PengalamanKu

Merapat ke Pejabat, Urusan jadi Lancar?

Pagi hari, ada telpon dari bagian kepegawaian untukku

Staff kepegawaian (S) : Mbak, SK jabatan sudah jadi, silakan diambil ke sini

Aku (A)  : Ok, ntar saya minta tolong adik-adik (anak-anak magang) ke sana buat ngambil ya.

S : Jangan mbak, nggak boleh. Mbak aja kesini sendiri, nanti ngadep Bapak (kepala kepegawaian), ntar kan sama Bapak diarahkan buat ngambil di meja saya

A : oh, harus ngadep langsung ya? kan cuma ambil berkas, biasanya juga adik-adik yang ambil

S : Biar tahun depan S3 sampeyan lancar gitu lho mbak. Ajak suami sekalian, kan suami belum kenal sama bapak. Biar kenal, beramah tamah gitu

A : Memang harus gitu ya? Kenapa pula mesti bawa-bawa suami saya

S : Ya biar kenal, biar akrab, nanti kan urusannya jadi lancar

A : Tapi saya nggak suka kayak gitu. Selain saya siapa lagi yang belum ambil?

S : Pak S sama K. Tapi pak S nggak mau ngambil, ada masalah, jadi ya sementara masih saya simpan dulu.

A : Ya udah nanti saya kesana, tapi nggak bawa suami. Saya sama pak K aja.

Klik telpon ditutup

***

Jadi ceritanya, sejak diberlakukan remunerasi, setiap pegawai harus punya jabatan. Beberapa hari yang lalu, kami semua dikumpulkan di aula, ada beberapa penjelasan tentang remunerasi sekaligus pembagian SK jabatan untuk setiap pegawai. Karena saya kebetulan lagi nggak dikantor saat acara itu, maka saya belum mendapatkan SK tersebut. Selain saya, di unit kerja saya ada tiga teman yang kebetulan juga lagi dinas luar pas acara tersebut. Tapi kok tadi si mbak, cuma sebut dua nama, berarti satu teman saya sudah ngambil. Maka, saya hubungilah satu teman saya tadi.

Teman saya bilang, kalau dia telpon ke bagian kepegawaian dulu, abis itu minta tolong adik-adik buat mengambilkan. Dan dibolehkan untuk diambil. Tanpa harus datang sendiri, tanpa harus ngadep Bapak langsung. Lha kok standarnya beda?

Lalu teman saya cerita, tapi klo pak S kemarin nggak boleh. Dia juga telpon dulu ke kepegawaian, bilang mau ada adik-adik yang kesitu buat ngambil SK. Kata staffnya suruh ambil sendiri, ngadep Bapak langsung. Berhubung pak S ini sudah senior, lalu dia bilang ya udah tolong disimpan disitu aja SK nya kalau nggak boleh diambilkan sama adik-adik. Persoalan mudah kok dipersulit.

Dapat dua cerita dengan versi berbeda itu, saya pun lalu memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Biar saja SK saya disimpan dibagian kepegawaian saja. Lagian itu juga SK jabatan tahun kemarin. Berdasarkan staffing tahun 2014, jabatan saya sudah beda lagi. Berarti kan nanti ada SK baru lagi.

Seandainya si mbak staff kepegawaian nggak bilang suruh2 bawa suami, biar urusan lancar, maka pasti saya akan ambil sendiri SK saya. Tapi karena pengantarnya begitu, saya jadi malas ngadep.

***

Saya ini lebih suka jadi pelaksana saja, yang penting kepala unit kerja saya tidak mempermasalahkan kinerja saya. Masalah rejeki, kalau memang sudah menjadi jatah saya, saya yakin nggak akan kemana dan tidak ada manusia yang dapat menghalanginya. Tanpa harus merapat ke pejabat pun, alhamdulillah segala urusan saya dikantor selama ini lancar-lancar saja. Memang sih saya gagal dalam ikut seleksi untuk mendapatkan beasiswa S3, memang saya pernah gagal dalam seleksi untuk magang di luar negeri. Tapi saya berprasangka baik saja, barangkali memang belum rejeki saya untuk kuliah lagi, belum rejeki saya untuk bisa ke luar negeri.

Iklan

19 thoughts on “Merapat ke Pejabat, Urusan jadi Lancar?

  1. Masalah rejeki, kalau memang sudah menjadi jatah saya, saya yakin nggak akan kemana dan tidak ada manusia yang dapat menghalanginya—> Setuju 😀

    Rejeki tidak akan pernah tertukar mbak, semoga segala sesuatunya akan dimudahkan oleh Allah..

  2. Hehehehe. ..
    Saya sering mendengar hal2 semacam itu di Kantor, Mba. Ada yang langsung sigap, ada juga yang mengabaikan untuk bertemu langsung dg pimpinan.

    Yaaa, lagi2 itu pilihan, ya. 🙂 Salam buat si ganteng Satria dan si Manis Nay. ^_*

  3. Menarik juga untuk coba menghadap beliau dengan prasangka awal positif Jeng Naniek saja sehingga bisa tahu yang sebenarnya. Sehingga kita memiliki penilaian sendiri yang tidak terlalu dipengaruhi penilaian teman lain.
    Selamat berkarya Jeng.

  4. Agak-agak aneh kalau satu permasalahan yaitu SK, dsikapi degan kebijakan yang berbeda buat setiap orang. Apalagi pake bawa-bawa suami segala, duh, nggak ada hubungannya kali…
    Sepakat mbak, merapat itu bukan ke pejabat, tapi pada Allah Swt.
    🙂

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s