PengalamanKu

Yuk, Sukseskan Gerakan Nasional Non Tunai

IMG04245-20150328-1020

Sabtu kemarin, 28 Maret, saya dan suami pacaran berdua ke Surabaya. Anak-anak di tinggal di rumah, berdua saja.

Anak-anak berdua saja? Kok tega sih?

Iya, anak-anak kami tinggal berdua saja di rumah. Kami berangkat jam 6 pagi, sampai rumah sekitar maghrib, kira-kira jam 6 petang. Alhamdulillah mereka baik-baik saja. Tentunya nggak sembarangan di tinggal, kami nitip pesan pada tetangga sebelah rumah, minta tolong sesekali nengok ke rumah, memastikan anak-anak dalam kondisi baik.

Jadi, kami ke Surabaya itu dalam rangka menghadiri acara yang diselenggarakan oleh blog keroyokan punyanya salah satu media besar di Indonesia, yang bekerja sama dengan Bank Indonesia. Acaranya adalah sosialisasi gerakan non tunai. Ada dua pembicara dalam acara ini, satu dari pihak BI dan satu lagi dari ASPI (Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia).

Ada pemaparan tentang keuntungan dari menggunakan transaksi non tunai dibandingkan dengan transaksi tunai, antara lain praktis, aman, transaksi tercatat. Bentuk transaksi non tunai sendiri bisa bermacam-macam. Mulai dari paper based (misal cek), card based (misal kartu kredit) dan electronic based (misal BRIZZI, T-cash). Bahkan, dimungkinkan untuk menanam chip dalam tubuh manusia. Jadi kalau mau melakukan pembayaran, tinggal di pindai saja tubuhnya. Nggak perlu repot buka-buka dompet lagi, nggak usah pakai gesek, nggak usah pakai mendekatkan kartu ke reader.

Pembicara juga menunjukkan beberapa contoh bentuk kartu uang elektronik, menunjukkan bagaimana mekanisme kerjanya. Jadi media kartu uang elektronik ini ada dua, yaitu chip based dan server based. Kalau chip based mampu menyimpan dana sampai satu juta, sementara kalau server based mampu menyimpan dana sampai 5 juta. Yang direkomendasikan untuk dimiliki masyarakat umum adalah yang chip based. Kenapa cuma satu juta? Berdasarkan penelitian, belanja konsumsi rumah tangga di indonesia itu rata-rata 500 ribu dalam sekali transaksi. Juga untuk mengantisipasi kalau kartunya hilang, karena penemunya bisa langsung menggunakan kartu tersebut.

Kartu uang elektronik bisa dimiliki oleh siapa saja. Untuk memperolehnya pun cukup mudah, tinggal datang ke bank atau ke merchant. Nggak banyak persyaratan, nggak perlu melampirkan slip gaji. Dana yang tersimpan dalam kartu uang elektronik ini tidak bakal kena pajak, dan juga nggak berbunga. Jadi sebenarnya sama saja dengan lembaran uang yang biasa kita pegang, cuma yang ini bentuknya kartu.

Oleh karena itu, kartu uang elektronik ini bisa dipindah tangankan secara mudah. Bisa dikasih ke sopir, buat beli bensin. Bisa dikasih ke ART untuk beli belanja ke pasar (ini masih dalam mimpi hehe…. yang udah nyata bisa dibawa belanja ke Indo**** atau Alfa****). Habis buat belanja, kartunya bisa kita minta lagi.

Kalau dana yang ada dalam kartu habis, maka kita bisa melakukan top up (pengisian ulang), bisa lewat ATM, datang ke bank atau ke merchant. Dimasa datang, kayaknya bakal jadi peluang bisnis nih. Membuka gerai isi ulang uang elektronik. Yah, semacam gerai isi ulang pulsa Hp yang menjamur dimana-mana.

Dalam acara ini juga ada lomba live tweet, alhamdulillah saya termasuk salah satu pemenangnya. Pemenangnya lima orang, dan cewek semua.

IMG04257-20150328-1420

Hadiahnya? Dapat kartu uang elektronik. Sudah ada isinya 100 ribu. Alhamdulillah…. Jadi bisa langsung buat bertransaksi non tunai nih

KCC

Semua peserta yang datang ke acara ini juga dapat t-shirt. Lumayan bagus lho. Kalau dipakai, bisa buat promosi gerakan non tunai

IMG04246-20150328-1025

Gerakan non tunai ini sendiri, mulai digencarkan sosialisasinya oleh BI mulai agustus 2014 kemarin. Chipnya bukan cuma ditanam dalam kartu aja. Infonya, bank mandiri sudah mengeluarkan produknya dalam bentuk gelang.

Selama ini, saya jarang sih menggunakan transaksi non tunai. Paling kalau ke supermarket aja, kalau belanjaannya banyak, saya pakai ATM Debet. Setelah punya kartu uang elektronik, kayaknya saya bakal mulai sering nih menggunakan transaksi non tunai. Biar nggak repot lagi cari uang receh, biar nggak dapat kembalian permen lagi, biar transaksinya lebih cepat, dan yang penting juga nih, transaksinya tercatat.

 

Iklan

19 thoughts on “Yuk, Sukseskan Gerakan Nasional Non Tunai

  1. Aku juga termasuk yang suka males bawa2 uang cash mbaak…
    *padahal mah emang sering nya gak punya sih bhuahahaha…*

    Sepertinya akan lebih praktis kalo pake sistem seperti ini yaah…

  2. Keren acaranya mbak Nanik, ada hadiahnya pula…selamat, selamat…gerakan non tunai memang harus kita galakkan…
    Ngomong-ngomong, anak-anak dimasakin apa waktu ditinggal ke Surabaya itu, mbak?
    *mulai penasaran…hehe
    😀

    1. Nggak masak hehehe…
      pagi-pagi sebelum kami berangkat, babang minta dibuatkan nasi goreng. Terus di meja disiapkan roti tawar+susu kental manis (mereka biasa makan roti tawar dioles susu).
      Sorenya pas pulang, mampir beli mie ayam. Sampai rumah, ternyata anak-anak tidur semua 🙂 Dibangunkan disuruh makan nggak mau. Ya udah, orang tuanya aja yang makan mie hehehe…..

  3. wah mbak ikutan yang acara ini juga. Sempet lihat di beberapa blog lain.
    Saya suka pakai non tunai. Dah pernah nulis soal ini juga. Cuma memang lebih ke TransJakarta sih karena waktu itu br naik TJ. Hahaha

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s