NaylaKu · SatriaKu

Senin Pagi Penuh Tangis

Senin pagi bisa jadi adalah saat yang paling membutuhkan kesabaran ekstra buat saya, perjuangan juga. Setelah sabtu minggu libur, seharian bersama anak-anak, mereka bisa pakai laptop saya buat mainan, dan tiba-tiba senin pagi saya harus kembali kerja, laptop kembali saya bawa ke kantor. Biasanya anak-anak merengek, nggak ngijinin mamanya buat ngantor, “aku mau mama dirumah aja tungguin babang”, “mama nggak usah ke kantor, pintunya dd kunci hayooo…”. Jadinya harus menjelaskan pelan-pelan ke mereka berdua. Bahwa mamanya ini punya kewajiban untuk bekerja, buat mengabdi pada negara…

Nah, senin kemarin lagi-lagi kehebohan terjadi. Kebetulan tanggal 10 – 13 ini saya harus ada di Jakarta, ada tugas dari negara. Saya sudah lama nggak keluar kota, dan begitu malam senin saya bilang kalau saya mau ke Jakarta, anak-anak dah histeris aja. Si dd bilang mau ikut. Si babang nggak mau klo saya tinggal ke jakarta, dari malam itu pengennya dipeluk terus sama saya.

Senin pagi, dd dah heboh lihat koper saya sudah siap. Langsung dia buka lemarinya, mengeluarkan baju-bajunya, minta pada saya buat dikemasi juga, karena dia mau ikut. Asli, pengen ketawa, tapi juga ada rasa gimana… gitu karena harus meninggalkan dia. Karena tentu saja dia nggak bisa ikut. Butuh waktu lama buat saya dan suami buat meyakinkan dd agar dia tinggal di rumah saja, karena nggak mungkin mamanya ini bawa dia ke Jakarta.

Si babang lain lagi, tas laptop saya dipegangi terus, dipeluk-peluk. Nggak boleh saya minta, karena dia tahu saya nggak mungkin pergi tanpa bawa laptop. Butuh waktu juga buat bujuk babang agar mau melepaskan laptopnya.

Jam 8 saya masih di rumah, karena pesawat ke jakarta jam 10.45 dan bandara nggak jauh dari rumah, jadi masih nyantai aja. Anak-anak heran liat saya jam segitu masih dirumah, campur senang juga pastinya. Si dd dan babang sampai nggak mau mandi, karena takut klo pas mereka mandi saya berangkat meninggalkan mereka.

Jam 9, saatnya saya harus berangkat. Anak-anak kembali merajuk. Babang nangis-nangis sambil peluk saya terus. Si dd heboh mau ikut ngantar ke bandara. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya babang mau melepaskan pelukannya, meski masih sambil nangis. Dia mau membiarkan saya berangkat, tapi dengan satu syarat, papa nanti pulang dari mengantar saya harus bawa chacha ama es krim. Jadi kedua makanan itu lebih berarti buat dia dibanding mamanya???

Si dd jadi ikut mengantar ke bandara. Sepanjang jalan dia nanya-nanya terus ngapain saya ke jakarta, berapa lama, apa di jakarta ada kamar mandi, apa dijakarta saya bisa masak dan banyak lagi. Pertanyaannya diulang-ulang terus walau sudah saua jawab berulangkali pula.

Sampai bandara, dd mogok lagi. Nggak mau diajak pulang. Maunya ikut mama. Perlu usaha keras lagi buat membujuknya. Dan lagi-lagi, es krim mampu meluluhkan keinginannya.

***

Saya, nggak pengen sebenarnya menyogok anak-anak dengan makanan ataupun mainan supaya mereka mau melakukan sesuatu. Pengennya mereka melakukan itu karena memang keinginan mereka, tanpa paksaan. Makanya sedapat mungkin, walau waktu dah mepet, saya usahakan untuk mengaja mereka bicara baik-baik. Tapi kemarin, memang lain dari biasanya. Dah alama dibujuk mereka tetap nggak mau. Mengangguk-angguk sih, tapi tetap nggak mau melepaskan pelukannya. Jadinya jurus es krim terpaksa dikeluarkan deh. Tapi nggak langsung berhasil lho, karena mereka maunya makan es krim sama mama! Jadi walau sudah pakai jurus es krim tetap saja mesti pakai bujukan lagi. Saya bilang, iya makan es krim sama mama, mama makannya di jakarta, anak-anak di rumah.

Dan sekarang sudah rabu aja, saya belum juga makan es krim disini seperti janji saya pada anak-anak.

Iklan

16 thoughts on “Senin Pagi Penuh Tangis

    1. salam kenal kembali mbak, makasih dah mampir.
      saya pernah memilih untuk tetap tingga dirumah dan membatalkan keluar kota saat anak sakit. Tapi saya juga pernah memilih tetap keluar kota saat anak sakit. Tergantung kondisi anak dan juga beban kerja

  1. Haiii Mak, salam kenal. Hiks sedih juga ya kudu meninggalkan anak dalam keadaan merajuk seperti itu. Hiks, jadi melow dan panas mataku.

    Alhamdulillah, jarang sih ketika anakku kutinggal dalam keadaan seperti itu. jurus cerita jauh-jauh hari ketika hendak ke luar kota, lalu aku buat afirmasi ke Faiz, kalau semua akan baik-baik saja. Kalau ummi juga harus kerja, untuk belajar Faiz, hihiii…pokoknya sebelum ke luar kota, aku ajak dia ngobrol terus, memang ada kata “tidak boleh” tapi aku enggak bahas yang tidak bolehnya.

    Memang sich setiap anak dan setiap moment berbeda…tapi kalau sudah anak merajuk ketika kita hendak pergi *apalagi waktu lama..rassanya nyesek.

    Ayo Mba, makan ice cream..kadang aku juga getuh untuk menggerakkan hati ke anak, contohnya ummi bawa bunga ini ya..padahal mah cuma ilalang..tapi, rasanya kalau tidak menyimpan dengan baik, kasihan anakku..hiks…jadi mewek.

    Mak…panjang kali komentarku, everythink is okay Mom. Kalian hebat, kok. Salam untuk babang dan dd ya…

    1. makasih koment dan sharingnya.
      pernah dicoba, ceritanya jauh-jauh hari, maksudnya biar mereka lebih siap untuk ditinggal. Tapi malah tiap hari menuju hari H kerjaannya merajuk terus :).
      alhamdulillah semuanya baik-baik saja. babang di rumah nggak pernah nanyain mamanya, dd masih sering tanya kapan mama pulang

  2. uh susah juga ya, jadi ibu sekaligus abdi negara. tetapi semoga semuanya lancar… lancar tanpa halangan ya mbak. kalau sudah besar, nanti anak-anaknya juga gak mau ikut. lebih memilih main sma teman-temannya. contohnya saya. hihihi.. dulu ngintill kemana ja bunda pergi sekrang enggak. πŸ˜€

    1. nah itu, kadang saya juga mikir ntar makin besar, mereka bakal milih sama teman-temannya. Jadi mumpung sekarang masih kecil, kenapa tak saya puas-puasin bersama mereka?
      Tapi ya… kan nggak mungkinlah sama-sama terus ya, ada saatnya bermanfaat buat keluarga, saatnya berguna untuk masyarakat, saatnya buat mengabdi pada negara. yang penting berimbanglah.
      ieh, kok jadi sok dewasa gini πŸ™‚

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s