SatriaKu

Ini Soal Duit

Siapa yang nggak suka duit? Duit yang halal tentunya. Makin banyak jumlahnya pasti makin suka. Tapi hal ini tidak (belum) berlaku buat babang dan dedek.

Jadi ceritanya, kemarin ada saudara dari Jombang yang berkunjung ke malang. Jombang-malang itu sekitar 4 sampai 5 jam perjalanan. Kebetulan sodara tadi ada keperluan di malang, jadi sekalian main dan numpang nginep di rumah saya.

Nah, pas mau pulang kan salam-salaman tuh. Saya sama suami bersalaman dengan dia di ruang tamu. Terus Sodara tadi ke ruang tengah, dimana anak-anak sedang bermain. Tiba-tiba terdengar teriakan babang. Buru-buru lah saya ke ruang tengah.

Sodara saya tadi bermaksud memberi uang pada babang dan dedek. Tapi babang nggak mau nerima pemberiannya. Sodara saya memaksa dengan menyisipkan uang itu dalam genggaman babang. Tambah berontak dan histeris lah babang. Saya peluk babang, saya coba tenangkan dia. Saya bilang, kalau di kasih sama sodara, sebaiknya diterima. Bukannya tenang, babang malah tambah kenceng nangisnya. Ya sudahlah, saya diam saja, saya peluk dan elus-elus aja biar babang tenang dulu. Akhirnya sodara tadi menyerah, lalu berpindah membujuk dedek untuk mau menerima pemberiannya. Dedek juga menolak, walau nggak pakai nangis. Geleng-geleng kepala, lalu pura-pura asyik main tablet. Saya suruh dedek untuk menerima, tapi dedek juga nggak mau. Ya sudah, sodara tadi nggak jadi kasih salam tempel buat anak-anak

*Kenapa nolak sih nak. Tuh si om kan mau kasih duit, 100 ribu lho buat masing-masing anak. Kan lumayan tuh, 200 ribu bisa buat belanja mama 2 minggu.

***

Saya ingat, jaman kecil dulu, kalau ada saudara jauh berkunjung ke rumah, pasti berharap pas mau pulang nanti, dia akan kasih salam tempel buat saya. Lumayan kan dapat seratus perak, bisa buat jajan. Jaman kecil saya, uang seratus itu sudah bisa buat beli berbagai macam jajanan anak-anak. Dan saya akan merasa sangat kecewa, saat dia pulang tanpa memberi salam tempel. Maka dalam benak saya tertanam, kalau saudara saya si A itu baik (karena sering kasih uang) dan si B itu tidak baik (karena nggak mau kasih uang buat anak-anak kalau bertamu)

Kalau pas lebaran apalagi, banyak saudara dan tetangga yang mudik, maka lebaran adalah saatnya panen duit buat anak-anak. Biasanya saya dapat banyak. Sebagian besar saya kasihkan ke ibu, sebagian saya masukkan celengan dan sebagian kecil buat jajan. Saat lebaran ini juga saya bisa menilai, tetangga/saudara mana yang baik dan tidak baik berdasarkan pemberian uangnya pada saya.

Setelah dewasa, pergi merantau dan bekerja, giliran saya dong yang kalau pas mudik lebaran harus bagi-bagi rejeki buat anak-anak tetangga dan sodara. Orang tua saya selalu mengingatkan, kalau ada saudara yang bawa anak kecil ke rumah, saya disuruh ngasih salam tempel. Tapi saya bandel. Biasanya uang kecil saya kasihkan pada ibu, biar ibu saja yang kasih salam tempel buat anak-anak.

Bukan apa-apa sih. Karena dari pengalaman, ada beberapa orang tua yang memang memanfaatkan anak-anaknya buat ngumpulin duit saat lebaran. Jadi kalau malam, ibu-ibu tetangga itu berkumpul, saling berlomba menceritakan pendapatan anaknya hari ini. Bahkan, teman saya satu kantor, ada yang pernah bercerita dengan bangganya, bahwa ongkos mudik lebaran keluarganya bisa tertutupi oleh pendapatan anaknya dari salam tempel. *Asli, saya cuma bisa tepok jidat saat mendengar ceritanya itu.

