PengalamanKu

Menulis Layaknya sedang Bertutur

Membaca buku cerita, terutama karya fiksi selalu membuat saya betah melek hingga dini hari. Alur cerita yang menarik tentunya membuat saya merasa enggan untuk meletakkan buku itu. Buku-buku tebal seperti Musashi dan Taiko pun dapat saya selesaikan dalam 2 hari. Itu dulu, saat masih lajang. Sehingga saya bisa seharian berdiam diri dikamar. Berhenti membaca hanya untuk sholat, makan bisa ditunda, bahkan rasanya laparpun tak ada.

Kini, saya masih tetap suka begadang membaca. Kini kesempatan saya menikmati buku bacaan hanya dimalam hari, kala anak-anak sudah lelap. Karena jika mereka masih melek dan melihat saya mengambil buku, maka merekapun akan ikut mengambil bacaan mereka, menyodorkan pada saya dan minta diceritakan isi bukunya. Alhasil, batal lah saya membaca buku saya sendiri.

Namun, tak jarang juga saya kecewa setelah membeli buku cerita. Alur ceritanya tidak menarik. Klo sudah begini, biasanya saya tidak akan tuntas membaca šŸ™‚

Bagaimana sih supaya tulisan jadi menarik dan tidak membuat pembaca bosan?

Saya punya kenalan seorang penulis dan editor. Buku karangannya sudah lumayan banyak. Bukan buku cerita, tapi buku agama. Yang menarik adalah, teman saya itu, walaupun menulis buku agama (yang bagi sebagian orang adalah bacaan berat) tapi dia menuliskannya layaknya sebuah buku cerita.

Bagaimana resepnya?

Menurutnya, anggaplah buku itu lawan bicara kita. Jadi menulislah seolah-olah kita sedang bercerita secara langsung. Usahakan “ada interaksi” antara buku dan pembaca. Usahakan agar pembaca enggan melepaskan buku dari tangannya.

Realnya bagaimana?

Ya, buatlah tulisan itu jadi hidup. Caranya? pilihan kata dan susunan kalimatnya harus tepat.

Menuliskan pengalaman yang pernah dialami, pastinya lebih mudah. Penghayatan yang tinggi membuat tulisan jadi hidup. Lalu bagaimana jika menuliskan hal-hal yang belum pernah kita alami? Pastinya susah kan?

Disinilah perlunya observasi. Penulis harus mencari sumber informasi sebanyak-banyaknya, sebagai referensi untuk membuat tulisan. Bisa dari tulisan orang lain, bisa juga dari dialog langsung dengan orang yang pernah mengalaminya. jadi, penulis itu pasti pembaca yang baik. Bisa jadi, berbulan-bulan dia hanya membaca saja, dan setelah menulis hanya menghasilkan satu tulisan. Jika demikian, insyaallah tulisan yang dihasilkan adalah tulisan yang bermutu. Karena dihasilkan dari perenungan dan pengendapan setelah membaca banyak hal disekitarnya.

Dalam taraf mana diriku?

Klo aku sih, bisa dibilang penulis musiman. Musim ingin nulis ya nulis apa saja, kapan saja dan tentang apa saja. Tulisan ngawur yang sering terhenti di tengah-tengah karena setelah dibaca lagi, kok rasanya aneh šŸ™‚

 

Iklan

17 thoughts on “Menulis Layaknya sedang Bertutur

  1. Kok sama ya? Aku juga penulis musiman. Kalo lagi musim pengen nulis, bisa beberapa judul selesai dalam 2-3 hari. Kalo lagi musim malas, tulisan yg udah ada pun gag tersentuh… šŸ™‚

  2. Bergabung dalam barisan senang belajar menulis Jeng.
    Awalnya suka membela diri menulius adalah bakat, ternyata bakat tak cukup, latihan dan kesenangan menulis perlu dijajal.
    Selamat menulis Jeng nanik.

  3. salam kenal mba, wah salut, ditengah kesibukan mengurus keluarga, masih bisa nge blog, rajin lagi updatenya, jadi malu uni….

    btw, saya masih belajar untuk jadi penulis, yang mampu memikat para pembaca šŸ™‚

    1. saya nulisnya juga masih musiman kok Uni.
      Ngeblog itu jadi hiburan, klo dah capek dan bosan mengerjakan rutinitas sehari-hari. Refreshing dengan menulis dan membaca aneka macam tulisan

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s