PengalamanKu

Marah vs Marah-marah

Senin pagi ini pengen nulis dan berbagi tentang marah dan marah-marah. Terinspirasi dari curhat seorang teman yang sering dapat “omelan” dari salah satu anggota keluarganya.

Pertama, tentang marah. Siapa yang nggak pernah marah, hayo tunjuk tangan. Saya mau belajar pada anda yang tidak pernah marah. Saya sendiri, kadang-kadang juga marah. Marah dengan suami, dengan anak-anak, dengan murid-murid saya, dengan teman sekantor, bahkan juga dengan orang tua. Biasanya, saya marah kalau apa yang saya harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Saya maunya sabtu minggu di rumah saja, beraktivitas bersama, masak dan makan olahan rumah, eh suami dah dandanin anak-anak rapi dan ngajak jalan-jalan dan otomatis makan diluar (ini kan pemborosan!). Saya maunya abis main, anak-anak merapikan mainannya, eh malah dilempar-lempar hingga berantakan kemana-mana, lalu bilang “mama aja yang bereskan”. Saya maunya murid-murid saya rajin membaca, hingga kalau diskusi dikelas suasananya bisa hidup, semua berpartisipasi, eh mereka malas baca, acara diskusi lagi-lagi saya yang banyak ngomong.

Jika sedang marah, yang paling kelihatan dalam diri saya adalah nada suara yang langsung naik. Saya ngomong biasa, seperti ngobrol aja, cuma nada suara lebih tinggi. Jika nada suara saya sudah naik, biasanya suami langsung diam, anak-anak mendekat, merajuk sambil bilang “aku kan cuma… mama jangan marah”

Kedua, tentang marah-marah. Nah, ini yang sebisa mungkin saya hindari. Marah-marah itu tindakan tak berguna menurut saya. Marah-marah ini mungkin biasa di sebut dengan “ngomel”. Kalau lagi marah, maka yang keluar dari mulut bukan lagi masalah yang bikin marah pada saat itu, tapi sudah merembet mengungkit-ungkit segala hal yang tak ada hubungannya.

Apa kita nggak boleh marah? Menurut saya boleh, marah itu manusiawi kok. Salah satu sifat manusia yang melekat pada setiap pribadi. Yang membedakan mungkin cara mengelola marah itu. Marah sesaat atau berkepanjangan. Marah di satu pokok masalah atau merembet ke mana-mana.

Apa anak-anak tak boleh lihat kita marah? Menurut saya boleh, biar anak tahu kalau kita marah dan apa yang membuat kita marah. Yang tak boleh adalah marah-marah tanpa ada ujung pangkalnya.

Contoh marah : “Mama nggak suka lihat rumah berantakan gini, selesai main, semua mainan HARUS dirapikan lagi!”

Contoh marah-marah :”Mama kan sudah sering bilang, kalau selesai main, semua mainan itu harus dirapikan. Ayo, mau ngrapikan nggak sekarang? kalau nggak dirapikan, besok lagi nggak boleh main! Kalian ini kenapa sih susah banget nurutin kata-kata mama. Mama ini sudah capek seharian kerja, ngurusin kalian, beresin rumah. Eh, kalian disuruh beresin mainan aja nggak mau. Bla… Bla.. Bla…”

Nah, sudah bisa membedakan antara marah dan marah-marah kan?

Iklan

10 thoughts on “Marah vs Marah-marah

  1. Woow..kl saya dua-duanya tuh mba’, ya marah ya marah-marah. Tp biasanya sy mulai marah jk marah-marah sy gak direspon πŸ˜€
    Tp skrg sy berusaha mengurangi marah-marah sy biar gak cepet tua..heheh
    Salam kenal yaa πŸ™‚

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s