PengalamanKu

Para Guru, Tolong Perbaiki Perilakumu!

Masih menyambung kegiatan yang saya ikuti di Jakarta seminggu kemarin. Kali ini pengen menumpahkan uneg-uneg yang mengganjal dihati, tentang perilaku beberapa guru, sesama peserta diklat, yang mudah-mudahan tidak mewakili perilaku guru pada umumnya.

Jadi ceritanya begini. Sesi terakhir pelatihan adalah ujian. Ujian dilakukan secara online, namun aplikasi ujian online yang digunakan tidak otomatis menutup aplikasi lain di komputer. Jadi saat aplikasi ujian terbuka, peserta ujian masih bisa browsing maupun membuka-buka file catatan yang ada di komputer. Ada lima bagian (kompetensi) yang diujikan. Masing-masing kompetensi jumlah soalnya berbeda, waktu pengerjaan pun tak sama. Saya kerjakan sebisa saya, mengandalkan ingatan terhadap apa yang sudah diajarkan di depan kelas selama seminggu. Ada beberapa pertanyaan yang menurut saya baru, tidak ada di modul dan tidak diajarkan. Untuk soal-soal model gini saya jawab asal aja, karena memang soalnya dalam bentuk pilihan ganda. Kesempatan menjawab hanya satu kali, setelah di “submit” tak bisa diulang lagi.

Usai mengerjakan, saya keluar ruangan. Teman-teman masih ‘khusyu’ di depan laptop masing-masing. Saya ambil secangkir kopi dan duduk di luar ruangan. Setelah kopi habis, saya putuskan untuk masuk ruangan kembali. Daripada bengong, mending saya baca-baca berita online.

Posisi pintu masuk ada dibelakang para peserta. Jadi, dari pintu masuk saya bisa melihat layar laptop para peserta. Sambil mengembalikan gelas, saya jadi pengen tahu apa yang tampil dilayar mereka, karena saya pikir, kok lama betul mereka selesainya. Kayaknya sudah cukup lama saya tadi duduk diluar, baru 2 orang yang menyusul saya keluar ruangan dan mengatakan sudah selesai. Maka, saya pun sengaja berdiri di samping meja tempat membuat kopi, sambil mata beredar mengamati. Ada yang serius tampak mengingat-ingat, dilayar laptop terbuka aplikasi ujian. Ada yang buka google dan mengetikkan sesuatu, tak berapa lama dilayar berganti tampilan aplikasi ujian. Ada yang membuka aplikasi lain, yang berhubungan dengan materi ujian, bergantian dengan aplikasi ujian. Rupanya sedang mencoba langkah2 yang ada dalam pilihan jawaban. Memang ada soal ujian yang berbasis praktek. Wah, ternyata ada juga guru yang mencontek.

Kejadian diatas membuat saya miris. Memang benar, mereka dibiayai mahal untuk ikut pelatihan ini. Memang benar, materi yang akan diajarkan selama setahun di sekolah nantinya, tak cukup hanya kami pelajari dalam seminggu. Memang benar penyelenggara tidak mengawasi para peserta dengan ketat. Tapi apakah lantas dibenarkan untuk berbuat curang dalam ujian ini? Apakah lantas dibenarkan untuk mencontek demi mendongkrak nilai dan mendapatkan satu kata LULUS?

Pagi tadi, saya menghadap pimpinan, berniat untuk melaporkan kegiatan saya selama di Jakarta. Belum juga saya mulai ngomong, pimpinan langsung bertanya, “Gimana, lulus kan?”. Saya senyum-senyum aja, diikuti gelengan kepala dan disambung kalimat “Nggak, pak” Ada ekspresi terkejut yang saya tangkap dari perubahan wajah pimpinan saya “Kenapa bisa kamu nggak lulus” itulah yang selanjutnya diucapkannya.

Lalu saya jelaskan bahwa nilai minimal untuk lulus adalah 85, dan memang nilai yang saya peroleh waktu ujian online kemarin masih dibawah itu. Tapi itu kan baru nilai teori. Masih ada nilai dari praktek selama proses pembelajaran dikelas, tugas-tugas yang dikumpulkan dan belum diberi nilai. Masih ada proyek akhir yang harus saya selesaikan dalam seminggu ini. Setelah proyek akhir selesai dan saya kirimkan ke Jakarta, diverifikasi oleh tim penilai, barulah akan ada keputusan final lulus atau tidak.

