyenangkan, tempat-tempat yang disinggahi juga menyenangkan. Cuma satu yang nggak menyenangkan : MABUK 🙂

  3. wah mbak…dari ceritanya keren gitu tempatnya..adem sejuk serasa di puncak jawa barat yah…hmm rindu suasana pegunungan nan sejuk..
    apalagi itu photo duriannya..hmmm…………….pingin…:)
    perjalanan yagn indah yo mbak…bener..dari setiap perjalanan semoga semakin mempertebal iman kita..banyak banyak bersyukur sama allah swt 🙂

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s