PengalamanKu

Anak vs Pasangan

Suatu kali, saya dan suami melihat tayangan tv. Acara kuis, pemandu acaranya laki-laki. Bintang tamu, sekaligus pesertanya, seorang artis perempuan. Saat sesi perkenalan, pemandu acara bertanya pada sang artis.

“Apa perbedaan yang paling terasa antara saat single dulu dengan sekarang setelah memiliki anak?”

Dan si artis pun menjawab

“Kalau dulu, abis acara show diluar kota, masih disempatkan jalan-jalan dulu. Menikmati makanan dan suasana disana. Balik ke Jakarta juga kadang nggak langsung ke rumah, bisa mampir sana sini dulu. Kalau sekarang, selesai acara show, pengennya cepat segera pulang dan ketemu sama anak”

“Pengen ketemunya sama anak, bukan sama suami”

“Sama suami juga pengen ketemu, tapi yang pertama sama anak dulu”

Lalu si presenter membandingkan dengan dirinya sendiri

“Kalau saya dari luar kota, yang pengen ditemui pertama istri”

Sampai disini, suami tiba-tiba berkomentar “Emang beda ya?” sambil mengalihkan pandangannya ke arah saya.

“Apanya yang beda?” saya masih nggak ngeh. Lalu terlintas, mungkin dia mengomentari si artis wanita secara fisik. Dan keluarlah jawaban dari mulut saya “Ya bedalah, dulu masih single dengan sekarang sudah punya anak”.

“Emang adik klo keluar kota, siapa yang sering diingat”

“Babang sama dedek lah”

“Bukan aku?”

“Sama abang ingat juga, tapi klo ingat abang kan tinggal telpon saja. Klo sama anak-anak kan lain, ditelpon juga belum tentu mereka mau ngomong. Makanya lebih sering kepikiran sama mereka dibanding memikirkan abang”

“Kalau aku beda lho”

“Emang kalau abang lagi keluar kota, siapa yang paling diingat?”

“Ya adiklah” jawabannya sukses bikin tersipu-sipu.

***

Jadi memang beda ya, lelaki dan perempuan. Naluri ibu ingin melindungi anak-anaknya. Naluri ayah ingin melindungi istri dan anak-anaknya.

Saya rasa-rasakan, memang saya jadi sering mengesampingkan suami setelah anak-anak makin besar dan bisa mengungkapkan keinginannya. Malam-malam saya sering tanya pada babang dan dedek, besok mereka mau makan apa. Maka keesokannya saya akan memasak sesuai permintaan anak-anak. Saya nggak pernah bertanya, suami besok pengen dimasakkin apa. Kadang, dia protes juga dihadapan anak-anak, “Kok papa nggak ditanya”

“Papa kan sudah dewasa” kompak anak-anak yang menjawab.

Kadang muncul rasa bersalah juga, kala pagi2 suami bilang mau ke pasar, pengen masak sesuatu. Otomatis terlontar kata maaf. Suami bilang, nggak usah terlalu dipikirkan. Kita ini kan harus saling melengkapi, kalau adik repot, ya aku bisa masak sendiri. Kalau sama-sama repot, ya tinggal beli aja ke warung. Jangan membesar-besarkan masalah yang bisa kita cari solusinya dengan mudah.

Jadi begitulah. Dan tulisan ini harus dihentikan sampai disini. Kalau diteruskan ntar malah jadi sarana curhat hehehe…

 

Iklan

18 thoughts on “Anak vs Pasangan

  1. Ih, baru kepikiran!
    Iya mbak, saya juga kalo ninggalin suami dan anak, yang kepkiran terus adalah anak *sekalipun sekarang dia udah dewasa…waktu dia kecil dulu, malah tambah kepikiran kayaknya 😀
    Selamat tahun baru, mbak Nanik…smoga tahun ini semuanya penuh berkah dan kebahagiaan 🙂

    1. iya bu, saling mengisi.
      Salamnya disampaikan ke anak-anak2. Kata mereka “Salatiga itu dimana?”
      wuih jadinya harus panjang lebar deh jelasinnya, secara di rumah nggak ada peta

  2. Baru tau kalo lelaki pergi pulang nya mau ketemu istri hahahaha #nafsu #plak.
    Tapi mmg bener yaaa, kalo urusan makanan pasti yg di tanya anaknya, kasihan para bapak. Yuk kita demo para istri hahaha

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s