PengalamanKu · Uncategorized

Anak “Pintar” jadi Rebutan

Bulan ini mulai banyak terlihat spanduk penerimaan murid baru di Malang. Sekolah negeri maupun swasta, dari jenjang TK hingga SMA/SMK. Bahkan ada yang menyebutkan kata “indent” dalam spanduknya. Wah jadi bangku sekolah itu sudah sebangsa mobil/barang elektronik kah, bisa indent dulu kalau ingin duduk disana.

Yah, memang jamannya sudah beda. Jaman saya dulu, setelah ada pengumuman hasil ebtanas, baru mulai berburu sekolah. Sekarang, UN saja belum mulai, pendaftaran gelombang 1 sudah dibuka. Selesai masa UN dan pengumuman hasilnya, udah memasuki masa gelombang 2 pendaftaran.

Kebetulan punya kenalan yang mengajar di TK swasta, yang juga pasang spanduk dimana-mana. Maka, saya coba tanya-tanya tentang TK tempat dia mengajar. Yang pertama, pastinya besaran biayanya. Iyalah, mesti dipikirkan dan dipersiapkan.

Tapi disini saya nggak akan menuliskan soal biaya ini. Klo sudah niat, insyaallah bakal diberi jalan untuk mendapatkan biayanya. Yang mau saya bahas adalah, soal seleksi penerimaan calon murid yang diberlakukan di TK tersebut.

Teman saya bercerita, bahwa mulai tahun ajaran 2013/2014 kemarin, disekolahnya mulai menerapkan seleksi dalam menerima calon murid. Dasar dari penyelenggaraan seleksi ini adalah, sekolah tersebut tak mau lagi “kecolongan” menerima murid yang lamban dalam menerima pelajaran. Gara-gara keberadaan murid yang lamban ini, menurut mereka, banyak guru yang kewalahan dalam mengajar. Dibutuhkan usaha keras dan kesabaran ekstra dalam mengajari murid seperti ini. Oleh karena itu, karena pengennya mereka mendapatkan calon murid yang bisa cepat menerima pelajaran, diadakanlah seleksi ini.

Bentuk seleksinya seperti apa dan bagaimana caranya? Semisal mengenal huruf, angka, warna dan juga wawancara. HAH?? calon anak TK sudah harus menghadapi tes wawancara. Yang benar saja! Orang dewasa saja, kadang banyak yang nervous kalau harus menghadapi namanya tes wawancara, lha ini anak umur 4-5 tahun sudah pula harus menjalani wawancara. Memang sih, mungkin wawancaranya nggak formal gitu, tapi tetap saja anak segitu, kadang ketemu orang baru kan masih malu-malu kalau ditanya. Bisa-bisa karena anaknya malu, diam saja waktu ditanya ini itu, lalu dinyatakan tidak lolos seleksi.

Saya sendiri seorang pengajar. Tentunya senang kalau mengajar anak-anak yang pintar, yang cepat menangkap pesan yang ingin saya sampaikan, hanya dengan sekali meyampaikan. Kadang merasa capek dan jengkel juga, kalau sudah menerangkan berkali-kali dan si anak masih belum ngerti juga. Sampai diketawakan teman-temannya satu kelas, karena lama nyambungnya dengan materi yang disampaikan.

Tapi saya menganggap ini bukan sebuah beban. Saya anggap ini adalah sebuah tantangan. Mengajar anak pintar dan mereka berhasil, itu sesuatu yang biasa. Inputnya kualitas unggul, wajar kalau outputnya juga bagus. Namun berhasil mengajar anak-anak yang lamban dalam menangkap pesan, itu sesuatu yang luar biasa bagi saya. Kadang saya terharu, saat melihat anak-anak yang lamban itu presentasi didepan kelas, ternyata mereka mampu, dengan usaha keras, dengan tak malu untuk bertanya pada guru dan juga teman-temannya yang lebih tahu. Kadang seusai presentasi, saya minta mereka untuk menceritakan apa kesulitan yang dialami dalam mempelajari sebuah materi. Dari situ, bisa menjadi bahan instropeksi bagi saya, saat lain kali menemukan anak yang setipe dengan dirinya.

Kasusnya memang kelas yang saya ajar adalah kelas kecil, maksimal 15 orang dalam satu kelas. Jadi walau ada beberapa anak yang lamban, masih bisa lah mengajar dengan penuh kesabaran. Beda kali ya kalau kelasnya kelas besar. Tapi menurut saya, ya tetap aja nggak boleh diskrimansi gitu, hanya mau terima anak pintar. Apalagi masih jenjang TK!

Justru anak-anak yang lamban inilah yang harus diajari, dibimbing dan diarahkan pelan-pelan. Kalau anak pintar, kasih instruksi sekali, kasih bacaan, suruh browsing, mungkin sudah akan mengerti.