Jadi, sodara-sodara, dari ujian online kemarin, yang diikuti oleh 32 orang, hanya ada satu orang yang nilai rata-ratanya di atas 85. Jadi, baik yang jujur maupun yang mencontek, nasibnya sama. Sama-sama masih belum bisa melewati passing grade yang telah ditentukan oleh pihak penyelenggara.

Usai menghadap pimpinan, saya jadi kepikiran dengan teman-teman sesama peserta. Pasti mereka juga mendapatkan pertanyaan yang sama dari pimpinannya. Mungkin ada yang malu kalau menjawab nggak lulus, malu jika akhirnya berita ketidaklulusannya itu akan menyebar ke guru-guru lain di sekolahnya. Mungkin ada yang takut, takut dimarahi, takut tak disertakan pelatihan lagi lain kali. Mungkin, mereka-mereka inilah yang pada saat ujian kemarin berbuat curang, mencari-cari contekan agar nilainya bisa diatas 85.

Beginilah dampaknya, jika segala sesuatu hanya dilihat dari hasil akhirnya. Disadari atau tidak, pola pikir nilai tinggi/bagus dalam pandangan masyarakat kita sama artinya dengan pintar/sukses. Maka berlomba-lombalah anak2 disekolah belajar menghapal mati-matian, ikut les ini itu, hanya demi mendapatkan nilai tinggi di raportnya. Saat mengetahui anak ulangan, yang sering ditanyakan oleh orang tua adalah “dapat nilai berapa ulangan kemarin. Namun saya yakin, masih juga ada yang bertanya “Bisa nggak mengerjakan ulangannya?”, walau jumlahnya lebih sedikit dibanding yang pertama.

Balik lagi ke topik tulisan saya. Saya berharap, semoga saya tak akan menemui lagi para guru yang berbuat curang hanya demi mendongkrak nilainya. Apalah gunanya nilai tinggi diatas kertas, jika dalam prakteknya kemampuannya masih kurang. Evaluasi itu justru harus dimanfaatkan untuk mengukur diri masing-masing, sudah sampai dimana penguasaannya terhadap kompetensi yang dipelajari.

Para guru, yuk kita jujur. Jangan malu untuk bercerita pada siswa bahwa anda pernah gagal ujian. Kenapa anda gagal, bisa anda sampaikan ke siswa, agar mereka tak menirunya. Apa yang membuat anda berhasil, bisa anda sampaikan untuk memotivasi mereka. Lulus atau tidak bukanlah tujuan akhirnya, yang penting adalah kita terus belajar.

Iklan

11 thoughts on “Para Guru, Tolong Perbaiki Perilakumu!

  1. TOP…banget..setuju…kalo tidak dimulai dari kita siapa lagi..akan kah kita ikut ikutan…
    aku belajar tentang ini juga dari kaka iparku..kapan hari aku wa tanyakan hasil ujian anaknya atau ponakanku yang kelas enam, saya tanya berapa mbak hasilnya…waktu itu belom diumumkan jadi nggak tahu kakakku cuman bilang gini…berapapun nilai mas naufal..*ponakanku saya bangga sama anakku begitu katanya, karena itu hasil murni pikirannya dan hasil belajarnya..tidak contek menyontek asli murni dari dia sendiri….sekolahnya di SD islam …dan alhamduililah hasilnya bagus walaupun bukan nomer satu 29 masyallah…salut dengan disiplin dan ajaran kakak iparku ke anaknya…semoga saya bisa..tidak mengutamakan hasil tapi juga mengutamakan menanamkan akhlak dan proses yang baik..tidak menghalalkan segala cara..

  2. itu atinya mental mereka belum merdeka, masih terjajah. kita butuh paradigma baru… guru kencing berdiri murid kencing berlari.
    tetaplah istiqomah d jalan yg benar mb Nanik.. 🙂

  3. Terima kasih jeng Naniek, sharing sebagian cerminan perilaku pelaku pendidikan. Kaidah pendidikan sebagai perubahan perilaku ke arah yang lebih baik sedang dicobai nih.
    Tetap semangat Jeng, tuk capai passing grade. salam pembelajar

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s