PengalamanKu

Melawan Trauma

Setiap orang punya rahasia, yang tak ingin dibagi pada orang lain. Setiap orang punya rahasia, yang ingin tetap disimpannya sendiri. Entah sampai kapan, butuh pertimbangan matang untuk membagi rahasianya itu pada orang lain. Tidak sembarang orang tentunya, tapi orang yang benar-benar dipercaya, orang yang diyakini tak akan membuka rahasia dirinya pada orang lain.

Saya juga punya beberapa rahasia yang tetap tersimpan sampai sekarang. Beberapa sudah saya bagi dengan suami. Baca lagi ya, BEBERAPA. Yah, tak semua rahasia saya bagi pada suami. Masih ada yang tersimpan rapi.

Hari ini saya ingin berbagi satu rahasia. Jangan khawatir, rahasia ini sudah diketahui oleh suami kok, dan tidak masalah saya bagi disini. Mudah-mudahan ada pembaca yang dapat memetik hikmahnya. Barangkali saja ada yang menyimpan rahasia yang sama dengan saya.

***

Setiap hari, saya ke kantor berjalan kaki. Jika bepergian pasti naik angkot atau taksi. Padahal ada sepeda motor di rumah. Jadi sepeda motor itu nganggur, hanya dipakai jika suami balik ke Malang. Setiap kali ada teman atau tetangga yang nanya kenapa saya tak bawa motor saja kalau bepergian, selalu saya awali menjawab dengan senyum. “Malas, panas dan macet…” “Jalan kaki aja biar sehat…” “Santai, sambil menggerakkan kaki…”

Di kantor pun ada sepeda motor untuk operasional. Biasanya untuk transportasi jika ada kegiatan di gedung pusat. Tapi saya nggak pernah pakai, jika ada acara di gedung pusat, saya minta diantar oleh anak2 magang pakai motor itu. Kalau nggak ada yang antar, saya pilih jalan kaki saja. Sering disuruh bawa, tapi saya tak mau.

Sampai ada teman yang nanya, “Mbak, sebenarnya bisa naik motor nggak sih?” Saya jawab bisa. Pertanyaan berlanjut, “kok nggak pernah bawa motor?” saya jawab malas aja.

Jadi, sebenarnya apa alasan saya nggak mau naik motor?

Flash back ke tahun 2004, saat saya sudah lulus kuliah dan sering bolak-balik Jogja-Klaten, naik sepeda motor. Suatu sore, saya balik dari Jogja. Di jalan raya Jogja-Solo yang lebar dan mulus, saya berani aja kecepatan diatas 80 km/jam. Memasuki wilayah Klaten, kecepatan saya turunkan. Melewati jalan yang diapit rumah-rumah penduduk di sisi kiri dan persawahan disisi kanan, lumayan sepi, jadi kecepatan masih sekitar 60 km/jam. Mendadak dari salah satu halaman rumah, meluncur sebuah sepeda motor memotong jalan saya, rupanya dia mau menyeberang. Saya tak bisa mengendalikan motor yang saya naiki. Hanya dapat memejamkan mata sambil berucap ya Allah….

Saya rasakan tubuh saya terlempar, lalu punggung saya menghantam aspal dan badan saya berguling beberapa kali. Punggung rasanya sakit sekali.  Motor saya entah kemana. Sayup-sayup saya dengar teriakan, lalu semuanya berubah sunyi dan gelap.

Entah berapa lama saya tak sadarkan diri. Hingga saya rasakan ada yang menepuk-nepuk pipi saya. Sayup lalu makin jelas ada suara ribut-ribut, rasanya dekat sekali. Saya terbaring di pinggir jalan. Tangan dan kaki  kaku, saya hanya menatap orang-orang di sekeliling saya. Tak ada wajah yang saya kenal. Dimana saya ini? Apa yang telah terjadi?

Ada ibu-ibu menyodorkan segelas air putih. Tangan saya ingin meraihnya, menyambut gelas itu. Tapi tangan ini tak mampu bergerak, rasanya sakit sekali. Saya menggeleng dan menatap ibu itu, berharap dia tahu bahwa saya tak bisa memegang gelas yang disodorkannya. Alhamdulillah ibu itu mengerti, lalu mengangkat kepala saya sedikit dan menempelkan gelas dimulut saya. Segar sekali air yang masuk kerongkongan saya.

Saya lalu ditanya-tanya asalnya dari mana. Saya berikan alamat rumah orang tua saya, lalu sepertinya ada warga desa situ yang menuju ke rumah, mengabari keluarga saya.

