PengalamanKu

Menu Makan yang Membuat Stress

Semalam, kami berkunjung ke rumah teman. Teman satu daerah dengan suami, yang kini sama-sama merantau ke Jawa. Rumah teman tersebut ada di Pasuruan, sementara kami tinggal di malang.

Ngobrol sana sini bercerita pengalaman masa lalu dan juga kondisi masa kini. Sampailah pada topik tentang anak-anak. Teman tersebut memiliki dua anak, yang pertama kelas XII SMA, yang kedua kelas 6 SD.

Si ibu bercerita kalau dia sering stress gara-gara menu makan. Karena selera anak pertama dan kedua berbeda. Anak pertama seleranya mirip ibunya. Anak kedua, seleranya mirip bapaknya. Apa iya mesti memasak dua jenis untuk waktu makan yang sama? Belum lagi anak-anaknya tak mau menu makan yang sama dalam satu hari. Pagi, siang, malam harus berbeda. Tambah stress lah teman saya itu. Masa tiap saat hanya berkutat di dapur terus, sementara dia juga seorang guru SD, yang tentunya punya banyak aktifitas juga di luar.

Sebagai ibu muda, yang anaknya masih kecil-kecil, saya tak bisa memberi solusi padanya. Jadi ya, saya dengarkan saja curhatnya.

***

Jadi teringat, bertahun-tahun yang lalu, saat saya masih kecil. Jaman itu belum ada magic jar, magic com dan sebangsanya. Ibu saya rajin sekali memasak. Habis subuh sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan. Jam 11 an sibuk lagi membuat menu makan siang. Habis ashar kembali lagi dapur, memasak lagi. Walau begitu, beliau tak pernah mengeluh. Masih tetap bisa juga menjalankan usahanya (membatik), masih bisa juga bersosialisasi dengan tetangga. Memang hebat ibu saya itu.

Setelah agak besar, saya mikir. Masa sih hidupnya perempuan itu sebagian besar harus dihabiskan di dapur? Apa nggak bisa masaknya sekali saja, pagi aja gitu buat seharian. Masak pagi hari, dipakai untuk sarapan, makan siang dan juga makan malam. Apa iya juga, makannya harus tiga kali? Kalau lagi nggak berselera makan gimana? Pegel juga kan, sudah capek masak, eh yang dimasakin nggak mau makan.

Hal ini pernah saya ungkapkan pada ibu. Jawabannya adalah “nggak pa pa, ibu senang kok mengerjakan ini. Senang kalau kalian makan lahap, meski lauknya tiap hari hanya tempe. Itu sudah jadi penghilang rasa lelah ibu”. Jadi inilah sebabnya ibu tak pernah mengeluh, karena beliau mengerjakannya dengan rasa senang.

Hingga suatu hari, bapak pulang membawa alat penanak nasi. Katanya sih ada sales yang ke sekolah tempat bapak mengajar, dan menawarkan berbagai peralatan rumah tangga. Sejak punya magic com itu, ibu tak lagi terlalu repot di dapur. Masaknya sekali aja di pagi hari. Siang atau sore kalau mau makan, tinggal menghangatkan saja. Teknologi memang sangat membantu.

***

Saya sendiri, sampai saat ini nggak terlalu pusing soal menu. Masak juga sekali aja di waktu pagi. Gulai ikan malah bisa sampai 2 atau tiga hari, tinggal dihangatkan saja pas mau makan. Anak-anak juga nggak terlalu rewel. Kata Babang, “aku mau makan sama ayam goreng, tapi kalau nggak ada juga nggak pa pa, makan yang lain aja”. Yang penting harus selalu ada nasi. Dan juga persediaan telur bebek di kulkas.Ā  Jadi kalau pas anak-anak nggak cocok dengan lauknya, tinggal bikinkan nasi goreng saja.

Atau, kalau bosan dengan menu yang itu-itu saja, kini kan banyak pilihan tempat makan. Jadi sesekali makan di luar tak apa lah. Duitnya gimana?? Terus makanan dirumah siapa yang makan?

Duitnya, itu urusan suami šŸ™‚

Makanan yang dirumah, karena saya tinggal di kampung dan memelihara ayam, ya tinggal di kasihkan ke ayam saja. Mereka bakal suka kok

Iklan

16 thoughts on “Menu Makan yang Membuat Stress

  1. Kalau disuruh milih anak-anak saya maunya juga saya masak tiap kali mau makan. Tapi alah maaak..gak kasihan apa emaknya juga banyak kerja yg harus diselesaikan. Jadi dari kecil saya kondisikan mereka makan apa yg tersedia di meja dan masaknya cukup satu kali sehari…Emang sih gak semua dimakan..tapi itu adalah kesalahan mereka, bukan saya si juru masak hehehe..,

    1. kalau ada ortu berkunjung, dan saya masak macam-macam biasanya mereka nggak suka mbak dan protes, melarang saya untuk masak. Jadi saya beli bahan mentah aja, ntar ibu sendiri yang masak macam-macam. Akhirnya saya biarkan saja, yang penting mereka senang dan betah di rumah.

  2. Suka sekali dengan gaya Babang, berani menyatakan ide menu namun tetap mengerti keadaan.
    Toss Jeng, kami juga masak satu menu siang hingga malem, pagi sekecandaknya. Bosen yah nitip masak dari warung hehe…

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s