PengalamanKu

Bersaksi di Depan Polisi

IMG04228-20150304-0918Nggak mau kalah dengan Syahrini yang dipanggil polisi, saya juga tadi pagi memenuhi panggilan pihak kepolisian, tepatnya dari  polsek BumiAji kota Batu.

Saya dan suami dipanggil, dalam kapasitas sebagai saksi (sebenarnya kami ini korban). Kami diberikan beberapa pertanyaan, terus pak polisinya sibuk mengetik. Selesai mengetik, hasilnya dicetak. Lalu saya disuruh membaca sekali lagi, apakah ada yang salah atau mungkin saya merasa keberatan. Dalam BAP yang saya baca, ada 19 pertanyaan. Antara lain, apakah saya dalam kondisi sehat, apakah saya bersedia menjawab dengan jujur, apakah saya menjawab dalam kondisi tidak ditekan oleh pihak manapun, dan beberapa pertanyaan seputar kasus yang melibatkan saya dan suami.

Kami terlibat kasus? Kasus apakah itu?

Kasus yang sebenarnya, kami sendiri pun menganggapnya sudah berlalu, sudah berusaha melupakan.

Ceritanya, awal Agustus 2014, saya dan suami pergi ke Mojokerto. Baliknya, kami menempuh jalur alternatif lewat kota Batu. Karena jalurnya lebih sepi dan pemandangannya juga bagus. Tiba-tiba, kok saya pengen beli apel. Maka, mampirlah kami di salah satu pedagang buah di pinggir jalan. Saya turun, sementara suami tetap di mobil. Tawar-menawar, akhirnya sepakat. Apel sudah terbeli, lha kok saya tergoda untuk mencicipi jeruk sunkist. Saya cicipi, rasanya memang manis. Terus saya bilang ke suami, rasanya manis. Suami pun lalu turun dan ikut mencicipi. Pintu tak dikunci. Lalu kami belilah jeruknya 2 kilo.

Usai transaksi, kami masuk mobil dan melanjutkan perjalanan. Saat kami masuk mobil, ada seorang wanita dipinggir jalan tak jauh dari situ, yang terus memperhatikan suami saya. Suami saya dah ke Ge eR an diperhatikan wanita cantik itu. Sementara saya cuek aja, kenal juga nggak.

Kami berhenti lagi setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit. Karena tertarik dengan penjual jaket kulit di pinggir jalan. Suami turun, sementara saya tetap dalam mobil. Bermainlah dengan gadget. Lama betul dia memilih-milih jaket. Saya berniat memanggilnya, menyuruh supaya lebih cepat menentukan pilihan. Saat itulah saya baru menyadari ada sesuatu yang aneh. Suami saya nggak bawa tas (biasanya kalau bepergian, suami bawa tas selempang), saya cari-cari dalam mobil juga nggak ada. Langsung paniklah. Saya teriaki suami, saya tanya mana tasnya, dia juga bingung. Akhirnya kami nggak jadi beli jaket, langsung balik arah, kembali ke si pedagang buah.

Dalam perjalanan, kami membahas berbagai kemungkinan. Mungkin tasnya jatuh, dan semoga di temukan dan disimpan oleh ibu pedagang buah.

Sampai di lokasi pedagang buah, si ibu bercerita kalau saat kami lagi asyik mencicipi buah jeruk, ada seorang lelaki yang membuka pintu mobil dan mengambil tas suami saya. Saksinya adalah wanita yang berdiri di pinggir jalan tadi, yang terus lihatin suami saya. Kata si ibu pedagang, si wanita itu pengen kasih tahu suami saya, tapi nggak bisa ngomong apalagi teriak karena melihat kejahatan di depan matanya. Dia dah gemetaran duluan.

Jadi begitulah, tas suami saya hilang. Ada STNK motor dan mobil, SIM, kartu ATM, BB, sejumlah uang dan barang-barang lain. Langsung lemes deh.  Lalu kami melapor ke polsek Bumiaji. Setelah itu kami ke bank, minta supaya kartu ATM di blokir.

Sedih. Marah. Kecewa. Menyesal. Campur aduk jadi satu.

Sekitar tiga minggu setelah kejadian, BB suami yang hilang itu aktif. Langsung deh suami minta tolong ponakan buat berkenalan dan menyelidiki si pemakai BB itu. Kenapa bukan saya yang disuruh? Karena pas BB itu aktif, saya langsung  jujur bilang kalau itu adalah BB suami saya, dan saya bertanya darimana si pemakai itu memperoleh BB tersebut. Otomatis langsung di delcon deh saya nya. Hihi… gak bakat menyelidik.

Singkat kata, ketahuanlah bahwa si pemegang BB itu adalah siswa SMK di wilayah malang. Kami lalu lapor lagi ke polsek Bumiaji. Terus polisinya meyelidiki ke sekolah. Ternyata siswa itu membeli dari orang lain. Polisi menelusuri lagi, tapi tak menemukan hasil. BB nya dah sempat “parkir” di konter hp, jadi susah melacaknya.

Jadi, case close.

