PengalamanKu

Surat Sakti, Masih Laku?

Masa libur sekolah telah datang. Namun bagi bapak ibu guru, bukan artinya ikut libur juga. Justru mereka sedang sibuk karena menjadi panitia penerimaan siswa baru. Nah, kalau pas masa penerimaan siswa baru gini, pasti jadi banyak cerita.

Cerita pertama, dari teman-teman kantor yang mencarikan sekolah untuk anak-anaknya. Survey sana-sini. Mencari sekolah yang terbaik untuk puta putrinya. Gemes karena untuk masuk sekolah yang dipilih harus mengikuti serangkaian tes, namun tak kuasa untuk memprotes. Jadi ya, ikuti aja prosedurnya. Ikutan cemas menunggu pengumuman. Cemas juga menyiapkan biayanya.

Cerita kedua, dari teman-teman guru yang terlibat dalam penerimaan siswa baru. Bukan masalah repot dan capek ngurusi proses penerimaan siswa. Bukan masalah iri karena tak bisa menikmati liburan. Tapi masalah menumpuknya surat rekomendasi dari dinas pendidikan setempat. Jadi ceritanya, ada surat dari dinas, yang meminta agar si A diterima disekolah itu. Dan surat semacam ini bukan cuma satu. Ada permintaan juga agar si B, si C hingga si Z diterima juga. Dilema bagi para guru. Kalau si A, B, C memang memenuhi kualifikasi sih nggak apa-apa, tapi kalau nggak? Mau menolak, emang berani? Bikin masalah ama orang dinas, bisa-bisa tambah panjang urusan.

Jadi ingat jaman saya masuk SMA dulu. Penerimaan nggak pakai tes, cuma berdasar urutan nilai NEM saja. Hari terakhir batas waktu penerimaan, bapak ngajak saya ke  SMA 1, tempat saya mendaftar. Saya nggak ngerti mau ngapain lagi kesana, kan proses pendaftaran udah selesai, tinggal tunggu pengumuman saja. Bapak bilang buat jaga-jaga, kalau kira-kira nggak lolos, maka berkas-berkas pendaftaran mau ditarik lalu pindah ndaftar ke SMA 2, karena pasti standard minimal NEM di SMA 2 lebih rendah dibanding SMA 1.

Alhamdulillah nggak perlu nyabut, nilai saya lolos di SMA 1.

Nah, pas udah sekitar 3 bulan masuk sekolah, kok dikelas saya ada anak baru. Pindahan dari SMA 2. Padahal SMA 1 dan SMA 2 itu lokasinya dekat lho. Terus kenapa dia harus pindah? Kenapa nggak dari awal aja masuk di SMA 1?

Rupanya, bapak si anak ini adalah pejabat. Dan, berbekal surat sakti, maka si anak yang dulu nggak lolos diterima di SMA 1, pada akhirnya bisa pindah juga ke SMA 1.

OK lah, itu cerita jaman dulu. Tak disangka ternyata sekarang juga masih ada. Malah menurutku lebih parah. Sedari awal udah booking kursi, dengan berbekal surat sakti. Terlalu memaksa diri demi gengsi, tanpa melihat kemampuan anak, bisa atau tidak mengikuti. Kasihan si anak, di eksploitasi demi harga diri orang tua yang terlalu berambisi.

 

Iklan

10 thoughts on “Surat Sakti, Masih Laku?

  1. lagi2 kita butuh paradigma baru…. ada pepatah Arab berbunyi “undzhur maa qoola wa laa tandzhue man qoola,” perhatikan apa yg dibicarakan (substansi) dan jangan perhatikan siapa yg berbicara. barangkali kalu boleh saya tarik nilai kalimat mutiara Arab d atas dengn bahasan ini, alangkah bjiaksananya bila kita ingin mengukur keilmuwan itu dari apa yg dipelajarinya, bukan dmna dia belajar. rata2 d setiap tempat SMA 1 adalah sekolah favorit, dan kebanyakan pula orang tidak melihat apa yg d ajarkan d sekolah tsb.

  2. iya bnr mbak.. seharusnya mengikuti kemampuan, minat dan bakat anak… ortu hanya mendukung saja agar cita2 anak tercapai sesuai minatnya… demi sebuah gengsi.. sianak jadi korban 😦

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s