Alhamdulillah, saya tak perlu ke rumah sakit. Tak ada bagian tubuh saya yang lecet. Setelah sampai di rumah, saya di pijat dan keesokan harinya sudah bisa beraktifitas lagi. Motor menginap beberapa hari di bengkel.

Sejak saat itu, saya tak pernah lagi naik motor. Jantung sayaberdebar kencang setiap kali saya mau mencoba naik, keringat dingin langsung keluar, badan gemetar, seperti terasa aliran darah dalam tubuh saya, berdesir-desir. Lalu terbayang lagi bagaimana saya terlempar, punggung menghantam aspal lalu bergulingan di jalan. Yah, saya trauma.

Menurut Chaplin (1994), trauma adalah suatu luka baik fisik maupun  psikologis  yang disebabkan oleh pengalaman yang sangat menyaktikan. Dalam lingkup psikologis ”luka” yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut dapat berkembang menjadi suatu gangguan yang dikenal dengan istilah PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). PTSD merupakan gangguan emosional yang menyebabkan distres permanen, yang terjadi setelah individu menghadapi ancaman keadaan yang membuatnya merasa tidak berdaya atau ketakutan (Durand & Barlowm, 2006). Individu tidak mampu menghilangkan kecemasan terkait dengan peristiwa traumatis sehingga sering mengalami flashback ke kejadian itu, mimpi buruk, dan kecenderungan menolak fakta bahwa peristiwa itu benar pernah terjadi (Halgin & Withbourne, 1994). Pada akhirnya gangguan psikologis yang diderita oleh individu yang mengalami PTSD akan berdampak pada aspek fisik individu tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Ramchand, dkk (2008) menyebutkan bahwa ada korelasi positif antara simtom PTSD dengan keberfungsian fisik (physical functioning). Semakin tinggi level PTSD yang diikuti oleh luka fisik, maka semakin lama waktu kesembuhan untuk luka tersebut dan sebaliknya.

Saya sadar, bahwa saya sendirilah yang harus melawan trauma ini. Berulangkali suami menyuruh saya coba bawa motor, nggak usah ke jalan besar, cukup ke kantor saya. Sayang mesinnya katanya, lebih baik rusak karena dipakai daripada rusak tapi tak terpakai. Berulangkali saya pegang-pegang motor, pengen bawa. Tapi lagi-lagi jantung saya tak bisa diajak kompromi, berdegup kencang lalu disusul keringat dingin keluar. Saya urungkan lagi niat bawa motor.

Hingga akhirnya, jumat kemarin sebuah kondisi darurat memaksa saya. Ceritanya, malam jumat saya dan anak-anak main kuda-kudaan. Biasalah babang dan dd berebutan untuk naik ke punggung mamanya ini, walau sudah dibilangin untuk gantian, masih aja rebutan. Nah, pas giliran dd naik, babang mendorongnya hingga jatuh. Jatuhnya diatas kasur, jadi saya tak terlalu khawatir. Saya tak tahu bagaimana posisi jatuhnya, karena jatuh di belakang saya. Tapi si dd menangis keras. Sudah saya gendong masih juga menangis. Saya tanya apa yang sakit, dia menggeleng saja. Setiap kali tangisnya reda dan mau saya turunkan, baringkan di kasur dia menangis lagi dan bilang kalau tangannya sakit. Karena sudah capek nggendong, saya paksa aja turunkan, biar aja nangis bentar, ntar juga diam kalau sudah dikasih susu.

Benar saja, tak lama setelah dikasih botol susu, dia tertidur. Sepanjang malam, beberapa kali dia terbangun dan merengek. Saya masih tak paham dengan keluhannya, saya lihat tangannya baik-baik saja.

Paginya, saat si mbak datang dan lihat kondisi dd dia bilang kayaknya tangan dd keseleso dan sebaiknya di pijatkan. Kebetulan ada tetangganya yang tukang pijat, khusus bayi dan anak-anak. Jadi saya harus membawa dd ke rumah tukang pijat itu. Mulailah pergulatan batin dalam diri saya di mulai.

Menyuruh mbak Ju membawa dd sendirian, naik sepeda mbak Ju, saya nggak tega. Gimana kalau nanti dd rewel disana dan mencari-cari saya? Mau panggil taksi juga percuma, rumah mbak Ju itu masuk gang-gang sempit. Kalau naik taksi juga mesti masih jalan kaki lumayan jauh, dan kalau saya ikut, babang nggak mungkin ditinggal di rumah.

Akhirnya, saya putuskan untuk membawa motor. Inilah saatnya ketakutan saya selama ini harus ditundukkan. Rasa sayang dan kasihan melihat dd yang lesu dan tak bisa menggerakkan tangan kirinya, memunculkan keberanian dan kekuatan dalam diri saya untuk melawan trauma.

