WisataKu

Awalnya Iseng, Malah dapat Banyak ilmu

Tulisan ini masih melanjutkan pengalaman waktu ke Jakarta kemarin. Jadi ceritanya gini…. Jam 2 kan kami dan di Gambir, udah nuker struk dengan tiket KA, sementara Gajayana baru akan berangkat jam 18.20. Duduk bengong aja di ruang tunggu kok ya rasanya kurang afdhol. Udah nyampe Jakarta gitu lho, masa nggak jalan-jalan.

Paginya, karena dan pasti bakal naik KA, aku dah BBM sodara sepupu yang kebetulan juga lagi ada urusan di Jakarta. Sepupu dari suami, sehari-hari tinggal di Bengkulu. Mumpung sama-sama lagi di Jakarta, jadi aku ajak dia ketemuan. Dia nginep di gedung perwakilan kota Bengkulu, di daerah Senen. Jadi, kami buat janjian untuk ketemu di Atrium Senen jam 4 an.

Selesai urusan nuker struk dengan tiket, saya titipkan barang-barang di penitipan tas di Gambir. Ongkosnya 2000 rupiah/jam. Abis itu meluncur ke Atrium, naik ojek. Tukang ojeknya minta 15 ribu, padahal kan deket banget. Aku tawar aja 10 ribu, dianya langsung mau.

Karena masih lama ketemuannya ama sepupu, saya langsung naik ke lantai 3, tujuan utama toko buku Gunung Agung. Ternyata disana lagi ada talkshow, dan masih ada beberapa kursi yang kosong. Lumayan ini bisa buat ngisi waktu. Jadilah saya langsung ikut duduk di bangku peserta. Baru duduk, dah ada mbak-mbak yang ndeketi sambil nyodorin kertas, diminta ngisi daftar hadir. Dapat segelas aqua, lumayanlah.

Talkshownya berjudul “Pengembangan potensi diri melalui pikiran bawah sadar dengan metoda brainwave” Pembicaranya Ferry Fibriandani. Dia menjelaskan bahwa pikiran bawah sadar kita akan menyimpan banyak sekali informasi, dan suatu saat pasti akan digunakan entah secara sadar atau secara refleks karena sudah menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, dia menyarankan untuk selalu memberikan stimulus positif pada pikiran bawah sadar ini. Karena jika pikiran positif, hasilnya pasti baik. Sebaliknya jika pikiran negatif, maka hasilnya pun kemungkinan besar negatif.

Contohnya, saat jalan2 ke mall ketemu pria bule ganteng bergandengan tangan dengan wanita lokal yang wajahnya biasa saja. Biasanya langsung pikirannya jelek, “Ih masih kalah cantik sama aku, kok ya si bule mau ya?….. Gila! lakinya cakep gitu, giliran lihat yang disebelahnya kok jadi eneg” dan mungkin ungkapan2 negatif lainnya. Nah, ubahlah yang demikian itu menjadi suatu penilaian yang positif. Misalnya “si mbak itu pasti pinter bahasa Inggris…. si mbak itu pasti punya inner beauty sehingga menarik hati si bule”

Jadi intinya, mengubah cara pandang kita. Jangan mengedepankan pandangan negatif duluan, tapi carilah sisi-sisi positifnya.

Pada anak-anak, kalau nemui anak melihat TV terlalu dekat, biasanya orang dewasa akan bilang “Jangan dekat-dekat, nanti matanya bisa sakit” Kalimat ini bisa diubah menjadi “Menjauh dari TV yuk dik, sini duduk dipangkuan mama” Jadi minimalisir penggunaan kata ‘jangan… tidak boleh’ Ubahlah menjadi ajakan, bukan lagi larangan.

Saat anak2 asyik dengan mainannya, berbicara sendiri seolah sedang menjadi dalang dari kisah yang dibawakannya, menirukan pembicaraan di tv yang pernah dia lihat, dan tidak menengok saat kita panggil. Jangan langsung meninggikan suara untuk mengulangi memanggil. Justru saat inilah saat yang tepat untuk memberikan stimulus positif pada diri anak. Dekati dia, duduk disampingnya lalu ucapkan “mama sayang sama adek… adek pinter ya… adek kalau selesai main, mainannya dibereskan sendiri ya…” Walau anak tidak menoleh, dan tetap asyik dengan mainannya, jangan berhenti untuk memberikan stimulus positif.

Usai pemaparan, dilanjutkan dengan tanya jawab. Saya termasuk yang mengajukan pertanyaan. Alhamdulillah, yang nanya dapat hadiah. Pas dibuka, isinya buku. Nambah deh koleksi buku saya.

ghost

Menjelang jam 4 sepupu saya datang, pas acara sudah mau selesai. Biasanya kalau abis ikut acara2 kayak gini, setelah ditutup acaranya, saya langsung bubar aja, pergi ninggalin tempat. Tapi sepupu saya malah narik tangan saya “kita foto2 dulu” katanya. Yach, jadi ketularan narsis nih

IMG01550-20130420-1603

Yang masih saya ingat juga dari pemaparan pas talk show kemarin adalah “terapi jepret karet”. Gelang karet dipakai di lengan kita. Setiap kali kita berkata jelek, atau membentak anak-anak, atau punya pikiran jelek terhadap apa saja yang kita temui di jalan, jepret aja pergelangan tangan menggunakan gelang karet tadi. Lakukan konsisten selama sebulan aja. Insyaallah semakin bertambah hari, frekuensi jepretan karet akan semakin jarang.

Iklan

21 thoughts on “Awalnya Iseng, Malah dapat Banyak ilmu

    1. sama-sama…
      jadi skrg klo pas nyetir di medan, mesti berpikiran positif terus ya klo ada yang “ugalaan” di jalan πŸ™‚ Mungkin lagi buru2…. mungkin lagi……..

    1. hihihi iya bu.
      Alhamdulillah kemarin itu pas pulang, memutuskan naik kereta, padahal biasanya naik pesawat. Jadi rupanya sudah diatur sama yang diatas, saya digerakkan untuk naik kereta saja, biar bisa ikut talk show ini

  1. fikiran bawah sadar emang penting untuk pemikiran kita yang sesungguhnya ya mbak. jadi think positif emang sangat amat perlu,,

    keren banget deh iseng bisa ikut talk show gitu πŸ™‚

  2. Mbak Nanik yang baik, terima kasih sudah mengikuti Talkshow “Pengembangan Diri melalui Teknologi Pikiran Bawah Sadar” yang diselenggarakan oleh Toko Buku Gunung Agung bekerja sama dengan Indolearning dan Abhimata Production.
    Saya senang Mbak Nanik ikut dapat sharing dan menyebarkan mengenai metode ini. Mengingat “sharing is caring”, Ikut menyampaikan ilmu adalah kepedulian.
    Sekali lagi terima kasih sudah hadir, semoga kesehatan, kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan senantiasa menyertai Mbak Nanik dan keluarga.
    Salam hormat,
    Ferry Fibriandani

    1. Amiin…. amiinn…
      waaaa……… jadi malu nih, pak Ferry nya ikutan baca tulisan ini.
      Sekali lagi makasih ya pak, atas saran2 nya kemarin. Alhamdulillah sekarang jadi lebih bisa menahan diri sebelum berucap sama anak-anak.

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s