***

Seusai tanya ini itu, kenalan saya balik bertanya, jadi kapan saya akan ke  sekolahnya buat mendaftarkan anak-anak. Saya jawab, saya nggak mau kesana. Taman kanak-kanak itu untuk mengajarkan anak bersosialisasi, menanamkan karakter dan budi pekerti yang baik, bukan untuk membaca menulis dan berhitung. Saya ingin anak saya berkenalan, bergaul dengan anak-anak sebayanya dengan berbagai macam karakter, bukan hanya anak-anak “pintar” saja, yang akan duduk manis saat gurunya berdiri didepan kelas. Hahaha… kok saya jadi GR ya, belum tentu juga anak saya bakal lolos seleksi disana.

Iklan

29 thoughts on “Anak “Pintar” jadi Rebutan

  1. Kalau gurunya pilih-pilih, gimana nasib anak2 yang lamban itu kelak? Apa lagi masih TK, masih jauh banget untuk menilai kemampuan mereka. Semoga semua guru berprinsip seperti Mbak Nanik. Amin 🙂

  2. Sedih ngedengernya, dulu ketika saya masih SD saya salah satu murid yang lamban dalam belajar. Toh hingga kini kuliah S2 tetap saja saya memang seorang yang lamban belajar. bagaimana nasib pendidikan kami jika semua sekolah menolak murid seperti saya…?

    Semoga semakin banyak bu guru seperti anda mbak…

  3. membaca artikel ini saya jadi miris…kenapa ada sekolah..sekelas TK sudah mulai bersikap diskriminasi…membeda-bedakan anak yang mereka anggap pintar dengan anak yang lambat dalam menerima pelajaran,,,, setahu saya guru-guru tidak ada yang diajarkan untuk bersikap demikian, berhenti saja jadi guru bila tidak mau repot mengajar anak yang lamban menerima pelajaran,
    keep happy blogging always,,,salam dari Makassar 🙂

    1. terimakasih sudah mampir, salam juga dari Malang.
      Memang tidak diajarkan bagi guru untuk pilih-pilih siswa, kadang tuntutan sistem yang berlaku disekolah juga, mengejar “prestasi” ini itu sehingga merasa bakal lebih cepat mendapatkannya kalau anak-anak sudah pintar dari awalnya, guru bisa lebih santai dalam mengajar

  4. Anakku sekolah di SMP favorit tanpa nunggu UN, pake tes tersendiri (sekarang nggak boleh) supaya yg pinter2 di kota ini terjaring kesana dulu. Tapi kemudian aku nggak puas karena gurunya bilang sendiri, “Enak murid2nya pinter, ngajar jadi santai, anak2 bisa belajar sendiri.” Dalam pemikiranku seharusnya guru gak boleh santai, dia harus memaksimalkan bibit yg sudah bagus itu. Sama kayak universitas2 negeri yang terkenal. mentang2 mahasiswanya pinter2, cuma dikasih tugas disuruh nyari sendiri jawabannya. Sementara dosennya makan gaji buta karena tidak pernah masuk ngejar proyek. Sayang kalau anak pintar jadi rebutan untuk alasan yang salah ya mak 😦

    1. jadi ingat jaman kuliah, dosennya masuk dua kali aja, ujian nggak bisa ngerjakan, tapi kok ya bisa dapat nilai A. Dosennya takut kasih nilai jelek, karena pasti bakal di protes mahasiswa “lha wong nggak pernah masuk kelas kok, gimana mahasiswanya bisa ngerjakan ujian”

  5. Klo sekolah2 ‘berkualitas’ hanya mau menerima anak pinter…bagaimana nasib anak yg ‘lamban’? bukannya menjadikan setiap anak maju sesuai kemampuannya adalah tantangan buat guru / sekolah? yaah, semoga tak semua sekolah begitu…

    1. akan ditampung oleh sekolah-sekolah pinggiran, yang gurunya sabar membimbing, tapi sering dilanda rasa minder, dan sering berucap “ya harap dimaklumi, input siswa kami….”

  6. mba tulisannya napok bngt (?) sama realita sekarang..
    saya jd ingat waktu dulu ambil matkul PAUD.. dosen sy menceritakan kenyataan miris hampir sama kyk cerita mba cm bedanya d anak SD. Dulu pas zaman sy SD mash inget bngt belajar bareng2 membaca..
    Ini Budi
    Ini Ani
    tapi sekarang untuk masuk SD ada seleksi yg mengharuskan siswa sudah mampu membaca dan menulis dengan lancar. (di SD yang diceritakan oleh dosen saya)..

    1. padahal ada aturannya bahwa masuk SD tidak boleh ada tes calistung. tapi tak banyak orang tua yang tahu, ada yang tahu pun tak banyak yang berani komplain ke pihak sekolah

  7. Saya termasuk orang yang dulu di SD pinggiran, dapat teman bermacam macam dari kaya sampai miskin, dari yang cerdas sampai yang lamban, guru2nya memang termasuk sabar, kalo mengajar jarang mangkir, saat SMA masuk sekolah unggulan, saya ingat guru MTK nya ngajar asal asalan supaya kita bisa ngeles sama dia…

    1. repot ya kalau dapat guru yang suka ngambil kesempatan gitu, apalagi kalau ditambah ancaman “kalau ingin dapat nilai baik, ikut les privat di rumah saya” baik yang diucapkan secara langsung maupun yang disampaikan secara terselubung

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s