PengalamanKu

No Pain No Beauty?

Kemarin nonton tayangan di salah satu TV swasta, yang membahas beberapa artis yang menjalani tanam benang di wajahnya, dengan tujuan ‘terlihat’ lebih cantik karena kulit wajahnya jadi lebih kencang. Dalam tayangan itu juga diperlihatkan bagaimana wajah mereka ditusuk dengan beberapa jarum. Saya yang melihatnya aja langsung bergidik dan meringis, membayangkan jarum-jarum itu mengenai tubuh saya, pastinya sakit sekali.

Pembawa acara itu melontarkan sebuah tanya, no pain no beauty? yang saya kutip untuk menjadi judul tulisan ini. Semoga saja nulisnya bener. Salah satu artis yang diwawancara, dengan setengah bercanda, menyebutkan, sakit memang pas ditusuk jarum dan dipasang benang. Tapi yang paling menyakitkan adalah saat membayar, karena MAHAL. Satu benang harganya bisa sampai 2 juta. Padahal nggak mungkin cuma satu benang saja yang ditanam.

Jika mengeluhkan mahal, kenapa pula tetap dilakukan? Karena hasilnya akan sebanding dengan materi yang akan mereka terima. Bermodal wajah cantik, mereka berharap akan terus mendapat tawaran pekerjaan, yang tentunya bayarannya juga mahal. Tapi ternyata, wajah cantik juga belum menjamin lho bahwa mereka bakal dapat job.

Seorang artis lain, yang diwawancara mengatakan bahwa ia tak mendapat tawaran job setelah melahirkan, karena badannya otomatis melar dan berat badannya pasti melebihi angka ideal. Artis ini tetap cantik menurut saya, walau badannya jadi gemuk. Maka mulailah dia membuat program untuk menurunkan berat badannya, dan setelah berhasil jadi ‘seksi’ lagi, tawaran pekerjaan pun mulai datang satu persatu.

Jadi, memang kecantikan dan tubuh rampinglah yang mereka jual.

***

Saya tak ingin menyalahkan para artis itu. Pun saya tak berhak menghakimi apakah yang mereka lakukan itu benar atau salah. Selama industri media, industri hiburan, memberikan dogma bahwa cantik itu = putih, tinggi, langsing, kulit wajah kencang, maka akan tetap ada wanita-wanita yang berupaya untuk melakukan berbagai hal untuk mencapai definisi cantik. Selama para pria beranggapan bahwa cantik adalah seperti dogma dari industri tersebut, akan makin banyak wanita yang berupaya untuk melakukan segala hal agar terlihat cantik dimata para pria.

Dan sayangnya, walaupun para pria mau menerima wanita apa adanya, masih tetap banyak juga wanita yang tidak percaya diri untuk tampil apa adanya. Walaupun para pria tak pernah mengomentari penampilannya, tetap banyak juga wanita yang meributkan penampilannya. Lagi-lagi, faktor lingkunganlah penyebabnya, teman bergaul, tayangan tv, bombardir iklan yang menciptakan pikiran dalam diri para wanita, bahwa dia tidak/belum cantik jika tidak ini itu.

***

Penasaran dengan yang namanya tanam benang, saya pun googling pagi ini untuk mendapatkan informasi detailnya. dan setelah baca-baca beberapa web yang membahas soal tanam benang ini, saya kok makin bergidik saja.

Ada dua macam benang yang digunakan yaitu, benang bergerigi dan polos. Untuk benang bergerigi, daya tahannya bisa sampai tiga tahun, klo benang polos dapat bertahan beberapa bulan hingga satu tahun. Tentu saja benang bergerigi harganya lebih mahal, proses penanamannya juga lebih rumit. Dan pastinya lebih sakit!

Silakan cek disini kalau ingin tahu info lebih lengkapnya. Bukan promosi lho ya, sekedar buat nambah pengetahuan kita aja. Siapa tahu ada yang penasaran kayak saya, siapa tahu juga ada yang tertarik untuk melakukannya, siapa tahu ada yang butuh referensi untuk bisa mengatakan TIDAK saat ada yang membujuk untuk melakukan tanam benang.

***

Ok, anggap saja tulisan diatas adalah pandangan obyektif. Sekarang bagaimana dengan pandangan subyektif?

Heheheh…. walau malu, saya akan coba menjawab dengan sejujurnya.

