PengalamanKu · WisataKu

Belajar dari Lelaki Buta Penjual Kerupuk

Dalam perjalanan dari Parung, Bogor menuju Bandara Soekarno Hatta kemarin saya menemukan sebuah pelajaran. Pelajaran yang membuat saya merasa malu pada diri sendiri.

Mobil yang saya tumpangi melaju pelan di daerah Ciputat, sepertinya area pasar jika menilik banyak pedagang di pinggir jalan. Saat itulah mata saya menangkap sosok lelaki yang sedang berjalan pelan menggunakan tongkat, di punggungnya tersampir seplastik besar kerupuk. Melihat saya mengamati lelaki itu, pak sopir di sebelah saya bilang bahwa lelaki itu buta.

Yah, lelaki buta itu berjualan kerupuk.

Teman seperjalanan saya lalu menanyakan bagaimana bisa bertransaksi dengan pembelinya? Bagaimana kalau ditipu? Bagaimana jika bukan uang yang diberikan melainkan hanya selembar kertas?

Yah, kembali lagi pada nurani si pembeli. Begitulah pak sopir menjawab.

Lalu mulailah kami terlibat obrolan, dengan topik utama lelaki buta itu.

Salut untuk lelaki itu. Walau memiliki kekurangan fisik, tak mau mengharap belas kasih orang. Sepanjang hari berjalan, menjajakan kerupuk. Pasti letih. Pasti pernah tersesat. Pasti pernah juga ditipu orang-orang jahil. pasti pernah jualannya nggak laku. Namun dia tetap saja berjalan, tetap saja yakin bahwa ada rejeki untuknya yang diberikan Tuhan lewat jalan berjualan kerupuk.

Jadi malu saya. Kerja duduk manis diruangan. Tak kena panas, tak kena tampias air hujan. Itupun kalau pulang kerja kadang masih mengeluh kecapekan. Kadang tak semangat lagi membereskan rumah atau menemani anak-anak bermain.Lihatlah lelaki itu. Sepanjang hari berjalan. Kepanasan, kena debu, kena asap kendaraan. Pastinya juga sering kehujanan. Pulangnya pun tak pasti jam berapa.

Saya ini, gaji setiap bulan pasti, kadang juga ada rejeki lebih diluar gaji, masih sering juga merasa kurang. Lihatlah lelaki itu. Pendapatan setiap hari tak pasti. Kadang laku semua, kadang masih ada sisa. Cukupkah untuk makan hari itu? Masihkah ada sisa untuk ditabung? Bagaimana jika ada keperluan mendadak?

Teringat pada para pengamen di bus kota. Yang kadang mengatakan “Daripada saya merampok, dari pada saya mencopet, lebih baik saya mengamen…..” Ah, sepertinya para pengamen itu harus melihat dan bertemu dengan lelaki buta penjual kerupuk yang kemarin saya lihat. Biar mereka sadar, biar mereka tetap bersemangat mencari rejeki. Bukannya malah merutuki diri, menyalahkan keadaan dan menganggap bahwa mengamen adalah satu-satunya jalan mencari uang.

Jadi lain kali, kalau ketemu pengamen yang bilang kayak gitu, sepertinya saya harus bilang “kenapa nggak jualan kerupuk aja, Mas”

Iklan

21 thoughts on “Belajar dari Lelaki Buta Penjual Kerupuk

  1. beberapa waktu yang lalu, saya juga melihat seorang bapak yang sepertinya juga buta (saya naik motor saat itu). beliau bawa tongkat dan di punggungnya ada kantong atau karung. saya nggak tahu isinya apa. mungkin barang dagangannya

    semoga Allah melimpahkan rezeki untuk bapak itu

  2. Subhanallah, satu-satunya cacat fisik yang pasti membuat saya selalu meneteskan air mata adalah tuna netra. Entahlah, mereka begitu spesial dimata saya sehingga apapun pekerjaan yang mereka lakukan menurut saya adalah sebuah perjuangan yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang normal.

    Semoga Allah melapangkan rezeki bagi si bapak penjual kerupuk itu…

  3. Sekitar dua minggu lalu saya liat penjual kerupuk buta itu di depan Toko Fortune di Jl.Kahfi I dan kmrn sore di dekat Matoa. Kalo penjual yg sama berarti jauh sekali yah beliau berjalan.
    Pernah beli kerupuknya juga. Salut sama, ketika saya mau melebihkan bayarannya dia tidak mau.

    *salam kenal

    1. mungkin mereka menganggap bayaran lebih itu sebagai belas kasihan, makanya mereka menolak, karena mereka nggak mau dikasihani karena kekurangan fisiknya itu.
      Salam kenal kembali, terimakasih sudah mampir

  4. Saya suka sedih Mbak kalau lihat yang spt itu. Bahkan tak perlu cacat. Kalau bapak atau ibu tua juga rasanya gimana gitu. Dibandingkan dg yang mbak bilang. Pengamen. Hiks.

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s