PengalamanKu

Kisah Putra Daerah yang sedang Galau

Usianya di awal 30 an. PNS golongan IIIb. Putra daerah. Punya semangat yang tinggi untuk memajukan pendidikan di daerahnya. Seorang guru yang punya banyak sambilan di luar dan mau membagi pekerjaan pada anak didiknya, biar anak-anak punya jiwa wirausaha. Tentunya pekerjaan yang diberikan pada anak didiknya tak jauh dari materi pelajaran yang diberikannya, teknik gambar bangunan.

Awal diangkat menjadi PNS, dia diserahi tanggung jawab untuk merintis sebuah sekolah menengah kejuruan. Dari mulai pencarian lokasi, penjaringan calon siswa, pencarian dana hingga pembangunan gedung. Sekolah yang awalnya menumpang, dengan jumlah siswa tak sampai 20 orang dengan 2 pengajar, akhirnya berkembang pesat. Dia pandai melobi pejabat setempat, hingga membuat proposal ke kemdiknas. Akhirnya banyak dana yang dapat diperoleh, dan sekolah itu bisa punya gedung sendiri, jumlah siswa juga makin banyak, demikian pula jumlah guru.

Sekolah yang mulai berkembang bagus, akhirnya memicu orang-orang untuk saling berebut peran. Muncullah orang-orang yang menampakkan diri seolah-olah paling berjasa dalam pendirian sekolah tersebut. Sang guru muda tak mau ikut larut dalam perebutan penampilan peran. Dia memilih mengundurkan diri dan minta dikembalikan ke sekolah asal pertama kali dia ditempatkan. Kepala daerah memintanya untuk tetap disana, tapi dia tetap menolak. Akhirnya dia pun kembali ke sekolah pertama dia ditempatkan.

***

Disekolah yang kini menjadi tempatnya mengabdi, dia akhirnya menempati posisi wakil kepala sekolah yang membidangi manajemen mutu. Selain itu, dia juga dipercaya oleh kepala dinas untuk menjadi ‘staf ahli’ di kantor dinas pendidikan propinsi. Pernah dia ditawari menduduki jabatan Kepala seksi (kasi) di dinas tersebut, namun ditolaknya. Cara penolakannya tergolong unik dan membuat sang kepala dinas tak bisa memaksa lagi

“Orang tua saya ingin naik haji. Saya sedang mengumpulkan biayanya yang berasal dari tunjangan sertifikasi profesi yang saya peroleh tiap bulan. Saya bersedia menduduki jabatan kasi di tempat bapak dengan satu syarat, Bapak membiayai kedua orang tua saya untuk naik haji”

Dan sang kepala dinas pun menjawab “Biasanya, orang membayar saya agar bisa menduduki jabatan tertentu. Ini kok malah saya yang harus membayar kamu”

***

Kini jabatan kepala sekolah di tempatnya sedang kosong, karena kepala sekolah yang lama sudah naik jabatan. Karena dia putra daerah dan dipandang punya kemampuan, dia diminta membuat analisis sumber daya manusia di sekolah tersebut, siapa saja yang menjadi kandidat kuat untuk memduduki jabatan kepala sekolah.

Hasil analisisnya adalah pak X, yang sekarang menduduki jabatan sebagai wakil kepala sekolah bidang …. (lupa bidang apa).ย  Maka, diapun mengeluarkan rekomendasi bahwa pak X lah yang memenuhi syarat untuk menggantikan kepala sekolah yang lama. Namun, rekomendasinya ini mendapat penolakan dari berbagai pihak, dengan alasan pak X berasal dari luar daerah. Mereka ingin, kepala sekolah yang baru adalah putra daerah.

Pak guru ini pun lantas mengatakan bahwa untuk saat ini, belum ada putra daerah yang layak! Kepala sekolah lama pun orang luar daerah, tapi karena menikah dengan orang asli sana, maka dulu tingkat penolakannya relatif rendah. Tapi pak X, orang luar daerah, istrinya pun orang luar daerah. Pak guru ini pun menyarankan pihak terkait, bahwa jika ingin kepala sekolahnya putra daerah, maka mulai sekarang putra2 daerah harus banyak dibina, diberikan kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya.

