NaylaKu · SatriaKu

Obrolan Anak-anak

Pagi hari, saya, babang dan dd seperti biasanya sedang bermain-main di taman. Capek kejar-kejaran, kami pun menggelosor diatas rerumputan. Dari jauh terdengar deru suara pesawat, anak-anak langsung bangkit dan mendongakkan kepala ke langit, menunggu pesawat melintas. Tak berapa lama, jauh diatas, terlihat pesawat melintas, anak-anak pun makin girang, da da pada pesawat. Loncat-loncat sambil melambaikan tangan “Papa di atas sana!” kata babang. “Bental agi papa tulun!” si dd menimpali. Ah, rupanya anak-anak sudah kangen dengan papanya. Yah, sudah sebulan ini papanya tak pulang.

Setelah pesawat tak lagi kelihatan dan gemuruh suaranya pun tak terdengar lagi, kami kembali duduk. Lalu terjadilah dialog antara dd dengan babang.

“Bang, yuk kita ke sumata” (Jujur aja, ucapan dd ini sempat membuat saya kaget juga. Tapi menahan diri dulu untuk tak menanggapinya)

“Nanti dek, tunggukan papa beli mobil dulu”

“Papa tu bukan beyi mobing, papa beyi dodong duyian” (setiap pulang, papanya memang selalu membawa lempok dan dodol durian. Biasanya, kalau anak-anak susah dipamiti kalau suami harus balik lagi ke bengkulu, anak-anak dibujuk dengan ucapan “Papa ke sumatra dulu, beli dodol durian)

“Lho iya. Papa kan di sumata keja. Buat beli mobing dek” si babang mulai meninggi suaranya, tak mau pendapatnya di bantah oleh adiknya.

“Telus kita ke sumata naik mobil sama-sama. Ya kan, Ma?” Si babang mulai minta dukungan mamanya. Saya tersenyum saja sambil menganggukkan kepala.

“Lho, kalo ke sumata itu naik pesawat, bang. Bukan naik mobing” si dd tak mau mengalah.

Mereka berdua terus berdebat antara naik mobil atau pesawat ke sumatra, sementara saya masih tetap diam mengamati. Bahagia, haru, sedih campur aduk jadi satu. Bahagia, karena kedua hatiku sudah pandai mengeluarkan pendapatnya. Sudah kritis dan pintar mendebat. Terharu, rasanya belum lama perut saya buncit. Rasanya belum lama saya menimang mereka. Kini mereka sudah lincah kemana-mana. Sedih, karena suami tak bisa langsung melihat perkembangan anak-anak, lebih sering hanya mendapatkan cerita saja.

Yah, sudah resiko hidup berjauhan. Usaha untuk bisa tinggal dalam satu rumah terus dan tetap diusahakan. Semoga bisa segera terwujud.

Iklan

8 thoughts on “Obrolan Anak-anak

  1. Mensyukuri perkembangan sang buah hati ya Jeng Naniek. Hai Satria dan Nayla, semoga dilancarkanNya semua upaya menyatunya keluarga ya sayang. Papa dan mama juga rindu mengasuh kalian bersama. Salam kami Jeng.

  2. baca ceritanya, jadi teringat dgn anak pertama, mbak. waktu mau berangkat ke tempat kerja, si sulung yg waktu itu baru 3 tahun dan di rumah dgn ibunya, tiba-tiba ambil sepatunya dan diserahkan ke saya. rupanya dia juga mau ikut. aku dan istri berkaca-kaca melihatnya.
    nggak terasa, tadi pagi istri SMS minta didoain karena si sulung yg udah kelas 9 mau ujian.
    betapa cepat waktu berlalu…..

  3. aiih..pintarnya Babang & Dedenya… pasti papanya juga terharu saat diceritain perkembangan ini.. Gak papa mbak… berakit-rakit kehulu berenang ketepian… Oya, De…budhe minta dodong duyiannya ya.. 🙂

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s