WisataKu

Satu Lagi Kisah Sedih TKW Kita

20 Juni, sore hari, saya sedang berada di ruang tunggu F6 terminal 2 bandara Soekarno Hatta, menantikan pesawat yang akan membawa saya ke Surabaya. Duduk di sebelah saya, seorang wanita, yang saya perkirakan umurnya beberapa tahun diatas saya. Awalnya kami tak bertegur sapa, begitu duduk, saya langsung mengeluarkan buku dari dalam tas dan mulai asyik membaca.

Keasyikan saya terusik, kala wanita itu menanyakan dimana letak toilet. Saya lalu menjelaskan bahwa toilet ada di bawah. Tapi wanita itu tak segera beranjak walau sudah saya tunjukkan. Oh, mungkin dia malas naik turun tangga. Saya pun lalu memberitahu dia lagi bahwa diluar ruang tunggu juga ada toilet, saya jelaskan arahnya untuk menuju kesana. Wanita itu lalu berucap”wah kok tambah jauh”. Agak heran juga saya, kok dia sampai nggak tahu posisi toilet.

Lalu saya meletakkan buku, karena saya menangkap gelagat wanita itu ingin ngobrol dengan saya. Dan benar saja, kami pun lalu terlibat obrolan. Lebih tepatnya sih, dia yang lebih banyak bercerita, sedang saya lebih banyak menyimak.

Dia (D) : Mbak mau kemana?

Saya (S) : Surabaya

D : Lho kok beda, saya mau ke Solo. Tadi katanya di F6.

S : Ya bisa saja ruang tunggunya sama tapi tujuannya berbeda

D : Capek saya mbak, nunggu dari tadi. Transit

S : Emang dari mana?

D : Singapura

Kami saling diam beberapa saat. Dalam hati saya, klo dari singapura kemungkinannya ada dua. Dia turis yang abis jalan-jalan disana, atau dia bekerja disana.

S : Kerja disana?

D : Iya mbak. Baru 2 bulan disana. Saya nggak tahan. Majikan killer. Saya abis jatuh, ini juga pinggang masih sakit kalau buat jalan. Saya minta keluarga buat nebus.

S : Nebus?

D : Iya, nebus ke agen biar saya bisa pulang. Banyak mbak, 15 juta.

S : Agen Indonesia apa singapura?

D : Singapura.

Dia lalu bercerita panjang lebar, bahwa dulu “dikarantina” diagen Solo selama 40 hari, lalu diberangkatkan. Kata agennya, nggak pa pa bahasa inggris belum lancar, karena disana banyak calon majikan yang bisa berbahasa melayu. Jadilah dia berangkat setelah semua dokumen beres. Dari Indonesia, dia membawa bekal 1,5 juta.

Di Singapura, dia ditampung di agen. Sekitar 2 minggu baru dia memperoleh majikan. Selama 2 minggu ditampung itu, segala keperluan pribadi, dia tanggung sendiri. Habislah uang bekal yang dibawa dari Indonesia. HP disita oleh pihak agen. Selama berada di agen, saat jam kerja agen tersebut, dia dan semua TKW yang ditampung disitu, “di pajang” di ruang depan. Di lihat-lihat, diamati, ditanya-tanya  oleh calon majikan. Akhirnya, setelah sesi wawancara dengan calon majikan, sepasang suami istri yang usianya sudah 70 an tahun memutuskan untuk mempekerjakannya. Suami istri itu memiliki anak perempuan, yang sudah dewasa dan bekerja, sehingga jarang berada di rumah.

Menurutnya, beda banget kenyataan disana dengan apa yang dibicarakan saat wawancara. Saat wawancara mereka ramah, dijelaskan bahwa pekerjaannya disana adalah menjaga rumah, ngepel dan bersih-bersih rumah, nyuci, setrika, masak.

Kenyataannya, majikannya suka sekali membentak jika menyuruh, marah-marah jika dia terlambat datang saat dipanggil, sering menuduh dia mencuri barang-barang yang ada di rumah itu. Mencuci mobil, memotong rumput, merapikan taman juga dia sendirian yang menangani. Jika ketahuan dia sedang melaksanakan sholat, maka amarah majikan akan semakin besar.

Awalnya, dia ingin bertahan. Paling tidak selama 4 bulan saja, sampai tanggungannya pada agen lunas. Namun suatu hari, dia terjatuh di kamar mandi. Mungkin ada tulangnya yang menggeser, hingga jika dipakai jalan, pinggulnya terasa sakit.

Majikannya tak percaya jika dia sakit. Di kiranya, dia berpura-pura saja, untuk menghindari pekerjaan rumah. Jadilah dia semakin sering menerima bentakan dari majikannya. Rasanya dia pengen lari saja. Tapi lari kemana?

Untungnya, dia hapal nomor hp suaminya di Solo. Untungnya, dia kenal pembantu yang ada di rumah sebelah majikannya. Pembantu yang beruntung menurutnya, majikannya baik, sudah 6 tahun dia disana. Maka dia dan pembantu sebelah pun berkomunikasi, dengan cara menuliskan pesan pada selembar kertas, lalu kertas tersebut digunakan untuk membungkus batu kerikil, kemudian saling dilempar antar rumah. Dia minta tolong pada pembantu sebelah, agar menghubungi keluarganya di Indonesia, bahwa dia sakit dan sudah tidak tahan, dia ingin pulang.

Jadilah, dia disini sekarang. Disamping saya, menceritakan kisah sedihnya. Menceritakan alasannya memilih menjadi TKW. Menceritakan keinginan-keinginannya jika sukses menjadi TKW (namun ternyata malah berakhir sedih). Pulang tak membawa uang, malah menambah jumlah utang. Menceritakan teman-temannya yang masih berada di agen di singapura.

“Masih pengen balik kesana jika sudah sembuh?” saya coba memancing.

“Nggak mbak, kapok saya. Biar aja kami miskin disini, tapi hidup tenang, nggak kena marah tiap hari”

Kami terus mengobrol, hingga datang pemberitahuan bahwa pesawat yang akan ditumpanginya akan segera berangkat. Kami pun berpisah.

 

 

Iklan

15 thoughts on “Satu Lagi Kisah Sedih TKW Kita

  1. Tidak cukup dengan peningkatan ketrampilan saja ya Jeng, beliau pastinya sangat bahagia Jeng Naniek bersedia menjadi pendengarnya, sebagian sesek dikeluarkan. Salam

    1. betul, sudah trampil bekerja dan berbahasa pun tak jarang masih kena siksaan. Memang untung-untungan juga mereka disana, ada yang untung dapat pembantu baik. ada juga yang buntung, dah berkali-kali ganti majikan, tapi tetap aja sengsara

  2. barusan saja saya lihat berita di layar kaca tentang TKI yang di bantai dengan sadis…. mampir ke blog mbak Nik baca lagi tentang berita pilu TKW. kira kira 2 hari kebelakang istri cerita tentang bekas tetangga yg jadi TKW, pulang ke tanah air depresi berat…

    begitu banyak masalah yg menimpa saudara2 kita yg jadi TKW/TKI….

    1. Sebenarnya banyak juga yang sukses Kang, namun tidak banyak terekspos.
      Walau banyak masalah, namun tetap saja tiap tahun banyak yang berminat untuk jadi TKW/TKI Kang

    1. Klo baca2 banyak kisah TKI/TKW sih, perlakuan pihak kedutaan ke mereka beda dengan perlakuan terhadap WNI lain yang profesinya bukan TKI/TKW. Beda dalam hal ini “lebih memandang rendah” para TKI/TKW, jadi perlakuan/pelayanan juga beda.

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s