PengalamanKu

Sayang Anak vs Sayang Barang

“Sayang anak… sayang anak…” yang sering jalan-jalan ke pasar atau tempat hiburan, pastinya pernah dengar teriakan itu dari para pedagang mainan, pakaian anak-anak, balon ataupun aneka macam makanan. Yah, mereka bermaksud mengetuk hati kita, secara tak langsung mau bilang, kalau sayang anak, maka belilah jualan saya ini dan berikan pada anak anda. Kalau ketemu yang demikian, biasanya saya/suami akan nyeletuk, “kami sayang anak, tapi bukan berarti kami harus membeli jualan bapak”.

Tapi ditulisan ini saya nggak akan bahas mengenai aneka macam jualan tersebut, dan kenapa saya membeli/tidak membeli jualan mereka. Saya mau bicarakan hal lain.

Biar aja nggak nyambung. πŸ™‚

Suatu kali, saya berkunjung ke sebuah SMK. Disana, saya ditemani guru muda, sebagai pemandu selama saya berada disana. Kalau sesama orang muda, sesama ortu pemula, sesama punya balita, pasti obrolannya ada yang menyangkut sedikit-sedikit tentang masalah anak masing-masing. Salah satu topik obrolannya adalah, dengan siapa si anak selama ditinggal beraktivitas oleh kedua orang tuanya?

Teman saya itu bercerita kalau setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah, dia mengantarkan anaknya ke rumah si pengasuh anak. Kebetulan teman saya itu, suami istri menjadi guru, disekolah yang sama. Nanti sore, sepulang dari beraktivitas di sekolah, mereka kembali ke rumah si pengasuh, mengambil anaknya kembali. Rumah si pengasuh berjarak sekitar 2 km dari rumah teman saya.

Saya pun lantas menanyakan, kenapa nggak si pengasuhnya aja yang disuruh datang ke rumah, pagi datang dan sorenya pulang. Sekalian kan bisa beres-beres rumah juga, selain mengasuh si anak. Teman saya bilang, kalau istrinya tidak mengijinkan si pengasuh datang ke rumah. Alasannya adalah karena di rumah mereka banyak barang-barang, takut kalau ada yang rusak/hilang jika mengijinkan si pengasuh tinggal di rumah selama mereka beraktivitas diluar.

Saya berusaha memahami kekhawatiran istri teman saya. Mungkin barang-barang dirumahnya mahal. Mungkin barang-barang dirumahnya susah diperoleh. Mungkin barang-barang dirumahnya terbeli setelah sekian lama menabung, mengencangkan ikat pinggang. Walau dalam hati saya kurang setuju dengan sikap mereka itu. Mereka takut mempercayakan rumah dan seisinya selama ditinggal beraktivitas pada si pengasuh. Sementara mereka tak takut mempercayakan anak, yang nilainya lebih tinggi dibanding rumah seisinya, pada si pengasuh tersebut.

Saya jadi ingat, dulu pernah dapat cerita dari sebuah milis yang saya ikuti. Cerita tentang seorang anak, yang ingin memperoleh perhatian dari kedua orang tuanya, dia membuat “lukisan” dimobil sang ayah, dengan harapan mendapat apresiasi. Namun bukan pujian, bukan pelukan, bukan kecupan sayang yang diperolehnya. Malah “penganiayaan” yang menyebabkan tangan si anak akhirnya harus diamputasi. Akhirnya tinggallah penyesalan dari kedua orang tuanya. Terlepas dari kisah ini nyata atau hanya khayalan penulisnya, pesannya sangat jelas, bahwa anak-anak kita jauh lebih berharga di banding barang apapun yang kita miliki.

Semoga kita selalu diberikan waktu lebih banyak untuk memperhatikan anak-anak, dibanding memperhatikan benda-benda yang juga kita sayangi.

Iklan

18 thoughts on “Sayang Anak vs Sayang Barang

  1. si ibu belum menyadari bahwa harta, warisan terbesarnya adalah perkembangan anaknya. Bahkan setelah dia tiada meninggalkan barang yang takut hilang dan pecah itu, doa anak yang shalehlah yang akan terus diterima.

  2. padahal anak adalah permata paling berharga daripada rumah dan seisinya. Orang tua pasti akan menyelamatkan anaknya terlebih dahulu sebelum menyelamatkan barang-barangnya

  3. Sepakat, mbak…anak itu amanah tak ternilai dari Allah Swt.
    Kadang kita lupa dan lebih menghargai benda yang bisa memiliki nilai harta. Miris pastinya.
    Apa kabar, mbak Nanik?
    Sampe kangen deh lama nggak bersilaturahmi kesini πŸ™‚

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s