PengalamanKu

Memimpikan ‘Diktat Kuliah Naruto’

Bergelut dalam dunia pendidikan, mau tak mau saya harus membuat bahan ajar untuk peserta didik saya. Ini bukan pekerjaan yang mudah. Terutama mengatasi rasa malas. Di kelas bisa berjam-jam menerangkan sesuatu, tapi begitu disuruh menuliskannya, nanti dulu. Belum tentu pembahasan berjam-jam tadi bisa menjadi tulisan berlembar-lembar. Untuk memulai lembar pertama saja susahnya bukan main.

Permasalahannya bukan sekedar menuliskan apa yang saya ucapkan, tapi karena modul ajar itu harus memenuhi kriteria tertentu. Nah, pemenuhan kriteria ini yang kadang susah untuk dilakukan. Emang apa saja sih kriterianya?

Ini, nih beberapa kriteria modul ajar yang baik :

  1. Self Instructional, artinya modul ajar harus bisa dipelajari oleh peserta didik secara mandiri, tanpa bantuan atau dengan bantuan seminimum mungkin oleh pengajar
  2. Self contained, artinya modul ajar harus mencakup deskripsi dan tujuan mata pelajaran, batasan-batasan, standar kompetensi yang harus dicapai, kompetensi dasar, indikator keberhasilan peserta, metode, rangkuman, latihan-latihan, yang secara keseluruhan ditulis dan dikemas dalam satu kesatuan yang utuh
  3. Independent, artinya modul ajar harus dapat dipelajari secara tuntas, tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain
  4. Self Assessed, artinya modul ajar harus memuat alat evaluasi pembelajaran untuk mengukur tingkat kecakapan peserta terhadap isi pembelajaran
  5. User friendly, artinya modul ajar harus memiliki sistematika penyusunan yang mudah dipahami dengan bahasa yang mudah dan lugas, sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tingkat pengetahuan peserta didik

Nah, itulah kriteria modul ajar yang baik

 

Berdasarkan pengalaman pribadi selama bertahun-tahun menjadi peserta didik, membaca buku pelajaran itu paling lama hanya bisa bertahan tak lebih dari satu jam. Yang ada adalah rasa bosan, karena bacaannya tidak menarik. Beda dengan kalau membaca buku cerita, bisa betah duduk tenang berjam-jam.

Dulu, saya punya cita-cita membuat ‘diktat kuliah naruto’. Keinginan ini terinspirasi dari melihat teman2 saya yang betah dan kelihatan asyik sekali membaca kisah naruto, nggak pernah mau ketinggalan melihat serialnya di layar televisi. Kenapa kisah naruto begitu ditunggu-tunggu kehadirannya sementara saat jam mata kuliah tertentu seolah-olah ingin dihindari, dan jika ‘terpaksa’ dihadiri, rasanya kok lama sekali.

Nah, saya pengen banget menuliskan salah satu bidang ilmu yang saya ajarkan dengan bahasa yang tidak kaku. Sehingga bagi yang membacanya tidak akan mudah untuk merasa bosan.

Tapi sampai sekarang belum kesampaian. Lagi-lagi karena 1) rasa malas yang sering banget menghampiri 2) susah banget untuk mulai menuliskan di lembar pertama 3) susah banget menjaga konsistensi dalam menulis

Iklan

10 thoughts on “Memimpikan ‘Diktat Kuliah Naruto’

  1. Sharing yang menarik Jeng Nanik.
    Budaya dengar dan tutur lebih kuat dari baca dan tulis.
    Sama Jeng kalau ngecuwis wasis, begitu menuliskan bahan yang dikecuwiskan tadi lho nylekitis.
    Selamat menulis Jeng. salam

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s