PengalamanKu

Komunikasi, Itulah Kuncinya

Menjalani kehidupan pacaran jarak jauh (Korea – Malang) selama 2 tahun. Menjalani kehidupan rumah tangga, dimana lebih sering berada ditempat terpisah dibanding tinggal satu rumah selama hampir 4 tahun (Bengkulu – Malang). Tentu saja berat bagi kami berdua. Bukan kami tak ingin tinggal bersama dalam satu atap. Namun kondisi saat ini belum memungkinkan kami tinggal bersama.

Komunikasi, saling terbuka, saling percaya, itu yang membuat hubungan kami tetap berjalan baik hingga sekarang. Bukannya kami tak pernah bertengkar, bukannya kami tak pernah berselisih paham, bukannya kami tak pernah memendam kejengkelan. Semua itu pernah terjadi dalam hubungan kami. Namun, jarak yang jauh membuat kami tak sempat berlama-lama untuk melakukan hal itu. Tak bisa lama-lama marahan. Masa nelponi mahal-mahal hanya untuk marahan?

Yang paling berat, adalah mengatasi rasa sepi, terutama buat suami. Kalau saya, pulang kerja ada anak-anak. Malam anak-anak tidur, tak lama kemudian saya juga pasti ikut tertidur. Sementara suami, pulang kerja tak ada orang di rumah. Karena itulah, sejak maret kemarin, kami sepakat, anak pertama ikut suami ke Bengkulu. Ada bude dan neneknya disana, bisa dititipi kalau ditinggal kerja oleh suami.

Tentu saja berat bagi saya melepas babang yang belum genap 3 tahun usianya, ikut merantau sejauh itu. Memisahkan dia dari dd, teman bermainnya setiap hari. Namun saya yakinkan diri saya, bahwa babang dalam pengasuhan papanya, dia pasti akan baik-baik saja. Ada satu peristiwa besar yang memperkuat keinginan suami untuk membawa babang kesana.

Suatu hari, babang badannya panas. Namun ia tetap lincah bermain. Kebetulan saat itu suami sedang pulang ke malang. Sebenarnya kami ingin babang segera tidur malam itu karena suhu badannya yang tinggi. Kami memang belum memberikan obat padanya. Kami memang tak mau buru-buru kasih obat kalau anak-anak sakit. Biar mekanisme kekebalan alaminya bekerja. Kalau badannya panas, biasanya saya balur aja ama campuran minyak kayu putih dan bawang merah.

Jam 8 an, saya menidurkan dd, dan biasanya ikut pula tertidur 🙂 . Babang masih asyik bermain dengan suami di ruang tengah. Saya terbangun karena teriakan suami, minta diambilkan air dingin. Masih setengah mengantuk saya ke kamar mandi. Suami teriak menyuruh saya lebih cepat ngambil airnya. Buru-buru saya bawa air dari kamar mandi ke ruang tengah. Alangkah terkejutnya saya melihat babang kejang-kejang dalam pelukan suami.

Segera kami baluri tubuh babang dengan air dingin, bergantian kami panggil nama babang. Saya basuh kakinya dengan air dingin sambil saya urut2, sementara suami membasuh muka dan kedua lengan babang. Saat itu saya panik sekali, air mata mulai jatuh. Saya menyesal, kenapa tadi saya tidur duluan? Kenapa tak nungguin babang disaat suhu tubuhnya naik?

Rasanya lama sekali babang kejang, matanya kadang mendelik, lalu terpejam perlahan-lahan. Saya dan suami kontak berteriak memanggil nama babang jika matanya mulai memejam. Terus terang saya sangat takut, dalam hati saya berucap “YA Allah, jangan ambil babang!”

Pelan-pelan kejangnya mereda dan berhenti, nafasnya mulai teratur, dan dia tertidur kembali. Kami lalau berunding dan memutuskan membawanya ke rumah sakit, takut kalau nanti kejang lagi.

Peristiwa itulah yang menguatkan niat suami untuk membawa babang bersamanya. Dia membayangkan jika saya sendirian di rumah, bersama dua anak batita dan salah satunya kejang. Apakah saya sanggup?

Hampir 3 bulan sudah, kami mengasuh masing-masing satu anak. Sepertinya suami jadi lebih tenang disana. Jika sebelumnya, malam-malam dia pasti telpon, maka sekarang tak lagi setiap malam. Jika saya tanya kenapa tak menelpon, atau kenapa telpon saya tak diangkat, jawabannya adalah “lagi asyik main sama babang…. lagi jalan-jalan ama babang dan nggak bawa hp….  menidurkan babang dan ikut tertidur pula”. Dengan membawa babang pula, godaan terhadap suami menjadi jauh. Jika sebelumnya, ada saja wanita yang mencoba mendekati suami, yang sering diceritakannya dan pastinya menyulut rasa cemburu saya. Maka kini, para wanita itu menjauh, karena suami selalu membawa babang kemana-mana, bahkan sering diajaknya pula ke tempat kerja.

Demikianlah akhirnya, saya harus bersabar menjawab pertanyaan dd tentang dimana papa dan babangnya, yang sering sekali diajukannya. Suami juga tak pernah bosan menjawab tanya babang tentang keberadaan mama dan adiknya. Semoga kami segera dipersatukan, itulah harapan kami setiap saat. Karena walaupun sama-sama membawa satu anak, tetap saja berat bagi kami berempat, menjalani kehidupan rumah tangga dengan jarak berjauhan.

Iklan

16 thoughts on “Komunikasi, Itulah Kuncinya

  1. Dengan jarak yang memisahkan, komunikasi dan keterbukaan akan menumbuhkan saling percaya yang pada akhirnya menjadikan jarak bukanlah sebagai masalah utama. Apalagi dengan tanggung jawab masing2 dalam mengasuh buah hati kesayangan.

    1. yup, harapannya seperti itu.
      Jarak mungkin sudah tak jadi masalah, yang masih sering mengganggu dan bikin galau adalah perkembangan anak-anak. Satu dibesarkan jauh dari papanya, satu dibesarkan jauh dari mamanya.

  2. Duh…berat ya mbak..tapi semua pasti akan baik2 aja ya mbak.. Semoga segera bisa nyatu kembali ya mbak, walopun kita kuat2 aja hidup jauh2an tapi tetep kondisi yang terbaik adalah kalo selalu bisa ngumpul ya mbak 🙂

  3. Jeng Nanik, semoga semua dimudahkanNya ya, menjalani keluarga jarak jauh. Dengan komunikasi intens smoga babang dan dede pun saling mengisi. Salam

    1. amiin…… iya bunda, yang paling susah kadang adalah membujuk anak2 untuk mau ngomong di telpon. Babang suka ngambek kalau cuma dengar suara mamanya tanpa melihat wujudnya, dd juga kadang nggak mau ngomong di telpon karena maunya lihat papa dan babang dihadapannya, bukan cuma suaranya

    1. eh, malam-malam masih ada tamu juga ya, makasih kunjungannya.
      Terkadang tanpa komunikasi jg membuat kesalah pahaman.. <== pengalaman pribadi nih? hehehe

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s