PengalamanKu · SatriaKu

Pilih Oreo atau Handphone?

Beberapa hari yang lalu lihat iklan yang cukup kreatif dan menggelitik plus menyindir dengan sangat tepat menurut saya. Seorang ayah yang nampak menunggui putrinya yang sedang bermain, namun asyik dengan gadget dalam genggamannya. Si anak tampaknya pengen ayahnya terlibat dalam permainan dengannya, bukannya hanya duduk menunggu tapi perhatiannya pada hal lain. Saya rasa inilah gambaran sebagian besar orang tua saat ini, lebih asyik dengan gadget dibanding bermain dengan anaknya.

Jadi ingat juga pada postingan seorang teman di FB beberapa waktu yang lalu, yang memperlihatkan kondisi keluarganya. Dia menampilkan sebuah foto dimana dia, suami dan anaknya duduk dalam satu ruangan. Suami asyik dengan laptopnya, dia sendiri asyik dengan BB nya, sementara si anak asyik dengan tablet dalam genggamannya. Dengan “bangganya” dia menulis “Teknologi selalu ada dalam kebersamaan kami”

Bagaimana denganmu teman? Apakah seperti itu juga dirimu kalau di rumah, mengabaikan anggota keluarga yang jelas-jelas ada di depan mata, lalu tenggelam berselancar di dunia maya?

Jika di rumah, sedapat mungkin saya jauhkan segala macam gadget saat bersama anak-anak. Karena itulah, laptop tak pernah saya bawa pulang. Saya tinggalkan di kantor, otomatis saya tak pernah bawa kerjaan kantor ke rumah. Saat menemani mereka bermain, hp saya letakkan jauh-jauh dari jangkauan saya. Jika sabtu minggu, semua saya silent, biar tak menganggu.

Pernah sekali waktu, anak-anak sudah asyik dengan mainannya. Babang bermain lego, sementara dd corat-coret dinding. Saya diem aja nungguin mereka. Saya coba ajak ngobrol, eh saya dicuekin. Daripada duduk bengong, saya pikir lebih baik cek account twitter aja, kali aja ada berita baru dan bagus yang bisa saya peroleh. Saya pun berdiri lalu mengambil hp dan kembali duduk dekat anak-anak. Baru pencet-pencet sebentar, si babang langsung rebut hp dari tangan saya sambil bilang “Mama tuh jangan main hp. Mama tunggukan kami main”

“Lho, kan kalian lagi asyik main. Tadi mama ajak ngobrol dicuekin, kan gak papa klo mama duduk sini sambil mainan hp”

“Jangan, Ma. Mama tuh duduk aja liat babang main lego”

“Liatin aja?” saya kembali menegaskan. Disambut anggukan kepala oleh babang.

Akhirnya hp pun saya kembalikan taruh diatas meja.

Rupanya, kebersamaan dengan anak-anak bisa terjalin tanpa saya terlibat dalam sebuah aktivitas dengan mereka. Dengan cukup duduk dan memperhatikan apa yang mereka lakukan, sudah cukup membuat babang senang.

Iklan

26 thoughts on “Pilih Oreo atau Handphone?

  1. haduh mbak kalo aku “autis” atau asik sama gadget..yang ada adalah “teriakan” ayah kinan untuk mengingatkan..no excuse untuk saya kalo anak masih melek saya asyik mainan smartphone…tapi menurut saya ayah kinan juga benar…jadi saya nggak marah…dan lebih fokus ke kinan dengan aktifitas fisik atau yang lainnya yang lebih membangun kebersamaan…seperti bercerita, mewarnai, sing pokokne fun…without gadget…
    baru semalam jadi pokok bahasan saya purpose ke ayahnya minta tablet kerena kasihan kinan nonton you tube belajar membaca serial dv dari you tube dari smarthphone saya yang kecil…..kerena kapan hari ditolak mentah mentah karena dengan alasan ada lappie..dan itu masih bisa dipake untuk aktifitas sama kinan…dantidak membiasakan kinan untuk suka game dan gadget soalnya…..
    akhirnya saya pikir pikir iya juga…ini yang pengin emaknya atau anaknya hehehe…

      1. Kayaknya nggak juga mbak. Ada tetanggaku yang anaknya bisa asyik bermain sementara ortunya juga asyik baca koran di ruangan lain. Kadang saya “iri” ngeliatnya, kok aku nggak bisa ya nungguin anak2 main sambil baca buku? Baru mau mulai baca aja, si dd dah langsung ngambil buku dari tangan saya, lalu mengembalikannya ke rak buku πŸ™‚

  2. yap ! betul Mbak… kehadiran kita sangat berarti di tengah mereka,…berkali – kali kubuktikan juga dalam keseharianku di rumah.
    Meski aku belum seideal yang di harapkan, tapi berusaha untuk jauh2 dari gadget kalo di rumah, apalagi hari Minggu, no way ! # gadget selalu membiusku soalnya hahaha

  3. Tulisan yang sangant BERMANFAAT, mbak.

    Begitulah ‘sisi gelap’ teknologi dan sayangnya banyak yang tak menyadari. Asyik tenggelam dgn gadgetnya masing2x.

    Jangan2x itu temannya saling ngobrol dgn suaminya via chatting di gadget masing2x. πŸ˜€ #miris sekaligus lucu

  4. β€œTeknologi selalu ada dalam kebersamaan kami” …
    waduh ini nih … mau keren tapi malah agak melenceng … hehehe

    yang jelas … manusia itu makhluk sosial … bukan makhluk gadget …

    dengan duduk saja memperhatikan anak … tanpa memperhatikan yang lain … saya rasa sudah sangat membahagiakan si anak …

    salam saya Bu

  5. Dengan duduk bersama dan memperhatikan kegiatan anak, kita terkoneksi dengan hati dan pikiran mereka ya Mbak..Pertanyaannya adalah mengapa kita lebih tertarik pada dunia maya yg ada di gadget itu ketimbang realita yg paling dekat dengan kita, yaitu lingkungan sekitar? Butuh pemikiran nih kayaknya Mbak Nanik…

  6. Apa yang Babang dan Dedek rasakan dalam kebersamaan kini sangat berharga ya dan menjadi model kebersamaan mereka saat mendatang. Trim Jeng Nanik sharingnya.

  7. Betul mbak, saat ini hampir semua anak pegang tablet buat main game dan hal itu justru membuat orang tua bangga…prihatin sebetulnya, kenapa ya, mereka tidak diajak berkomunikasi saja agar terjalin kedekatan hati anatara orang tua dan anak?
    Atau mungkin bermain bersama yang bisa membuat mereka tertawa bersama?

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s