NaylaKu · PengalamanKu · SatriaKu

Biarkan Saja Mereka Bertengkar

Mempunyai 2 anak dengan jarak usia hanya 1 tahun, tentu saja saya harus bersiap mendengar dan melihat mereka bertengkar, berebut mainan maupun perhatian. Rebutan mainan, lalu saling pukul hingga salah satu diantaranya menangis.

Dulu, saya berusaha mencegah mereka bertengkar. Beli apa-apa selalu 2 dan sama, biar mereka nggak rebutan. Malas banget kan, udah capek seharian di kantor, di rumah harus dengar anak-anak berantem. Jika kelihatan tanda-tanda mau berantem, maka saya cepat-cepat melerai. Jika babang ingin mainan yang sedang di pegang dd, maka saya bujuk dd untuk menyerahkan mainannya pada babang dan dd mengambil mainan yang lain, demikian pula sebaliknya. Jika sudah terlanjur berantem dan salah satunya menangis, maka segera saya gendong anak yang menagis itu, saya bawa menjauh sebentar sampai tangisannya hilang.

Akibat perlakuan saya ini, anak-anak saling berebut mengadu pada saya. Dan semakin saya perhatikan, mereka kok sepertinya menguji saya. Babang atau dd yang akan saya bela. Contohnya saja, acara TV. Babang pengen lihat kartun di TV, lalu dd nya bilang pengen lihat DVD lagu anak-anak. Babang pengen saya duduk nemani dia lihat DVD, dd pengen saya bacain buku cerita. Saat babang bilang A diikuti kaya “iya kan Ma” , maka dd akan menyanggah dengan mengatakan  B diikuti kalimat “iya kan Ma”. Hal ini sering membuat saya serba salah, saya ikuti kemauan babang, maka dd akan ngambek, menangis lalu masuk kamar. Saya ikuti kemauan dd, maka babang akan mulai menangis keras-keras (atau lebih tepatnya saya bilang pura-pura menangis)

Hingga akhirnya, saya sadar bahwa cara saya ini salah. Bahwa cara saya ini malah menyulitkan diri saya sendiri dan juga menyulitkan mereka nantinya. Mereka tak akan selamanya bersama saya, mereka tak akan selamanya berada di rumah dan dalam pengawasan saya. Mereka akan keluar rumah suatu saat, bergaul dengan banyak anak dengan banyak karakter, dan tugas sayalah untuk mempersiapkan mereka menghadapi masa itu. Bahwa mereka harus belajar untuk berkonflik dan mengatasi konflik yang terjadi.

Jadi, saya mulai menarik diri dan lebih banyak mengamati. Saya tak mau lagi campur tangan saat mereka berebutan mainan. Tentu saja saya harus menguatkan hati. Menghadapi tatapan babang atau dd yang sepertinya membutuhkan pembelaan dari saya. Menguatkan hati untuk mendengar mereka saling berteriak karena menganggap pendapatnya yang benar dan tak mau disanggah. Saya hanya akan turun tangan saat mereka sudah saling memukul. Saya dudukkan di pangkuan, sambil mulai diajak ngobrol. Bahwa mereka itu kakak adik, harus saling sayang. Bahwa saya ini bukan mamanya dd, bukan mamanya babang, tapi mamanya dd dan babang, jadi harus gantian kalau minta dilayani. Bahwa mainan, buku, pensil semua barang yang ada di rumah itu milik bersama, harus digunakan bersama-sama, harus gantian, nggak boleh dimonopoli satu orang. Tentu saja dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka.

Alhamdulillah, cara ini efektif mengurangi frekuensi teriakan di rumah. Apa mereka nggak pernah rebutan lagi? Masih tetap. Apa mereka nggak pernah bertengkar lagi? Masih juga. Jadi apa dong bedanya dengan dulu?

Sekarang, anak-anak lebih banyak beradu argumen kalau lagi berantem, bukan lagi saling dorong dan saling pukul. “Bang… kata mama kan…” “… gantian, dek…”  “Aku kan sayang dd….” “… kan mama berdua…” “bukan gitu, bang”

Saya sering senyum-senyum sendiri jika mendengar mereka saling menasihati. Alhamdulillah pelan-pelan mereka makin mengerti dan mengelola konflik diantara mereka.

Iklan

6 thoughts on “Biarkan Saja Mereka Bertengkar

    1. semuanya butuh proses mbak, awalnya juga saya sering marah klo anak2 berantem. Tapi lama2 saya sadar mereka itu bukan orang dewasa dalam tubuh kecil, tapi memang mereka itu anak kecil, yang nggak bisa ngerti hanya dengan sekali dikasih tahu.
      Akhirnya ya… kayak cerita diatas deh

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s