Jujur, saya juga sering tergoda untuk memiliki wajah cantik versi iklan. Jujur, saya pun sering tergoda untuk punya kulit putih, badan ramping. Tapi itu sebatas keinginan saja, tak punya biaya untuk terapi ini itu, bahkan yang namanya masuk salon pun saya ini nggak pernah. Pas mau wisuda, ya di permak sama teman kost saja. Pas mau akad nikah, cukup dikasih bedak tipis saja. Ya dasar saya orangnya nggak suka dandan, bagaimana bisa cantik menurut versi media?

Badan tinggi dan ramping, bolehlah saya miliki. Tinggi alami, tanpa pakai sepatu/sandal ber hak sekian cm. Saya ini nggak bisa pakai sepatu/sandal ber hak, malah bisa-bisa saya jatuh tersungkur sebelum berhasil berjalan satu meter. Ramping, bukan karena diet. Tapi terpaksa, sebagai anak kost sejak jaman SMA, harus pinter-pinter berhemat, salah satunya adalah perkara makan. Jadi, bagaimana bisa membatasi makan, kalau makan saja memang sudah jarang?

Setelah melahirkan anak pertama, dilanjut menyusui, yang setiap hari saya disediakan makanan enak oleh ibu saya, jadilah badan saya ini makin bertambah-tambah beratnya. Sampai sekarang nggak bisa turun lagi. Kadang klo liat perut yang gendut ini, terbersit keinginan buat diet. Sukses paling satu hari saja, karena suami pasti langsung negur kalau ketahuan dalam satu hari saya nggak makan. Saya jujurlah, bahwa saya pengen diet, pengen mengurangi makan. Suami nggak melarang, nggak juga mendukung. Tapi besoknya, dia masak/beli makanan yang enak-enak, ngajak anak-anak makan didepan saya. Yah, akhirnya lunturlah keinginan buat diet.

Dan ditutup dengan ucapan suami “Ngapain sih menyiksa diri dengan membatasi makan? Makanan enak kok disia-siakan. Klo mau olahraga, ayo aku temani. Aku kan nggak pernah protes walau adik tambah gendut, terus dietmu itu buat siapa?”

Hiyaaaa deh, jadinya soal makan nggak dikurangi, tapi olahraganya yang ditambah

***

Demikianlah catatan ringan di wala april ini. Ini bukan april mop lho.

Bagaimana pengalamanmu soal cantik ini teman?

 

Iklan

16 thoughts on “No Pain No Beauty?

  1. Saya juga sering tergoda pake krim ini itu biar wjahnya kinclong, etapi skrng udah pake yang biasa aja, kalo untuk makan, saya lagi program penggemukan jadi apa aja dimakan šŸ˜³

  2. Si bunda di rumah juga ikut-ikutan pengen kulitnya kencang biar terlihat cantik di mata suaminya, jadi setiap hari pakai krim untuk tujuan tersebut. Padahal meski kulit mukanya ga kencang lagi, dia tetap saja terlihat paling cantik di mata saya… šŸ˜€

  3. saya ngelihat yang ditusuk2 itu sudah bergidik duluan, ngilu,
    merawat diri bolehlah ya, tetap sehat, kan itu bentuk syukur kita sama yang menciptakan šŸ™‚
    tapi untuk pemutih2, tidak, semua diciptakan sudah dengan tujuan tertentu,
    dan mempunyai keunikan masing-masing.

  4. (–“) aduh mba..tiba2 muka saya rasanya ngilu (?) bayangin muka ditusuk2 jarum.. ada duit = ada cantik…..pdhl mash bnyk cara alami untuk merawat diri kita. cuma yah namanya juga manusia,, nggak pernah ada puasnya,, saya pun terkadang suka pngn nyoba produk ini dan itu tapi ya setelah dipikir pikir malah takut sendiri ntar kl knp2..hehehe
    soal diet,, saya bersyukur sekali badannya sy susah gemuk.. walopun pd kenyataannya kadng sy masih suka ngeluh “kok ga montok2 sih..” tapi sekarang sy bersyukur karna tidak perlu pusing memikirkan diet dan harus bersakit sakit mengurangi makan.. apalagi saya suka makan…oh tidaaakkkk!!

    1. cara alami kan nggak bisa langsung ketahuan hasilnya mbak, mesti nunggu dulu beberapa hari/minggu/bulan, klo cara instan kan cepat, mungkin itu yang jadi pertimbangan mereka

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s