PengalamanKu

Ke Surabaya Ketemu Bu Risma

Hari Sabtu kemarin saya ke Surabaya, menghadiri acara Kompasiana MODIS (Monthly Discussion), yang menghadirkan walikota Surabaya sebagai pembicaranya. Pesertanya terbatas, 100 orang dan wajib punya blog di K. Berhubung saya dan suami sama-sama punya blog di K, walau sudah berbulan-bulan nggak pernah update tulisan disana, jadilah kami berdua mendaftar. Berhubung ART kalau sabtu libur, maka pastinya anak-anak kami ajak serta.

Berangkat pagi dari Malang, mampir Sidoarjo dulu ke rumah kakak. Ternyata babang yang udah keasyikan main sama kakak sepupunya menyatakan nggak mau ikut ke Surabaya, pengen di rumah pakdenya saja, ditambah janji dari pakdenya kalau mau diajak mancing bila babang mau ditinggal. Maka babang pun kami tinggal, sementara dd menyatakan tetap pengen ikut sama mamanya.

Sampai gedung Kompas Gramedia, tempat berlangsungnya acara sekitar jam setengah 2 an. Dijadwal, acara dimulai jam 2. Masih banyak waktu. Eh, lha ternyata ada pemberitahuan kalau bu Risma baru bisa datang jam 3. Ya gpp lah nunggu dulu, untungya dd juga nggak rewel dan mau diajak ikut menunggu.

Jam 3 lewat dikit, akhirnya bu Risma datang juga.

IMG03470-20140322-1510Acara diawali dengan pengenalan tentang K pada bu Risma. Setelah itu dilanjutkan dengan pemaparan beberapa hal tentang Surabaya dan perkembangannya, tentang apa yang sudah dilakukan bu Risma

IMG03473-20140322-1546Dengan lugas dan blak-blakan bu Risma menceritakan pengalamannya selama memimpin kota Surabaya. Inti ceritanya antara lain :

  • bahwa tugas seorang pemimpin lah untuk membuat anak buahnya mau dan bisa bekerja. Bu Risma memilih anak buah berdasarkan kemampuan seseorang untuk melayani. Dengan tegas bu Risma mengatakan adalah bila ada PNS “bajingan” maka yang harus disalahkan adalah pemimpinnya. Justru tugas pimpinanlah untuk mendidik anak buahnya agar tidak menjadi “bajingan”. Memangnya kalau nggak ada PNS, bu Risma bisa kerja?
  • Bu Risma tidak ingin pembangunan di Surabaya maju, namun masyarakatnya tidak terlibat, jangan sampai warga surabaya hanya menjadi penonton saja. Pembangunan kota yang maju, jika warganya juga tidak ikut diangkat, maka dapat menimbulkan kesenjangan ekonomi yang makin tinggi, kesenjangan ekonomi ini akan meningkatkan tingkat kriminalitas.
  • Untuk berkomunikasi dengan anak buah, bu Risma memilih menggunakan HT. Salah satu alasan beliau adalah “kalau pakai HT, sekali saya marah, maka semua orang bisa mendengar” yang langsung disambut tawa hadirin.
  • Semua layanan dan operasional di pemerintahan kota Surabaya berbasis elektronik. Sehingga semua warga dapat memantau, demi mewujudkan pemerintahan yang transparan. Hal ini juga dilakukan demi memangkas rantai birokrasi, sehingga lebih banyak waktu untuk turun ke lapangan. Bahkan beliau mengatakan “kalau mengurus sesuatu, jika perlu nggak usah pakai tanda tangan RT RW, tapi nanti saya di protes sama mereka, dikira nggak nguwongke, dikira mereka nggak dianggap, lha terus apa gunanya ada pemilihan ketua RT RW?” yang lagi-lagi disambung tawa hadirin.
  • Pendidikan tingkat SD-SMA gratis, tidak hanya disekolah negeri, namun juga disekolah swasta. Dengan memanfaatan dana BOS dan POPDA. Jadi pendapatan daerah harus ditingkatkan supaya cukup. Dan kalau niatnya baik, pasti CUKUP dan bisa. Untuk kesehatan, asal warga mau mendapat fasilitas kelas 3, maka akan ditanggung oleh pemda.
  • Surabaya bersih dari pengamen, karena pengamen itu dibayar, disuruh bernyanyi di taman, menghibur pengunjung taman. Sehingga tak ada lagi pengamen di lampu merah. Beda banget sama di Malang. Di lampu merah banyak banget pengamen, dan rata-rata masih anak-anak

Di sela-sela pemaparan beliau, ditayangkan juga beberapa slide yang berisi foto-foto berbagai kegiatan beliau selama memimpin kota Surabaya.

Setelah pemaparan, acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan “sensitif” yang dilontarkan oleh peserta. Bu Risma menjawab semua pertanyaan itu, ada beberapa hal yang beliau minta untuk tidak dipublikasikan, cukup hanya didalam ruangan itu saja. Cukup peserta saja yang tahu.

IMG03474-20140322-1555

Ada hal yang menarik, saat seorang peserta mengadukan seorang staff Beliau. Bu Risma segera minta ajudannya untuk menelpon staff tersebut. Namun karena data dari si pengadu tidak lengkap, tidak dapat dilakukan saat itu. Bu Risma berjanji menindaklanjuti pengaduan warganya, bahkan menghentikan staffnya jika terbukti bersalah, dan meminta warganya tersebut untuk bersedia menjadi saksi.

***

Sekitar 2 jam bersama bu Risma. Saya makin kagum pada sosok beliau. Seandai ada setengah saja pemimpin daerah di negara kita seperti Beliau, maka akan senanglah rakyat.

Iklan

22 thoughts on “Ke Surabaya Ketemu Bu Risma

  1. Satu lagi berita bagus tentang beliau. Saya sebelumnya membaca tentang ini di blog lain dan beliau luar biasa dengan mengatakan kesalahan memang ada di pemimpin kalau misalkan di suatu organisasi ada yang berjalan tidak sebagaimana seharusnya. Salut!

  2. pimpinanlah untuk mendidik anak buahnya agar tidak menjadi “bajingan” … ini luar biasa … seorang pemimpin yang bertanggung jawab atas pekerjaan dan perbuatan anak buahnya …

    dan saya salut juga … Bu Risma langsung follow up pengaduan …
    tentu saja … yang mengadu juga harus mau bertanggung jawab atas aduannya

    salam saya Mbak Nanik

    (24/3 : 7)

    1. iya pak, si pengadu langsung gelagapan waktu bu risma minta diambilkan hp, mau langsung telp staff yang diadukannya. mungkin nggak menyangka juga reaksinya bakal secepat itu 🙂

  3. Semoga segera lahir pemimpin-pemimpin seperti bu Risma berikutnya,
    yang ingat bahwa pertanggung jawabannya bukan hanya saat ini.
    *tahu sosok beliau cuma di acara mata**** dan wawancara tv lainnya.

  4. Semoga Bu Risma diberi kesehatan dan kekuatan agar bisa memimpin yang cakupan wilayahnya lebih luas lagi. Rakyat Indonesia sudah lama merindukan pemimpin yang seperti ini 🙂

    1. Waktu ditanyakan kesediaannya untuk memimpin Indonesia, beliau menggeleng. Bagaimana kalau jatim, beliau bilang “Nggak. suroboyo wae mumet opo meneh jatim”. Bagaimana kalau surabaya untuk periode kedua, beliau tersenyum sambil tetap menggeleng

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s