PengalamanKu

Pergi Pagi Pulang Malam

Tiga hari kemarin (senin – rabu, 11 – 13 feb) merasakan berangkat kerja pagi-pagi dan pulang ke rumah di malam hari. Ceritanya, saya dapat tugas untuk ke Krian, kota kecamatan di sebelah barat Surabaya. Berangkat dari malang jam 5 pagi, saat anak-anak masih tidur. Pulangnya, sampai rumah udah jam 8, untung anak-anak belum tidur.

Capek? Capek juga sih. Tapi kan tentunya sampai rumah nggak bisa langsung istirahat. Babang bilang kangen dan pengen ditemani main lego. Dd ikut-ikutan bilang kangen dan langsung minta di pangku sambil cerita dan nanya ini itu. Eh, suami ikut-ikutan cari-cari perhatian. Bener-bener serasa kayak super mom deh.

Dihari pertama, berangkat diiringi hujan. Mesti jalan kaki ke terminal, jalan becek jadi pakai sandal, sepatunya masukin tas dulu. Suami sakit, dari semalam bolak-balik ke wc, badannya sampai lemes. Makin berat deh rasanya mau ninggalin. Saat pulang babang sudah tidur. Tinggallah dd yang ribut ngajak main ini itu, minta di dongengi, minta digendong, minta di peluk, ngajak loncat-loncat. Suami masih lemes dan nampak pucat. Biarin ajalah di kamar, jangan di ganggu dulu. Niatnya abis dd tidur mau pijitin suami. Eh, si dd belum tidur, malah saya yang udah tidur duluan πŸ™‚

Hari kedua, cuaca cerah. Suami masih lemes badannya jadi nggak bisa ngantar ke terminal. Pulangnya, anak-anak masih terjaga semua. Langsung deh ribut, rebutan perhatian. Yah, satu-satu di ladeni. Sambil meyemangati diri, nggak boleh gampang emosi, aku pasti bisa, badanku pasti kuat, mata harus tahan berjaga beberapa jam lagi.

Hari ketiga, Suami dah agak baikan. Dah bisa ngantar ke terminal. Saat pulang jalanan macet, jadi jam 8 lebih baru sampai rumah. Badan sudah tak seprima kemarin. Sebelum pulang sak mau sengaja beli donut, buat “penebus” rasa bersalah pada anak-anak. Hari ini terakhir mama pulang malam, besok dah normal lagi.

Sampai jam 11 anak-anak tak mau diajak tidur, mata mereka masih seger aja. Akhirnya saya yang nggak kuat tertidur duluan di samping babang yang masih asyik dengan legonya dan dd yang asyik corat-coret di kertas.Β  Maafkan mama ya nak.

***

Jadi keinget cerita teman-teman yang kerja di jakarta dan berdomisili di bogor. Berangkat kerja pagi-pagi, nyampe rumah sudah malam. Saat berangkat anak masih tidur, saat pulang anak juga dah terkantuk-kantuk. Dirinya sendiri sudah capek. Capek karena macet diperjalanan, capek dengan kerjaan, capek dengan partner kerja atau konsumen. Dan ini bukan cuma tiga empat hari. Tapi setiap hari, 5 hari dalam seminggu.

Saya yang baru merasakan 3 hari aja rasanya nggak kuat. Ada rasa gimana gitu saat mau berangkat, lihat anak-anak masih terlelap. Demikian pun saat pulang, ada rasa bersalah karena waktu buat bermain dengan anak-anak tersita beberapa jam. Kebayang deh, badan udah capek maunya suasana rumah tenang, tapi anak-anak malah ribut karena rebutan perhatian. Aduh, emosi pasti jadi cepat naik.

Salut buat mereka-mereka yang dapat bertahan menjalani pergi pagi dan pulang malam selama bertahun-tahun. Salut bagi mereka, yang dapat tetap membagi waktu antara tugas dan memperhatikan keluarga.

Iklan

19 thoughts on “Pergi Pagi Pulang Malam

  1. Ala bisa karena biasa dan terpaksa kali yah mbak ..saya juga sering banget bayangin kawan kawan yang di jakarta kerja terus rumahnya dipinggiran..belom macet ini itu..pernah juga saya sedikit mengalaminya…dari sudirman kearah tangerang naik bis 3 jam saat jam pulang kerja..walah nggak sanggup…
    malang-krian..bisa membayangkan capeknya..:) semoga lekas kelar acaranya πŸ™‚

  2. Hehehehe, Untung posisi saya di Solo mbak. Jadi tidak merasakan ” Pergi Pagi Pulang Malam”. Dulu istri waktu blm nikah kerja di Jakarta dan mengalami seperti itu. Setelah nikah sama saya, eh malah keluar kerja. sekarang, Ibu Rumah Tangga Penuh (Full Time Mother) hehehehe. Salam Kenal dari Solo #blogwalking

  3. He he.. yah begitulah Mbak.
    Tapi kayanya itu soal kebiasaan juga Mbak.
    Kalau sudah setiap hari kaya gitu, lama-lama jadi terbiasa dan nggak terlalu lelah..Paling waktu awal-awalnya saja..
    Syukurlah sekarang sudah normal lagi jam kerjanya. Jadi anak-anak dan suami sudah mulaibisa mendapatkan perhatian normal kembali.

  4. Betul Bu …
    Saya tinggal di Tangerang Selatan …
    Dulu bekerja di Jakarta … jaraknya 25 km …. lama perjalanan 1.5 sampai 2 jam
    benar kata Ibu … pergi pagi pulang malam … tapi kalau sudah biasa … ya dijalani saja …

    Yang jelas … Sabtu – Minggu … itu saatnya saya melayani orang serumah …

    Salam saya Bu

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s