PengalamanKu

Menyumbang Darah, Ternyata tak Mudah

Pagi ini ada kegiatan donor darah dikantor. Sudah lama sekali sejak saya terakhir mendonorkan darah, 2009. Jadi pagi ini saya pun berminat untuk ikut donor. Mengisi data diri dan pernyataan kesediaan untuk menjadi donor, lalu mengantri untuk di cek oleh petugas, selanjutnya baru deh darahnya diambil. Pada saat sedang mengisi data, suami telpon, saya bilangkan kalau sedang antri donor darah. Ternyata suami berminat juga, saya suruh aja langsung menuju ke kantor.

Petugas memeriksa detak jantung dan tekanan darah saya, menimbang berat badan lalu mengambil sampel darah. Dia juga menanyakan beberapa hal : kapan saya terakhir mens, apakah minum obat dalam tiga hari terakhir, semalam tidur jam berapa dan apakah saya sudah sarapan. Sudah ada sepotong gethuk lindri yang masuk perut pagi tadi, jadi saya jawab saja kalau saya sudah sarapan. Setelah itu, baru deh darah saya diambil, satu kantong. Setelah selesai mendapat bingkisan roti dan minuman.

Saat saya sedang diambil darah, suami menghampiri saya dan mengatakan kalau menurut petugas, suami saya tidak bisa mendonorkan darahnya. Kata petugas karena hb terlalu tinggi. Wah saya baru tahu kalau pengambilan sampel darah tadi ternyata untuk itu. Dulu saya kira, pengambilan sampel darah hanya untuk mengetahui/meyakinkan golongan darah kita saja. Saya kira kalau berat diatas 45 dan tekanan darah tidak rendah, siapapun boleh menjadi donor. Ternyata bukan hanya itu syaratnya. Jadi batal deh keinginan suami untuk donor.

Penasaran, maka saya pun mencari informasi, apa saja sih syarat menjadi donor darah itu. Dan inilah hasilnya

  • usia 17 – 60 tahun
  • berat badan minimal 45 kg
  • temperatur tubuh 36.6 – 37.5 derajat celcius
  • tekanan darah sistole 110-160 mmHg, diastole 70 – 100 mmHg (saya tadi 120/80)
  • hemoglobin minimal 12.5 gr
  • memiliki riwayat kesehatan baik

Menurut petugas, saya dapat mendonorkan darah lagi, tiga bulan dari hari ini. Jadi kalau rutin, dalam setahun saya dapat mendonorkan darah sebanyak empat kali. Menurut petugas tadi juga, hb suami saya tidak memenuhi, katanya darahnya terlalu kental.

Iklan

11 thoughts on “Menyumbang Darah, Ternyata tak Mudah

  1. setelah darah diambil juga tak berarti bisa langsung disumbangkan mbak
    ada pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat ada penyakit menular,
    bila memang ada maka pihak PMI akan kasih tahu pendonor dan kasih saran buat berobat

  2. Aku jg belum pernah donor darah, pusing ga abis donor darah atau lemes gitu? Aku suka kayak mau muntah klo liat darah, gatau knp gitu… Btw.. Hb suami tinggi, krn darahnya kental, hati2 mbak.. Harus dijaga makanan dan rajin olah raga, aku jg pernah di cek, katanya darahku agak kental, biasanya klo gitu badan suka pegel2 dan susah tdr

  3. Trima kasih informasinya, mbak Nanik…dulu saya rutin donor sama suami di PMI Malang, tapi sejak kena hepatitis B, saya jadi nggak pernah lagi deh, mbak…hehe, padahal kayaknya sudah boleh, tapi kenapa sayanya jadi ragu-ragu ya…

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s