PengalamanKu

Bahagia di Atas Derita Orang Lain

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang menulis di wall FB saya “Bahagia diatas derita orang lain” Entah apa maksudnya dia menuliskan kalimat itu. Apakah mungkin dia merasa menderita melihat kebahagiaan saya? Atau jangan-jangan dia merasa terdzolimi oleh saya? Entahlah. Di dunia nyata, saya tak begitu akrab dengan dia. Saya mencoba untuk melupakan tulisan itu, namun tak urung, tulisan itu kembali membuat saya merenung.

Bahagia dan derita. Dua sisi yang selalu berlawanan. Jika tak ada salah satunya, maka yang satupun bakal tak ada. Ada yang bahagia, pasti ada pembandingnya, yaitu tak bahagia. Dan akhirnya saya sadari, bahwa jika saya berbahagia, pasti ada orang yang bakal tak bahagia karena tak mampu meraih sesuatu yang membuat saya berbahagia.

Di jaman SD, saya selalu masuk rangking 3 besar. Dan saya bahagia karenanya. Saya senang dan bangga. Namun waktu itu saya tak pernah berpikir bagaimana perasaan teman-teman saya yang ingin masuk ke 3 besar namun tak pernah kesampaian. Apakah mereka merasa iri pada saya? Apakah berarti saya berbahagia diatas ketidakbahagiaan mereka?

Saat SMP, kondisi berbalik. Tak pernah sekalipun saya masuk 3 besar. Jangankan 3 besar, untuk masuk 10 besar pun sulitnya bukan main. Di jaman SD saya tak pernah belajar bisa selalu masuk 3 besar. Sementara di SMP, saya sudah mulai berlatih untuk belajar secara rutin, tapi tetap saja tak pernah masuk 10 besar. Saya hanya bisa tersenyum kecut saat melihat wajah-wajah sumringah teman-teman yang masuk 10 besar. Saya iri, dan saya ingin menempati posisi mereka. Rupanya beginilah rasanya melihat orang lain bahagia karena mencapai sesuatu yang gagal kita raih. Dia/mereka berbahagia, sementara saya tidak berbahagia. Saya bersedih, bahkan lebih parah lagi, saya merana.

OK lah, itu cerita jaman kecil saya. Saat dimana pikiran saya masik kekanakan. Saat saya hanya memikirkan diri sendiri. Bagaimana dengan kini?

Setelah saya renungkan, ternyata sama saja! Saat melihat teman kerja saya meraih prestasi terntentu, saya turut mengucapkan selamat. Saya turut tersenyum dan tertawa melihat kebahagiaannya. Menyimak dengan antusias saat dia mengisahkan perjuangannya untuk meraih prestasi tersebut. Namun, sisi lain hati saya tak bahagia. Ada sedikit rasa kecewa, kenapa bukan saya yang meraih prestasi itu. Perasaan kecewa ini kian besar saat saya juga ikut berpartisipasi, berkompetisi untuk meraih prestasi itu. Dia berbahagia, saya tak bahagia.

Lain kali, saya mendapatkan sebuah prestasi. Sementara ada beberapa teman yang sama-sama berjuang, tak bisa meraih prestasi seperti saya. Tentu saja saya bangga, tentu saja saya bahagia. Namun kebahagiaan saya terusik saat melihat wajah-wajah kecewa teman-teman saya. Meski mereka mengucapkan selamat, meski mereka tersenyum sambil menjabat tangan saya, namun tetap saja ada gurat kecewa. Dari sini saya belajar untuk tidak terlalu vulgar mengungkapkan kebahagiaan saya, agar tak ada yang merasa semakin tak bahagia melihat ungkapan kebahagiaan saya.

Kembali lagi ke teman FB saya tadi. Saya masih tak tahu, sikap saya yang mana yang telah membuatnya merasa menderita melihat kebahagiaan saya?Β  Ungkapan kebahagiaan saya yang mana yang telah menyinggung perasaannya? Ah, sudahlah. Saya tak mau pusing memikirkannya. Jika memang dia merasa terusik, biarlah akan saya tunggu penjelasan yang lebih rinci darinya.

Selamat melewati hari ini, semua selalu bahagian dan penuh cinta

Iklan

20 thoughts on “Bahagia di Atas Derita Orang Lain

    1. wadeww .. aku ngak ngeh ya, maklum mbak nggak ngeh juga aku soal FB
      mungkin bisa ditanya langsung sama dia maksudnya apa mbak ?

  1. Setuju mbak, bahagia dan duka memang selayaknya disikapi dengan biasa-biasa biarpun susah buat tidak berseri-seri kalo kita sedang bahagia…
    Dan tentang teman tadi, mungkin dia sekedar menginagtakan saja agar teman-temannya tidak berlaku seperti itu. Biarpun memang agak aneh juga ya, nulis di wall fb orang lain dengan kalimat yang bisa diartikan macam-macam…

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s