Kini pak guru sedang galau. Jika rekomendasinya terhadap pak X di tolak, maka dia harus bersiap memiliki kepala sekolah yang tidak kompeten, yang pada akhirnya pasti akan menambah beban kerjanya. Apalagi jika kepentingan politik telah ikut mengambil peran. Yang diangkat adalah orang yang dekat dengan penguasa, tanpa memperhatikan bagaimana kemampuannya. Sepertinya apa yang sudah dirintis sekian lama oleh kepala sekolah lama demi kemajuan sekolah, akan mengalami kemunduran lagi

Saya lalu menanyakan, kenapa buka dia saja yang mencalonkan diri? Dia menjawab bahwa dengan kemampuan yang dimiliki, dan kelebihannya sebagai putra daerah, maka dia adalah calon terkuat kedua setelah pak X. Tapi dia masih terlalu muda, golongannya baru IIIb, dan ini tak memenuhi syarat untuk menjadi kepala sekolah.

***

Hanya bisa berharap semoga pejabat terkait mau berpikir untuk kemajuan daerahnya, tanpa membedakan darimana asal orang-orang yang turut berperan didalamnya

Iklan

12 thoughts on “Kisah Putra Daerah yang sedang Galau

  1. Sifat kedaerahan yang salah kaprah masih terlalu kuat melekat pada beberapa orang.

    Mereka lupa bahwa alam bukan milik siapa-siapa melainkan Dia. ๐Ÿ™‚

    Rupanya bukan hanya para murid yang masih perlu memperoleh pelajaran/pendidikan, tapi para guru juga. ๐Ÿ˜€ #ironi

    1. sejak diberlakukan otonomi daerah, memang banyak kejadian seperti itu mbak.
      malah ada pengalaman yang lebih menggemaskan lagi, saat instansi saya (milik pemerintah pusat) mengadakan pelatihan untuk para kepala sekolah. Pelatihan dilaksanakan di daerah bersangkutan, undangan langsung dari pusat. Pas nyampe lokasi, tak ada satupun peserta yang datang.
      Setelah ditelusuri, para kepala sekolah itu tak ada yang datang karena dilarang oleh kepala dinas. Alasannya karena instansi pusat tidak “permisi” dulu pada kepada kepala dinas

  2. baca secara keseluruhan post ini, saya jadi bertanya kapan Negeri ini akan maju, kalau para pengambil kebijakan dan sebagian oknum cuma memikirkan diri sendiri.. sementara orang yang berjasa dan punya kemampuan terpinggirkan atau di pinggirkan…

      1. saya hanya bisa berdoa semoga kedepan negeri ini akan punya para pengambil keputusan yang benar benar mau membawa negeri ini ke arah yang lebih baik…

  3. Kenapa gak beliaunya aja yang dinaikkin golongannya ya mbak?

    Sebenarnya untuk persoalan ‘putra daerah’ ini di satu sisi memang menguntukan sih mbak. Pertama, kalo orang daerah setempat pada umumnya kebijakan yang ia buat akan lebih mudah diterima oleh masyarakat sekitar karena ybs juga seharusnya lebih mengerti mengenai kondisi masyarakat. Kedua, jika yang diangkat sebagai pejabat di situ adalah orang yang keluarganya juga tinggal di situ, maka tentu akan membantu ybs untuk lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya di mana ia gak perlu sering memikirkan untuk ‘pulang’ ๐Ÿ™‚

    1. naik golongan kan ada prosedurnya mbak. dan kalaupun bisa pasti ada pihak2 yang tetap nggak suka dan mungkin bikin ulah.
      soalnya udah ada orang yang berminat jadi kepala sekolah disitu, mencoba mencari dukungan dengan mengumpulkan tanda tangan warga sekitar. Wah, udah kayak pilkada aja

      1. dengan otonomi daerah dan kebijakan manajemen berbasis sekolah, maka posisi kepala sekolah menjadi ‘lahan basah’ , makanya banyak yang pengen. Padahal tanggung jawab kepala sekolah itu sejatinya sangat berat lho

  4. Menyimak kisahnya…hmm…itulah keadaan sekarang ini…
    hmm sifat manusia..giliran dah maju bingung klaim ini itu…yang jadi dalang malah ditendang..
    semoga diberikan jalan yang terbaik..
    mengabdi dengan hati, insyallah Allah memberikan jawaban yang terbaik..:)

    1. sayangnya, setelah kena kipas-kipas kanan kiri, prinsip mengabdii dengan hatinya bergeser jadi mengabdi karena duit, mengabdi karena mengharap jabatan ๐Ÿ˜ฆ

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s