WisataKu

[Trip] Sorong

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 16-18 Februari, saya dapat tugas untuk survey ke salah satu SMK di Kota Sorong, Papua Barat. Pesawat dari surabaya jam 20.35, nyampe Makassar jam 23. sekian menit. Penerbangan ke Sorong sekitar jam 03. sekian menit dini hari. Jadilah malam itu “ngemper” di ruang tunggu bandara.

Saat “ngemper” ini lah, saya dapat kenalan bule dari Perancis. Namanya Seh Van, begitu dia melafalkan namanya, kalau tulisannya entah begitu atau bukan. Orangnya asyik di ajak ngobrol. Ini adalah kali ketiga dia berkunjung ke Indonesia. Pertama ke Bali, kedua ke Lombok, dan yang ketiga ini, dia mau ke Raja Ampat. Kami bertukar cerita tentang pekerjaan, pengalaman travelling dan juga tentang keluarga. Kaget dia waktu saya bilang, saat itu saya meninggalkan bayi yang baru berusia 4 bulan. Duh, bikin saya merasa bersalah kembali ninggalin okto di rumah. Satu pertanyaannya yang membuat saya gelagapan menjawab “kenapa belum pernah ke Bali?” sementara banyak sekali orang dari luar negeri ingin mengunjungi Bali. Padahal saya terhitung dekat posisi tempat tinggalnya dengan Bali. Kami berpisah saat panggilan boarding datang.

 

Sampai bandara Domine Eduard Osok, Sorong masih pagi. Sekitar setengah 7. Tadinya saya berniat mau mandi di bandara saja, terus langsung menuju sekolah yang harus saya survey. Tapi mata saya pedih, butuh dipejamkan walau sejenak. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari penginapan. Keluar bandara, banyak pengemudi taksi dan ojek yang menawarkan untuk mengantar. Saya tanya ke salah satu sopir taksi, berapa tarif mengantar ke hotel, katanya 100 ribu. Waduh kok mahal. Akhirnya saya pilih naik ojek dengan tarif 20 ribu. Walau dibayarin negara, kalau emak-emak tetep aja maunya ngirit. Dan berapa jauh 20 ribu itu mengantar saya? Hehe… saya tersenyum sendiri, senyum kecut. Naik ojek, keluar bandara, nyeberang jalan, terus nggak sampai 100 meter udah nyampe di hotel. Seandainya tahu, mending saya jalan kaki aja! Dan saya benar-benar jalan kaki saat pulangnya. Jalan kaki dari hotel ke bandara.

Jam 8 an, saya keluar dari hotel. Cek di google map, jarak hotel dan sekolah sekitar 1,5 km. Maka saya memutuskan untuk jalan kaki saja. Itung-itung olah raga. Tidak susah menemukan jalan menuju sekolah dari hotel. Tak lama, saya sudah sampai di sekolah yang saya tuju. Pertama, saya ketemu guru piket, menyampaikan maksud saya untuk bisa bertemu dengan kepala sekolah. Saya disarankan untuk langsung menuju ruang kepala sekolah saja.

Ketemu kepala sekolah, saya sampaikan maksud kedatangan saya. Lalu kepala sekolah memanggil kepala program studi dan beberapa guru. Kami lalu membahas beberapa hal dan mengisi beberapa lembar dokumen yang berkaitan dengan survey yang saya lakukan. Sekitar jam 9 pekerjaan saya selesai. Yeay… bisa pulang. Ada pilihan pesawat kembali ke surabaya, jam 10.45 dan jam 13.45. Tapi berhubung badan saya rasanya masih nggak enak karena semalam begadang, saya memutuskan untuk menginap semalam di Sorong. Pulangnya besok saja dengan pesawat paling pagi. Saya pun kembali ke hotel dan tidur. zzzzzzz…..

Jam 11 an, saya keluar hotel lagi. Niatnya cari makan sekalian melihat-lihat kota Sorong. Pertama saya naik ojek menuju pasar Remu. Pengen beli ikan asap. Ternyata semalam pasar remu baru saja mengalami kebakaran. Masih ada sisa-sisa asap bekas kebakaran. Kondisi pasar juga semrawut, sehingga tak leluasa saya melihat-lihat dan mengambil gambar. Setelah keliling dan beberapa kali bertanya, ketemu juga sama penjual ikan asap. Harga per ekor bervariasi. tergantung besar kecilnya ikan. Ada ikan tuna, tongkol dan ekor kuning. Ada yang harganya 10 ribu per ekor, ada yang 45 ribu. Saya beli yang menengah saja, 20 ribu per ekor. Minta di kemas rapi dalam kardus, karena besok mau masuk pesawat

img_20170217_094228

Dari pasar Remu, saya naik angkot. Kemana tujuannya? Nggak tahu hehehe… pokoknya naik aja. Ntar kalau ketemu hal menarik ya turun. Saya turun di Masjid raya kota Sorong dan juga di toko roti.

img_20170217_174624

Katanya kalau ke Sorong harus membawa oleh-oleh berupa bolu gulung abon. Jadi saya ke toko roti Billy bakery untuk membeli bolu abon. Roti abon gulung ini isi abonnya melimpah-limpah sampai keluar gulungan. terdapat beberapa varian rasa, antara lain abon tuna, abon sapi, abon ayam, coklat dan keju. Satu paket berisi 10 buah roti, bisa pilih variasi rasanya. Harganya 120 ribu.

abon

Puas keliling kota Sorong. Saya pun kembali ke hotel. Dari keterangan sopir angkot yang saya ajak ngobrol, penduduk Sorong itu kebanyakan adalah pendatang. Pendatang dari Sulawesi, Jawa dan Ambon. Sorong merupakan gerbang propinsi Papua Barat. Jika hendak berwisata ke Raja Ampat, maka para turis pasti transit dulu di Sorong. Ongkos naik angkot di Sorong, jauh dekat 5 ribu rupiah. Sementara kalau naik ojek, rata-rata 10 ribu rupiah. Lumayan murah lah menurut saya. Angkot di malang aja udah 4 ribu.

Iklan

24 thoughts on “[Trip] Sorong

  1. untungnya ada teman ngobrol dini hari di bandara, kalau nggak entah kayak apa betenya
    jauh ya surveynya sampai Sorong…
    jadi pengen ikut he.. he.., masa kecil sempat di sini mbak..
    baru2 ini terhubung lagi dengan teman2 Sorong …

Silakan meninggalkan jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s