PengalamanKu

[Renungan] Orang Tua Seperti Apa Saya?

Barusan ngobrol dengan teman kerja. Dia cerita klo lagi senang karena anakknya berhasil diterima di sekolah yang diimpikannya. Catet ya, diimpikannya, belum tentu diimpikan oleh anaknya. Untuk diterima di sekolah itu, si anak harus menjalani serangkaian tes. Huft, masuk SD aja udah pakai tes macem-macem. Gimana nanti kalau udah mulai sekolahnya?

Si teman saya khawatir, klo sampai anaknya nggak diterima di SD favorit itu, masa depannya tidak bakal cerah. Makanya jauh-jauh hari, dari si anak masih TK, dia sudah mempersiapkan anaknya supaya bisa masuk ke situ. Di ajari berbagai materi yang bakal di ujikan dalam seleksi masuk ke sana.

***

Hari Minggu kemarin, saat mengajak anak-anak belanja ke salah satu supermarket yang berada dalam kompleks mall dekat rumah. Lagi ada lomba peragawati cilik. Anak-anak kecil didandani dengan bedak tebal, bibirnya berlipstik, bahkan ada beberapa yang saya perhatikan memakai bulu mata. Pakaiannya seperti pakaian orang dewasa, sepatunya berhak tinggi. Berjalan melenggang di atas panggung, beberapa melirik ke arah deretan ibu-ibu didepan panggung, mungkin mencari-cari mata orang tuanya yang pastinya sedang mengamatinya saat itu.

Ah, kenapa anak-anak sekecil itu harus dipaksa untuk berdandan layaknya orang dewasa? Keinginan sang anak sendiri, atau sekedar memuaskan ambisi kedua orangtuanya? Ambisi ibunya yang dulu pengen jadi model tapi nggak kesampaian karena fisik kurang mendukung? Ambisi bapaknya yang pengen memajang berbagai macam piala dan piagam dalam lemari kaca di ruang tamunya? Ambisi kakek neneknya untuk dapat selalu memamerkan cucunya?

***

Kedua kejadian itu membuat saya berpikir dan merenung. Orang tua seperti apakah saya? Apakah saya tak pernah mengkhawatirkan masa depan anak-anak saya? Sering lah. Saya khawatir anak saya begini begitu dimasa yang akan datang. Apa saya nggak seneng kalau anak saya berprestasi? Pasti senanglah dan juga bangga tentunya. Tapi kesenangan dan kebanggan itu akan mulai terkikis lalu bahkan pudar manakala saya melihat anak saya terpaksa menjalaninya.

Saya senang membawa anak-anak saya pergi arisan di lingkungan RT. Arisan memang disengaja diadakan hari sabtu supaya bisa banyak ibu-ibu yang hadir. masih baru sih, baru dapat 6 putaran. Kalau sabtu kan ART saya libur. Otomatis, anak-anak pasti saya bawa. Banyak ibu-ibu yang gemas melihat kedua anak saya, terutama babang yang pipinya memang mengguirkan untuk jadi bahan colekan ataupun ciuman. Maka tiap arisan, jadilah pipi babang dicolek kanan kiri. Saya sih senyum-senyum aja. Sementara anak-anak saya hanya diam, dd malah sering merapatkan tubuhnya jika ada yang mendekat. Tak saya sadari bahwa babang dan dd tidak merasa nyaman dengan kondisi itu.

Saya baru sadar, saat tiba giliran arisan lagi (putaran ke tiga), waktu saya ajak anak-anak berangkat arisan, mereka menolak. Sudah saya iming-imingi bahwa diarisan nanti akan ada kue, akan ada teman-teman sebayanya yang bisa diajak main bersama. Tapi babang tetap menolak. Alasan yang dikemukakannya membuat saya seolah tertampar dengan telak.

“Babang nggak mau ke alisan. Pipi babang dicubitin, pipi dd juga. Mama diem aja. Kacian dd ma, dicubit kan sakit. Iya kan, dek”

Si dd, seperti biasanya tak mau kalah, malah menambahi “Aku ga mau ke alican. Ga mau ketemu tante”

“Kenapa nggak mau ketemu tante, dek?”