***

Balik lagi ke kasus babang tadi. Setelah saudara saya pulang dan babang tenang dan kembali ceria, sambil menemaninya bermain, saya coba mengungkit masalah tadi.

Mama (M) : Bang, kok tadi nggak mau sih dikasih duit sama Om.

Babang (B) : Kalau babang nggak mau itu yo nggak mau, Ma.

M : iya, kenapa nggak mau. Kan duitnya bisa dimasukkan celengan. Celengannya tambah banyak, nanti di pecah bisa buat beli mobil-mobilan

B : dimasukkan celengan itu kan bukan duit yang kayak gitu, Ma. (Maksudnya, yang dimasukkan celengan itu uang receh, bukan uang kertas)

M : ya… kalau gitu bisa buat beli jajan, bisa dapat coklat, dapat chitato banyak.

B : Mama ini gimana sih, kalau babang nggak mau itu ya nggak mau, jangan ditanya-tanya terus

M : (Masih belum mau menyerah) Memang, Bang. kalau dari orang asing, babang nggak boleh terima. Tapi kalau dari sodara itu boleh. Kalau orangnya ngobrol sama mama, sama papa itu berarti sodara. Berarti babang boleh terima kalau dia kasih duit.

B : Hhhhhh mama ini (sambil menghela napas. Gaya betul anakku satu ini). Mama, kalau mama mau dapat duit, ya mama itu harus kerja. (Mulai deh dia membalikkan ucapan saya dulu. Senjata makan tuan! )

Jadi, sedari kecil, kalau anak-anak pengen jajan sesuatu, biasanya memang saya kasih syarat. Bantu ngepel dulu, bantu buang sampah, bantu nyapu, bantu jemur baju, bantu angkat jemuran. Saya bilang ke mereka, beli sesuatu itu pakai duit. Duit itu di dapat kalau bekerja.

Karena itulah, mereka nggak pernah mau terima uang dari siapapun, selain dari saya dan suami. Bahkan dari kakek nenek, pakde budhe nya pun, mereka nggak mau terima.

Dan kasus kemarin itu memang bukan yang pertama. Jika ada orang dewasa yang memaksa untuk memasukkan uang dalam genggaman tangannya, maka babang akan menangis keras-keras sebagai tanda penolakan. Bapak ibu dan kakak-kakak saya dulu sempat heran dan bingung, kenapa babang dikasih duit kok menolak dan saat dipaksa menerima malah jadi nangis. Biasanya kan anak-anak tuh senang sekali kalau dikasih duit.

Mereka menyalahkan saya, karena menurut mereka, saya lah yang melarang babang untuk menerima pemberian mereka. Maka mereka mencoba ngasih duit saat saya tak bersama anak-anak, hasilnya tetap sama saja, babang menolak. Malah jadi histeris karena mereka terus memaksa untuk ngasih. Akhirnya mereka menyerah, dan nggak pernah lagi mencoba ngasih duit kalau pas kami mudik, atau pas mereka berkunjung ke rumah.

***

Secara etika, memang nggak baik ya menerima pemberian orang. Apalagi pakai nangis gitu nolaknya. Apalagi kalau pemberiannya memang tulus. Bukan karena sungkan atau ada alasan dibalik pemberian itu.

Jadi sekarang saya harus menanamkan hal baru untuk babang. “Kalau babang mau, ya terima saja, jangan lupa bilang makasih. Kalau nggak mau, ya bilang aja babang nggak mau, nggak usah pakai nangis nolaknya” Mudah-mudahan nggak perlu waktu lama untuk mengajarkan ini pada anak-anak.

Iklan

15 thoughts on “Ini Soal Duit

  1. Waduh, babang keren sekali siiiih!
    Sini buat tante ajaaa, duit serats ribu nyaaa…hehehe…

    Iya mbak mungkin harus diberikan pengertian secara perlahan untuk menerima pemberian yang memang tulus 🙂

  2. Menanamkan nilai dengan cara diakhir tadi elok Jeng. Bilau mau menerima ya diterima sekalian terima kasih. Bila tidak mau ya nggap apa dan bilang trima kasih. Pada saatnya Babang dan Dedek mengekspresikan keinginnya sendiri. Terima kasih sharingnya. Salam

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s