PengalamanKu · SatriaKu

Setiap Keluarga Punya Aturan Sendiri

Senang karena kedua anakku sudah bisa bercerita, mengungkapkan apa yang mereka rasakan, apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar. Sering juga mulai kewalahan ketika mereka terus mengejar dengan kata “kenapa…?” atau “…apa?” Seperti siang tadi, saat aku pulang kerumah dijam istirahat siang.

Cuaca mendung, jadi anak-anak aku biarkan saja bermain diluar. Biasanya klo cuaca panas, anak2 aku minta main di dalam saja, atau klo minta diluar aku suruh main dibawah pohon yang teduh. Anak-anak bermain ditemani si mbak, sementara aku makan. Usai makan, gantian saya temani anak-anak dan si mbak makan serta sholat. Baru keluar sumah langsung tangan saya di gapai babang, lalu mengajak duduk diteras.

“ssssttt….” seperti biasanya klo babang pengen cerita dan nggak ingin ada orang selain saya yang mendengar. Maka dia meletakkan jari telunjuknya di depan mulut. Sebagai isyarat bahwa saya harus diam dan menyimak apa yang akan dikatakannya.

“dd Edo nangis, dimarahkan papanya” Kata babang selanjutnya. Sayup memang aku dengar suara tangisan tetangga kami, yang berjarak 2 rumah. Sayup juga suara lelaki dewasa yang bersuara dengan nada keras.

“Kenapa papanya itu suka malah-malah ya, ma?” Mulai deh muncul pertanyaan susahnya.

“Ya, mungkin dd Edo berbuat salah, jadi kena marah papanya”

“Tapi kan kasian dd edo jadi nangis. Kenapa papanya halus malah ya” Lha kok pertanyaannya diulang lagi. Duh tadi kan udah mama jawab nak.

“Mama nggak tahu kenapa papanya marah. Mungkin dd edo nggak boleh main diluar karena panas”

“Ini kan nggak panas, ma. Lho liat, nggak panas kan?” sambil dia mendemokan melepas sandal lalu berjalan dan menginjakkan kakinya dihalaman.

“hmm… mungkin dd edo disuruh makan dulu, kan ini udah siang”

“Lho, kalo makan itu kan ga boleh sambil malah-malah” Duh, salah tangkap nih anak

“Ato mungkin dd edo disuruh bobok dulu”

“Klo mau bobok itu mimik susu kayak dd, kalo aku minum teh” Biasanya kalau mau tidur, dd ngedot dudu sementara babang ngedot teh.

“Itu kan kalo babang ama dd, klo dd edo kan lain”

Jadilah siang tadi, dengan panjang lebar, dengan sesekali berhenti karena harus memilih kata-kata yang mudah ditangkap maknanya oleh babang, dengan sesekali dipotong pertanyaan babang, dengan sesekali disela teriakan dd yang juga pengen diperhatikan, saya jelaskan bahwa tiap keluarga punya aturan yang berbeda. Mama sama papa ngijinin babang ama dd lari-larian ditaman, tapi orang tua dd edo mungkin melarang. Mama papa belum mau memasukkan babang ke sekolah, sementara mbak chacha sejak seminggu ini udah masuk playgroup. Begitulah, saya buat sedikit perbandingan dengan teman2 bermainnya. Semoga saja babang bisa mengerti.

Siang ini juga, saya seolah kembali diingatkan untuk tidak banyak berkomentar atas apapun perbuatan/keputusan yang diambil para tetangga. Tak perlu mempertanyakan, tak perlu membanding-bandingkan, tak perlu membahas lebih jauh hingga jadi gosip se RT. Biarlah keluargaku begini dan keluarga para tetangga begitu. Tapi bukannya lantas jadi saling acuh. Tegur sapa, berbincang, berdiskusi, silaturahmi tetap perlu dijaga. Yang dicegah adalah mencampuri urusan mereka.

Iklan

10 thoughts on “Setiap Keluarga Punya Aturan Sendiri

  1. bener mbak saya juga ga suka ikut campur sama aturan keluarga lain, tapi juga berharaaap orang tidak usil dengan aturan di keluarga saya… πŸ™‚

  2. stuju mbak Nik, lain keluarga lain aturan….
    pengalaman,,,, terlalu banyak mengatur juga gak baik buat anak…. seperti yg terjadi pada anak pertama gara gara waktu kecilnya banyak makanan yg di larang eh sampai sekarang gak semua makanan dia suka hehe…

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s