“Tantenya jahat, cukanya nyubit. pipiku kan cakit”

Jadi, yang diingat anak-anak dari arisan bukanlah kuenya, bukanlah ada banyak teman sebayanya. Tapi rasa nggak nyamannya. Saat pipi mereka dicubit, yang bagi orang dewasa adalah ekspresi gemas, mungkin bagi mereka adalah ekspresi marah atau menyakiti. Karena di rumah, pipi mereka nggak pernah dicubit. Saya memang sering gemas dengan pipi mereka, biasanya saya ciumi karena gemasnya. Jadi mungkin dalam benak mereka tertanam pemikiran, kalau gemas itu di sayang, bukannya di colek-colek. Colekan itu menyakiti mereka.

Serba salah juga akhirnya. Mau melarang orang colak-colek pipi anak-anak, nggak enak. Yah, jadinya saya nggak pernah pergi arisan lagi. Nitip aja.

***

Jadi inti cerita ngalor ngidul ini apa sih?

Sebenarnya sih cuma mau bilang jangan cemaskan bagaimana masa depan anak-anak kita nantinya mau jadi apa, atau mau jadi seperti apa. Tapi cemaskanlah diri kita ini, menjadi orang tua seperti apakah kita bagi anak-anak? Kalau kita mendidiknya dengan baik, memperhatikan keinginan dan kebutuhan mereka, memfasilitasi, mengarahkan dan tak memaksakan ego dan kemauan kita, insyaallah masa depan yang baik terbentang di depan mereka.Β 

Tulisan ini juga pengingat bagi diri saya sendiri, untuk terus belajar agar dapat manjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anak saya, menjadi sosok orang dewasa yang menjadi idola nomor satu mereka.

Iklan

13 thoughts on “[Renungan] Orang Tua Seperti Apa Saya?

    1. hihi iya. Dulu waktu masih kecil kadang saya pengen ini itu yang bertentangan dengan keinginan ortu, tapi ya nggak berani nolak karena takut dimarahi. Nah, sekarang saya nggak ingin anak-anak saya mengalami kayak saya waktu kecil dulu. Minimal mereka berani mengunggapkan apa yang mereka inginkan, perkara akhirnya saya setuju atau tidak, bakal kami diskusikan lebih lanjut πŸ™‚

  1. Sejak kecil anak sebaiknya sdh dilatih untuk berpendapat ya mbak… oya, memang banyak anak2 yg tak suka diciwel2 pipinya… sakit / risih mungkin. Pernah ada kejadian anak teman kantor yg pipinya gendut & selalu jadi sasaran gemes teman2 ayahnya sampai ngambek gak mau masuk ke ruangan bila kebetulan diajak mampir..ataupun kalau akhirnya mau, dia tutupi kedua pipinya pakai telapak tangan! kaciaan…

  2. Saya juga sering mencemaskan masa depan anak-anak Mbak Nanik. Apakah saya sudah memberi yg terbaik untuk mereka atau kah saya hanya berfungsi sebagai orang tua yg melakukan kewajiban dasar saja. Hal2 seperti sering bermain dalam kepala. Tapi satu yg jelas, jika saya punya anak perempuan takan mengikutkannya lomba-lomba seperti diatas…Kayaknya norak mendandani anak sendiri dengan hiasan dan pakaian yg belum pantas dia kenakan πŸ™‚

  3. Setuju! Jangan cemaskan masa depan anak2, walo bukan maksud cuek, tp lbh kepada kita sbg ortu cuma mengantarkan, membimbing anak kemana arah tujuan mrk, cita2 mereka, jadi mereka mencapai citanya memang krn dar hati anak, bukan pemaksaan ortu….

  4. Apresiasi untuk ulasan Jeng Nanik. Jadi teringat saat mbarep diterima dan menyerahkan form registrasi dari perguruan gajah duduk Bandung, dia matur sdh membuktikan bisa diterima di PTN idaman,namun minta ijin kuliah di Sal3 saja. Kami setujui dan enjoy hingga di pekerjaannya sekarang, so setuju tuk tidak memaksakan ego. Salam

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s