PengalamanKu

Ngasak, Mengorek yang Tersisa

Jaman saya kecil dulu, paling senang kalau musim panen tiba. Panen, artinya kami, anak-anak kecil, akan memperoleh keasyikan yang dapat menghasilkan uang. Aktivitas yang kami tunggu-tunggu kala musim panen adalah ngasak.

Ngasak adalah mencari sisa-sisa hasil panen yang tertinggal, yang terlewatkan tidak dipetik oleh para petani. Saat musim panen padi, kala untaian butir padi sudah selesai di panen, kala orang-orang dewasa telah pulang, maka giliran anak-anak kecil terjun ke sawah. Berbekal ani-ani (alat untuk memetik padi) dan tenggok (bakul dari anyaman bambu), kami mulai mencari untaian padi yang terlewat dipetik orang-orang dewasa.

Gambar diambil dari http://oiblenyon.blogspot.co.id/2014/04/menengok-perkembangan-peradapan-alat.html
Ani-ani, Gambar diambil dari http://oiblenyon.blogspot.co.id/2014/04/menengok-perkembangan-peradapan-alat.html
Tenggok, gambar diambil dari http://m2indonesia.com/travel/berbagai-kreasi-kerajinan-tangan-tradisional-jawa-tengah-masih-ingatkah-kita.htm
Tenggok, gambar diambil dari sini

Tak hanya anak kecil, banyak pula saingan kami dalam ngasak ini, yaitu para ibu. Puas sekali rasanya jika tenggok kecil saya penuh. Alamat besok pagi-pagi saya bisa ke pasar, menjual hasil ngasak saya. Uangnya bisa dimasukkan ke dalam celengan ayam, persiapan untuk beli baju saat lebaran.

Selepas SMP, saya tak pernah lagi merasakan keasyikan ngasak. Karena para petani sudah menggunakan alat yang lebih modern untuk merontokkan bulir-bulir padi. Ani-ani tak digunakan lagi. Pohon padi di babat sampai ke bawah, jarang sekali ada yang tersisa.

Kemarin, saya menemukan kembali keasyikan ngasak. Kali ini bukan tanaman padi, melainkan kubis. Ya, kubis yang selesai ditanam sebulan yang lalu, lahannya masih tetap dibiarkan saja, belum diolah kembali oleh pemiliknya.

Tanaman kubis yang selesai di panen, menyisakan sedikit batang dan akar yang kuat
Tanaman kubis yang selesai di panen, menyisakan sedikit batang dan akar yang kuat

Nah, rupanya si pemilik lahan belum hendak mengolah sawahnya lagi, sehingga tanaman kubis itu akhirnya malah tumbuh subur tersiram hujan. Tunas-tunas baru mulai tumbuh, para petani menyebutnya siwilan. Bentuknya mirip daun sawi.

Tunas kubis
Siwilan (Tunas kubis)

Menurut beberapa ibu yang saya temui sedang ngasak disana, siwilan ini enak kalau di sayur, sehat karena tidak lagi menggunakan pestisida. Terprovokasi oleh ajakan ibu-ibu itu, jadilah ikut ngasak juga. Lumayan buat persediaan sayur beberapa hari. Sambil meti, membayangkan siwilan ini nanti akan di masak bersama mie instan dan juga telur rebus. Bayangin mie instan, jadi lebih bersemangat untuk memetiknya, tak terasa sampai dapat satu kantong kresek.

IMG_20160125_151757

Sudah dapat bahan, waktu juga sudah sore, saatnya pulang. Pas sampai rumah, ternyata nggak ada persediaan mie instan. Ya sudahlah, ditumis saja. Bumbu bawang merah, bawang putih, cabe dan sedikit garam. Ditemani nasi yang masih panas mengepul, nikmaat…

Iklan

17 thoughts on “Ngasak, Mengorek yang Tersisa

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s