Sampai semalam, pak polisi ke rumah. Dia bilang kalau orang yang mengambil tas suami saya sudah tertangkap. Pak polisi itu meminta kami untuk datang ke kantor, untuk dimintai keterangan.

Jadilah, tadi pagi kami ke sana. Menceritakan lagi kronologis kejadian yang kami alami, menyebutkan barang apa saja yang ada dalam tas suami saya. Kami juga ditunjukkan beberapa barang yang berhasil disita dari si pelaku. Dari beberapa barang itu, ada dua yang merupakan milik suami saya, sebuah tasbih dan sebuah cincin giok. Selebihnya, menurut keterangan pelaku, tas dan dompet sudah dibuang setelah diambil uangnya.

Kami juga sempat dipertemukan dengan pelaku. Pelaku itu meminta maaf pada kami. Saya hanya menghela napas, tidak mengiyakan, tapi juga tidak menggeleng. Sementara pak polisi dan suami malah tersenyum. Senyum getir, Enak aja minta maaf, mungkin itu yang ada di benak mereka.

Menuruk keterangan pak polisi, si pelaku ini memang spesialis mengambil tas yang ditinggal dalam mobil. Komplotannya ada tiga orang. Yang dua sekarang masih dalam pencarian. Si pelaku ini sudah pernah tertangkap juga, tapi untuk kasus narkoba. kalau untuk pencurian, baru kali ini tertangkap.

Semoga saja, dua kawan si pelaku juga segera tertangkap.

Sekitar satu atau dua bulan lagi, kami harus bersaksi lagi, yaitu saat si pelaku disidang.

Iklan

16 thoughts on “Bersaksi di Depan Polisi

    1. BB nya boleh diambil karena ketemu duluan sebelum pelaku tertangkap. Barang yang lain, boleh diambil setelah sidang selesai, karena digunakan sebagai barang bukti dalam persidangan

  1. Rasanya pasti deg-degan campur males ya, mbak…kehilangan sesuatu itu biasanya bikin saya malas mengingat kejadian yang telah lalu. Pasti jadi menyesal, sedih, marah, kecewa…ah, macem-macem lah pokoknya!
    Tapi syukurlah ada tiga item barang yang berhasil kembali. Biarpun kalau disuruh memilih, pasti dompet yang isinya surat-surat itu yang dirasa penting buat dikembalikan.
    Mbaaak, saya juga beberapa minggu lalu ketinggalan handphone di taksi.
    Pengen nangis rasanya. Bete pula rasanya.
    Tapi setelah telpon ke call center, dan dilacak, Alhamdulillah dikembalikan sopirnya. Itu juga sempet bikin saya nyesek banget, inget data dan foto yang ada disana. Belum lagi berbagai catatan penting.
    Smoga lain kali kita lebih waspada ya, mbak…smoga juga bersaksi kedua kali itu juga berjalan lancar…
    Amiiin.

    1. iya… sampai dua hari setelah kejadian, suami nggak doyan makan, lebih banyak termenung aja. Terus dia main-main lah ke terminal. Disana pas ada pencopet ketangkap dan dikeroyok massa. Lalu suami mendekat, bilang ke orang-orang supaya jangan dipukul, karena pencopet itu saudaranya. Setelah orang-orang berhenti memukul, suami menghampiri copet itu, langsung kasih satu pukulan dan satu tendangan. Jadi ceritanya mau memonopoli memukul pencopet.

      Setelah itu baru deh pelan-pelan mulai mengikhlaskan barang yang hilang

  2. Bisa ngebayangin rasanya saat pembuatan BAP, pernah mengalami hal senada. Semoga penyelesaian perkara lancar ya Jeng Naniek, meski kartu2 berharga bisa diurus ulang dan ATM diblokir.
    Salam hangat

    1. ATM dan STNK mobil sudah diurus lagi. STNK motor sampai sekarang belum di urus. Motornya cuma dipakai di kampung, jadi masih merasa belum butuh pakai STNK 🙂

  3. Semoga urusannya cepet selesai ya Mbak. Kebayang deh kalo mengalami kejadin seperti ini. Kalo masalah uang dan barang ya mungkin bisa dicari. Surat-suratnya ituloh ya Mbak ya…

  4. apapun urusannya, rasanya kalau harus bertemu Pak Polisi kok gimana gitu ya, kadung image serem kali ya. Hehehe…
    Semoga kasus ini berakhir dengan adil dan untuk yang terlanjur hilang, semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik lagi.

  5. haduuuh.., jadi pelajaran supaya kita lebih hati2 ya
    tapi musti hadir di sidang itu yg bikin males
    aku pernah ngalamin hilang dompet di puskes, udah sempat lapor bikin surat kehilangan, eh bbrp hari kemudian ada yg temuin.., yg hilang uangnya aja
    tapi uang yg di selip2an dompet masih ada lho

  6. ya ampuun. jadi korban ya Mbak.. Teman saya juga pernah kena masalah serupa. Dia nyetir sendirian, terus dikasih kode sama orang kalau bannya kempes. Pas ia meriksa bannya,pintu mobil di sisi satunya dibuka dan tasnya diambil..Modusnya serupa..
    Semoga kita tidak mengalami kejadian seperti lagi ya Mbak..

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s