Saya keluarkan motor sementara mbak Ju menyiapkan anak-anak. Saya hidupkan mesinnya. Suara deru motor bersaing dengan kuatnya degup jantung saya. Tangan saya gemetar saat memegang setangnya. Keringat dingin mulai keluar saat saya duduk di joknya. Saya pejamkan mata dan berucap Bismillah… Bantu saya ya Allah, saya harus melawan diri saya sendiri.

Dan, saya pun meluncur di jalan depan rumah. Beberapa tetangga yang melihat langsung berteriak “Lho, mbak nanik udah bisa naik motor ya sekarang” Saya tak berani menjawab teriakannya, apalagi untuk menoleh. Ah, mereka tak tahu. Saya gemetar, saya panik, saya takut jatuh.

Setelah beberapa kali bolak-balik di dalam kompleks, pelan-pelan saya mulai tenang. Degup jantung mulai saya rasakan normal. Keringat pun tak sederas tadi. Alhamdulillah saya menang. Alhamdulillah saya berhasil mengusir rasa takut saya.

Saya lalu balik ke rumah, anak-anak dan mbak Ju sudah siap. Kami pun berangkat.

***

Begitulah pengalaman saya melawan trauma. Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa diri kita lah faktor utama penentu keberhasilan untuk melawan trauma. Orang lain boleh kasih saran macam-macam, tapi jika diri lemah dan tak mau bergerak, maka tak akan ada hasilnya.

 

Iklan

19 thoughts on “Melawan Trauma

  1. yah mantab mba…ketakutan dan trauma itu harus dilawan…sapa tau dan amit amit nih misal anak sakit atau suami sakit dan harus cepat dibawa ke dokter..dan tidak ada transportasi yg tersdia selain motor..mau gak mau kan mba yg harus bawa nantinya…setidaknya mba udah berhasil mengalahkan trauma dan ketakutan mba 😀

  2. Setuju sekali dengan ‘diri kita lah faktor utama penentu keberhasilan untuk melawan trauma’
    Trauma itu harus ditekan supaya bisa kita kendalikan. Kadang sekali-kali perlu ditantang.

  3. sya jga prnh mengalaminya mb…mngkn krn sya lelaki hanya perlu wktu seminggu utk kembali lgi mengendarai motor… cma mmg klo melintasi tmpat kecelakaan msh suka deg2an jga..

  4. Luar biasa pengalamannya dengan motor Mbak Nanik. Selamat ya karena dirimu telah berhasil melawan ketakutan sendiri. Dan alhamdulillah di DD gak kenapa-napa ya, cuma keseleo…

  5. Mbak, saya juga punya trauma yang Alhamdulillah sudah berhasil saya taklukan setelah 2 tahun kejadian.
    Ceritanya, saya mau kuliah nyetir mobil dari Lawang ke Malang sekitar tahun 1985 gitu deh. Jalan raya belum seramai sekarang, dan saya memang agak hobby kebut-kebutan 🙂
    Suatu hari, saya mau kuliah sore. Dengan kecepatan sekitar 110 km/jam, saya tenang-tenang saja menyetir mobil di jalan antar kota. Tiba-tiba ada sepeda motor yang dikendarai anak SMA berbelok ke arah kanan karena memang disitu ada sekolah. Braaak, saya pun menabraknya!
    Wah, mbaaaakkk…itu dua orang anak SMA langsung tergeletak di jalan raya.
    Yang satu kepalanya berdarah parah, yang satunya hanya luka ringan. Saya yang sendirian di dalam mobil jelas kebingungan.
    Buru-buru mobil saya pinggirkan, dan dengan dibantu orang-orang di sekitar, anak yang berdarah-darah itu dimasukkan ke mobil saya untuk dibawa ke puskesnas terdekat.

    Sejak itu, saya kapok nteri mobil. Dan baru sekitar 2 tahun kemudian ketakutan itu berhasil saya taklukan.
    Alhamdulillah.

  6. motor itu memang kndraan bunuh diri, kalo nggak trpaksa ya nggak usah dibawa jauh2, maksimal 30 km itu sudah sangat jauh. tiap orang punya cara masing2, trauma itu wajar, saya juga prnah trauma gara2 jatoh dari motor ditabrak dari dpan slama 6 bulan, trus smbuh lagi kmbali mngendarai motor lagi ,krna saya blum mampu buat nge’beli mobil. nggak bisa bawa kndaraan juga nggak apa2, kan kita masih punya kaki buat brjalan.

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s