NaylaKu

Merindu Bayi

Anak-anak sudah besar, walau masih 5 dan 4 tahun, dan saya sudah merindukan lagi masa-masa memiliki bayi. Suka gemes kalau lihat tayangan iklan yang ada bayinya. Suka tiba-tiba pengen nggendong klo pas ke pasar ketemu ibu-ibu lagi menggendong bayinya.

Lalu saya diskusikanlah keinginan punya bayi lagi pada suami. Suami pun siap, dengan pertimbangan anak-anak sudah mandiri, ketergantungan pada kami tidak begitu besar lagi.

Saya siap. Suami siap. Bagaimana dengan anak-anak?

Mulailah melakukan pendekatan pada anak-anak. Tiap lihat tayangan iklan yang ada bayinya, saya bilang ke anak-anak, bahwa bayi itu lucu sekali, menggemaskan dan mama jadi pengen punya bayi.

Reaksi babang awalnya datar aja, dengan tampang polosnya dia bertanya “mama mau punya adik bayi?”

Reaksi dedek sebaliknya. Langsung cemberut kalau saya menyinggung-nyinggung soal bayi. Lalu mendekat, merajuk minta di peluk atau sekedar di elus-elus. Dedek nggak mau punya adik bayi. Dia nggak rela kalau nanti mamanya akan lebih banyak memperhatikan adik bayi.

Kalau malam, saat dia minta ditemani tidur, kadang saya masih suka menggodanya.

Mama (M) : dedek itu kan udah 4 tahun, harus jadi pemberani dong, harus berani tidur sendiri

Dedek (D) : aku itu nggak mau tidur sendiri. nggak mau tidur sama babang. aku itu maunya tidur di peluk mama.

M : Lho nanti kalau ada adik bayi gimana dong? Kan mama harus peluk adik bayi. Jadi dedek harus tidur sendiri.

D : Mama harus tetap peluk aku

M : Terus adik bayinya gimana? Kasian dong

D : (berpikir sejenak) Memangnya kapan mama punya adik bayi?

M : (Nggak siap juga dengan pertanyaan ini) ya… suatu saat nanti, mama belum tau kapan

D : ya kapan-kapan adik bayinya bobok sama papa aja. Mama tetep bobok sama dedek.

Begini ya kalau anak sudah bisa diajak bicara. Sudah bisa menentukan pilihan, bisa memilih ya atau tidak.

Sampai sekarang, saya dan suami tetap rajin mengajak dedek ngobrol soal kemungkinan punya adik bayi. Dan sampai sekarang juga dedek tetap menolak. Dan berhubung dedek masih menolak, kami juga belum memulai program untuk punya bayi lagi.

Kenapa nggak dipaksa aja? Dia kan masih kecil, ntar lama-lama juga dia pasti mau punya adik.

Hmmm… bisa aja sih kami memaksa, dengan menggunakan otoritas sebagai orang tua. Tapi berkaca dari beberapa teman dan tetangga, sepertinya tidak bagus kalau tetap memaksa.

Ada tetangga, punya anak umur 3 tahun, laki-laki, lalu dia hamil lagi. Sejak awal kehamilan, anak pertamanya sudah menolak punya adik. Si anak pertama ini, selama ini selalu di beri kasih sayang berlimpah, karena dia baru lahir ke dunia setelah usia pernikahan kedua orang tuanya menginjak 9 tahun. Karena itu, mungkin dia sudah merasa kalau kasih sayang orang tuanya pasti berkurang kalau punya adik.

Singkat cerita, lahirnya bayinya, laki-laki. Pasti dong perhatian seisi rumah sekarag jadi ke si bayi. Si kakak selalu saja berusaha “mencelakai” adiknya yang masih bayi. Di cubit, di cakar, di pukul. Harus selalu ada orang dewasa yang mendampingi si bayi kalau pas kakaknya ada di rumah. Sampai puncaknya, suatu hari saat orang-orang dewasa di rumah itu sedang “lengah” si kakak menaruh bantal diatas muka si bayi saat dia sedang tidur. Beruntung segera ada orang yang menemui kejadian ini.

Si kakak kena marah dong. Tapi dia bukannya diam saat dimarahi, malah berbalik marah juga. Bilang kalau dia kan sudah bilang kalau nggak mau punya adik.

Akhirnya, si bayi diungsikan. Sampai sekarang dia sudah berumur 2 tahun, tetap tinggal bersama dengan neneknya di luar kota. Jika sesekali berkunjung, si kakak akan tetap menjahili adiknya. Jika ada tetangga yang menyapa “Wah seneng ya, adiknya datang” maka dia akan protes “Itu bukan adikku, aku nggak punya adik”

Ada juga teman kantor dengan kasus serupa. Anak pertama sudah berumur 11 tahun dan kini dia hamil anak kedua, usia kehamilannya kini memasuki bulan ke enam. Anak pertama masih tetap bilang kalau nggak mau punya adik. Masih ada waktu sebelum adiknya lahir, semoga teman saya itu bisa menyiapkan anak pertamanya untuk menjadi seorang kakak.

Nah, berkaca dari dua kasus diatas, saya dan suami nggak mau terburu-buru memutuskan untuk punya bayi lagi. Sekarang fokus menyiapkan dedek untuk siap tidak dipanggil dedek lagi, menyiapkan dedek untuk siap dipanggil mbak

Iklan

13 thoughts on “Merindu Bayi

  1. Wah bahaya juga ya Mbak kalo sampe berusaha mencelakai gitu. Anak saya yang awalnya bilang gak mau ounya adek sekarang sering banget nanyain di oerut bunda ada adeknya ya? Hihihi. Semoga si adek cepet mau punya adek lagi ya Mbak. 🙂

  2. wah, nggak nyangka ya ada anak yang nolak adek sampai segitunya..
    kl anakku dulu dibecandain aja ditanya seperti itu, jawabnya mau punya kakak aja nggak mau punya adek

  3. Haduh….parah amat sampe pengen ngelukain adiknya gitu ya mbak. Dan itu kok masih balita tapi udah tau ya krn gak pengen adeknya ada jadi ditutupin pake bantal? Serem amat…masih kecil sekali tapi udah tau kayak gitu 😦

    Semoga anak2 segera siap jika nanti si adek beneran dikasih Tuhan ya mbak 🙂

  4. Memang harus dipersiapkan mental kaka2nya terlebih dahulu yah mbak…

    Waktu bayi lahir pun, sebaiknya kakak dilibatkan juga…
    Dulu waktu Fathir lahir, Kayla aku kasih tugas untuk menangani semua kado yang masuk, dengan perjanjian kalo isi kadonya handuk, berarti itu jatah Kayla…hehehe..

    Dan waktu itu Kayla kesenengan dan semangat dikasih tugas itu 🙂

  5. Mempersiapkan Dedek jadi kakak melalui perbincangan dan contoh ya Jeng,
    Kadang ortu sejenak lupa kasih sayang tumplek blek ke adik yang memancing kecemburuan kakak.
    Semoga kerinduan seturut rancanganNya

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s